MEDIA [Part 2]

FILM

Film, dalam konteks ini kita sebut sebagai produk. Kata film akan merujuk kepada istilah yang kita kenal dengan nama “sinema”, selanjutnya dengan kata ini kita tidak akan terlepas dengan apa yang disebut dengan “budaya”.

A. Film Bisu

roundhay garden scene (Louis Le Prince)
roundhay garden scene (Louis Le Prince)

Film bisu adalah perkembangan media yang dianggap murni sebagai seni visual (tanpa audio) sepanjang abad ke-19. Disini film bisu mempunyai keunggulan: sangat membangun imajinasi penonton. Pada perkembangan selanjutnya, pada awal abad ke-20, dimulailah pengembangan struktur naratif. Selanjutnya pemutaran film bisu diiringi oleh musik secara langsung oleh piano atau orkestra (seperti konser). Hal ini dilakukan karena belum ditemukannya teknologi yang dapat memadukan visual dengan audio. Ini lah awal munculnya inisiatif pembuatan original soundtrack. Apabila sebelumnya sebuah lagu yang telah ada akan dimainkan (dengan menyesuaikan lagu dengan film: lagu yang telah diciptakan oleh para komposer terdahulu dipotong-potong dan diambil bagian yang sesuai dengan film) untuk pemutaran sebuah film, saat zaman mulai berkembang: para seniman musik dan film kemudian dengan sengaja membuat lagu khusus untuk sebuah film (yang temanya disesuaikan).

B. Film bersuara (talkies)

The Jazz Singer
The Jazz Singer

Pada tahun 1920, ditemukan teknologi yang memungkinkan untuk memadukan audio dengan visual. Menurut wikipedia, film bersuara (sound film “talkies“) adalah gambar bergerak dengan suara yang tersinkorniasasi, dalam arti lain adalah film, yang dengan menggunakan teknologi, dapat memadukan suara dengan gambar-gambar yang bergerak, berbeda dengan film bisu yang terdahulu [wikipedia].

Film pertama yang menggunakan suara adalah The Jazz Singer produksi Warner Bros yang ditayangkan pada tahun 1927 di New York. Kalimat pertama film tersebut adalah “Wait a minute, you ain’t heard nothing yet.” [VHRmedia, akses dari: http://www.vhrmedia.com/Film-Bersuara-Pertama-tahukah-anda302.html%5D

Dalam sejarah (yang saya cari secara acak di google), Indonesia adalah salah satu negara pertama di Asia yang mulai memuat film bersuara [info lebih lanjut klik di sini!]

______ _____________ ________

Dziga Vertov
Dziga Vertov

Perlu untuk kita ketahui, karena kita membicarakan tentang perkembangan media: film, bahwa seorang sutradara berkebangsaan Soviet (sekarang Rusia), Dziga Vertov (1896-1954) telah melakukan suatu aksi yang mendorong gerakan perubahan dalam dunia perfilman. Menurut Vertov, sinema dan film bisa dilihat dari perspektif seni. Untuk menegaskan pernyataannya itu, Vertov membuat manifesto “Kino Eye” (namun menurut sejarah, manifesto “Kino Eye” ini mendapat banyak kritikan dan sanggahan dari berbagai pihak dalam perfilman dunia. Untuk informasi tentang kritikan “Kino Eye” ini saya dapatkan dari wikipedia).

Manifesto “Kino Eye” oleh Vertov:

“Kesadaran dan bawah sadar penonton”

Kita bangkit melawan persekongkolan “sutradara sihir” dan publik yang terjebak pesonanya.

Kesadaran kita sendiri sanggup melawan segala macam pengaruh sihir.

Kesadaran kita sendiri bisa membentuk manusia dengan keyakinan dan pandangan yang pasti.

Kita perlu pribadi yang sadar, bukan massa yang tak sadar, pribadi yang siap berteriak menentang segala sihir.

Hidup kesadaran sejati barang siapa yang bisa melihat dan mendengarnya.

Hancurlah tabir wangi ciuman, pembunuhan, darah dan muslihat menghiba-hiba.

Hidup kaum tersadar.

Hidup Kino Eye

[tulisan manifesto ini saya dapatkan waktu mengikuti kuliah di Forum Lenteng]

A street in the morning
Opening shot
Opening shot

Vertov menempatkan sinema sebagai sebuah kultur baru dalam perkembangan kesenian dunia. Pada tahun 1929, Vertov membuat sebuah film dokumenter berjudul “Man With A Movie Camera“. Meskipun menuai banyak kritik, film ini memicu ekperimental medium dalam karya seni dunia.

n this shot, Mikhail Kaufman acts as a cameraman risking his life in search of the best shot
In this shot, Mikhail Kaufman acts as a cameraman risking his life in search of the best shot

Saya sempat menanyakan maksud dari manifesto “Kino Eye” kapada fasilitator forum lenteng. Dia menjelaskan bahwa dalam manifestonya, Vertov menegaskan bahwa agar kita manusia sadar akan kegunaan yang sebenarnya dari sebuah media (film). Dalam arti lain, hal itu bisa menjadi senjata kita, yang mana seharusnya kita bisa berbuat lebih dari sekadar membuat gambar-gambar (dalam hal ini merujuk kepada perspektif seni), dan selain itu kita juga jangan dengan mudah tertipu dengan permainan kamera, karena pada dasarnya dengan kamera (alat atau senjata ini) manusia bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin (lebih dari yang kita duga).

“Man With A Movie Camera” (1929)

Dalam wikipedia, dijelaskan mengenai “Kino Eye” (Cine-Eye) secara singkat, berikut petikan dari wikipedia tersebut:

In the face of the machine we are ashamed of man’s inability to control himself, but what are we to do if we find the unerring ways of electricity more exciting than the disorderly haste of active people … (Dihadapan sebuah mesin, kita adalah manusia yang malu akan ketidakmampuan dalam mengontrolnya, tetapi apa yang kita lakukan jika menemukan cara yang tepat dalam memanfaatkan listrik (alat) lebih mengasyikkan daripada orang-orang yang tergesa-gesa…)

“I am an eye. I am a mechanical eye. I, a machine, I am showing you a world, the likes of which only I can see” Dziga was quoted as saying. (Aku adalah sebuah mata, aku adalah adalah mata yang seperti mesin. “Aku, sebuah mesin, Aku perlihatkan kepada kalian sebuah dunia, yang hanya aku lihat” ungkap Vertov)

________

Sinema sebgai bahasa seni

Pada masa selanjutnya, sinema memiliki dua arah yang berbeda satu sama lain. Yang pertama adalah untuk keperluan “industri hiburan”, dan yang kedua adalah sebagai “karya seni”

Ad.Industri hiburan: Pada tahun 1920-an, Industri film Eropa berkembang dengan pesat (hal ini terjadi di sela-sela Perang Dunia I). Di saat yang bersamaan, berkembang Hollywood di Los Angeles (berbicara tentang Hollywood, kita tidak akan lepas dari nama-nama: D.W Griffith (AS), Charlie Chaplin, dan Buster Keaton). Pada PD I, Eropa hancur, ini menyebabkan sutradara-sutradara di Eropa pindah ke Amerika (Hollywood). Nama-nama sutradara tersebut antara lain adalah FW Murnau, Fritz Lang, dan Sergei Eisenstein.

____

Neorealisme Italia

salah satu adegan dalam Bicycle Thief
salah satu adegan dalam Bicycle Thief
salah satu adegan dalam Bicycle Thief
salah satu adegan dalam Bicycle Thief

Pada masa-masa perang tersebut (PD I dan PD II), muncullah suatu paham dalam dunia perfilman, yaitu Neorealisme Italia. Aliran ini muncul atas analisa dari para pengamat dan pembuat film terhadap film-film yang diproduksi pada masa itu. Nama-nama pengamat itu antara lain adalah Michelangelo Antonioni, Luchino Visconti, Gianni Puccini, Cesare Zavattini, Giuseppe De Santis, dan Pietro Ingrao. Mereka berkumpul dan membuat sebuah majalah bernama “CINEMA”. Mereka menganalisa dan mengamati film-film yang diproduksi pada masa setelah PD II, melihat tema dan persaman ciri dalam pembuatan film, konsep dan bahasa film, serta cara berkarya dengan unsur sastra (bukan dari dialognya, tetapi dari penampilan visualnya) dalam film tersebut, kemudian menamakan film-film pada masa itu dengan sebutan aliran neorealisme italia.

salah satu adegan dalam La Strada
salah satu adegan dalam La Strada
salah satu adegan dalam La Strada
salah satu adegan dalam La Strada

Berbicara tentang Neorealisme Italia ini, saya pernah mendengar sejarahnya dari salah seorang aktivis di Forum Lenteng, yang mengatakan bahwa film-film yang dibuat pada masa itu hanya berbekal kamera dan langsung terjun ke lapangan. Film itu mengambil gambar secara real (langsung apa yang ada di lapangan) tanpa menggunakan artis film (yang sangat sering kita jumpai pada pembuatan film zaman sekarang). Aktor dan aktris yang memerankan tokoh dalam film diambil dari penduduk asli di mana film itu dibuat. Pada masa itu, keadaan ekonomi masyarakat Eropa sangat lah susah (karena perang) sehingga para seniman film berusaha mengangkat kamera dan membuat film dengan peralatan seadanya dan secara tidak langsung memperlihatkan keadaan masyarakat pada masa itu. Film-film neorealisme italia ini kemudian menjadi film yang dianggap penting dalam sejarah perfilman. Contoh-contoh film dengan gaya neorealisme italia ini antara lain adalah The Bicycle Thief dan La Strada

Pesan-pean politik yang tidak terpisahkan dari film gaya Neorealisme Italia:

secara ideologis:

  • semangat demokratik baru, yang menekankan nilai orang-orang biasa
  • sudut pandang simpatik dan penolakan terhadap penilaian moral singkat
  • pendudukan kembali masa lalu fasis Italia dan kerusakan akibat perang
  • percampuran akan Kristen dan Marxis Humanis
  • mementingkan emosi dibanding ide-ide abstrak

secara statistik/bentuk:

  • penghindaran alur cerita yang teliti agar lebih bebas, struktur episode yang berkembang secara organik
  • gaya visual dokumenter
  • penggunaan lokasi sebenarnya—biasanya eksterior—dibanding ruang studio
  • penggunaan aktor dan aktris amatir, bahkan untuk peran utama
  • penggunaan tuturan perbincangan bukan dialog sastra
  • penghindaran pemalsuan dalam penyuntingan, kerja kamera dan pencahayaan untuk gaya minimalis

_______

Jean-Luc Godard's New Wave film Breathless (1960)
Jean-Luc Godard's New Wave film Breathless (1960)

Pada tahun 1960-an, terjadi aksi penolakan terhadap studio (yang dilakukan oleh para seniman film) dalam memproduksi dan membuat gaya filmnya. Pada masa ini, orang-orang membuat film lebih memilih keluar dari studio (karena terpengaruh oleh gaya Neorealisme Italia):

Selanjutnya terjadi kebangkitan sekolah film di Amerika dan Eropa, yang mendidik pembuat film independen dan sudah mulai ada penggunaan teknologi digital (yang terjadi pada tahun 1990-an).

Bersambung ke MEDA [Part 3]

Author: Manshur Zikri

Penulis

10 thoughts on “MEDIA [Part 2]”

  1. Informasinya lengkap sekali sehingga semakin menambah wawasan saya.
    Saya senang melihat dibelakang layar sehingga tahu seluk-beluk sesuatu.
    Misalnya, setelah menonton Ketoprak Humor dengan duduk dikursi depan maka saya masuk ke belakang layar untuk mengetahui bagaimana suatu pagelaran itu di sutradarai dan pernak-pernik lainnya.
    Salam hangat dari Surabaya

    Like

    1. biasanya seseorang yang mengerti film, bukan melihat cerita/skenarionya,,
      kata pengajar saya di forum lenteng, seorang sutradara biasanya akan meracik berbagai pesan melalui gambar-gambar dan adegan yang memiliki makna tersirat, dan itu biasanya akan terbaca oleh pengamat tergantung dari pengetahuan yang dimilikinya. Jadi, klo anak TK yg nonton, mungkin dia hanya menganggap itu sebuah adegan lucu saja saat melihat seorang laki-laki terjatuh. Akan tetapi mungkin saja adegan itu mempunyai makna yang berkaitan dengan politik atau sosbudhankam dimata seorang kritikus handal..
      ya begitulah kira-kira..

      Like

  2. Salam,
    Tak ada yang salah dengan media yang salah adalah saat kita tersihir apalagi film lebih berbekas karena tersaji secara audiovisual karena itu ga semua media itu berisi kebenaran banyak juga sampah dijual disana. IMHO so watchout lah yaaw..btw berasa kuliah lagi well, informatif sangat, so trims bro. *OOT keknya ya

    Like

  3. wow sejarah cinema ya?!?!?! nice

    btw SEO itu singkatan dari search engine optimization, itu maksudnya tehnik untuk meningkatkan ranking kita di mesin pencari web seperti google, atau yahoo, atau MSN, jadi setiap kita mencari sesuatu di mesin pencari dan situs kita punya ranking yang bags di mesin pencari maka situs kita akan muncul diurutan pertama dari hasil pencarian tersebut!!!……ini beda dengan Page Rank dari google atau ranking alexa lho..

    jika mau mencari info lebih jelas coba saja di google search engine ketik “seo” psti banyak situs yg membahas mengenai ini……okeh selamat mencoba dan berbloger ria!!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s