Voltaire: Suratan Takdir

Judul Buku : Suratan Takdir

Judul Asli : Zadig ou la Destinée

Pengarang : Voltaire

Penerjemah : Ida Sundari Husen

Terbit : Bandung, Pustaka Jaya

Tahun terbit : 1995, Cetakan kedua

Tebal buku : 138

ISBN-2 : 979-419-071-3

Jenis buku : Sastra

"François-Marie Arouet"
François-Marie Arouet, atau dikenal dengan nama Voltaire

Di halaman kata pengantar yang ditulis oleh Ida Sundari Husen, dikatakan bahwa Voltaire, atau yang bernama asli François-Marie Arouet, merupakan seorang pengarang besar Perancis abad ke-18, dikenal diseluruh dunia, disamping pengarang terkenal lainnya seprti Montesquieu (Trias Politica) dan Rousseau (Contrat Social). Sifat-sifat dari gagasan yang diberikan oleh Voltaire adalah sangat universal dan masih tetap aktual untuk masalah-masalah masa kini.

Dia sangat membenci suatu bentuk kefanatikan, dan menilai bahwa diskusi filsafat dan keagamaan terlalu bertele-tele sehingga tidak masuk akal dan mengabaikan masalah-masalah manusia yang utama. Voltaire sangat mencintai hal-hal yang berkaitan dengan perjuangan keadilan sehingga hal itu tercermin dalam karya-karyanya. Pandangan hidupnya sangat praktis dan realistis, dan hal itu dibuktikan dengan jalan membina dan mengembangkan sebuah desa kecil bernama Ferney, dari desa yang sepi menjadi desa industri kecil yang aktif.

Karena karya-karyanya yang sangat hebat, Voltaire diangkat menjadi anggota Académie Françaice, yaitu Dewan Kesenian Prancis yang didirikan oleh Richelieu pada tahun 1635 dengan 40 orang anggota, yang diangkat untuk seumur hidup dan terdiri dari penulis-penulis yang telah menunjukkan prestasi tinggi. Pada tahun 60-an, salah satu karyanya, Candide ou l’Optimisme, ‘Candide atau Optimisme’ pernah difilmkan. Pada tahun 1988, gagasan-gagasannya diramu dalam suatu tulisan berjudul Voltaire’s folie kemudian dipertunjukkan di Paris selama berbulan-bulan.

Menurut saya pribadi, ciri khas dari Voltaire sendiri dalam menulis cerita Suratan Takdir adalah bahasanya yang disajikan dengan sangat sederhana, namun memancing pembaca untuk memikirkan setiap katanya. Pada buku cetakan kedua ini, disajikan pula beberapa catatan kaki yang berfungsi untuk pembongkaran makna tersirat dari cerita tersebut. Alur cerita yang disampaikan tidak bertele-tele. Pembukaan cerita tidak disampaikan dengan begitu banyak deskripsi dan pengantar, yang memungkinkan pembaca merasa bosan ataupun mengantuk saat membaca cerita, melainkan disampaikan apa adanya dan langsung kepada pokok cerita sehingga pembaca tidak merasa bosan. Selain itu, dalam penyampaian cerita, Voltaire menulis seperti menyampaikan cerita kepada seorang anak, dan cara menyampiakannya itu seolah-olah menghipnotis pembaca untuk enggan meletakkan buku itu sebelum cerita itu selesai dibaca. Hal ini menjadi kekuatan gaib yang dimiliki oleh Voltaire, sekali lagi ini menurut pendapat pribadi saya.

Saat membaca buku ini, kesan yang didapat adalah suasana dimana kehidupan masyarakat bangsa Perancis dulu ada. Saya merasakan hal itu saat membaca kalimat demi kalimat dalam cerita ini. Suasana kerajaan, kehidupan kerajaan yang penuh dengan muslihat, cinta dan perasaan cemburu, serta kebaikan hati yang dimiliki oleh Zadig serta pencarian jati dirinya, sangat terasa seperti nyata. Seperti yang dijelaskan bahwa cerita ini sangat menghipnotis.

Dalam cerita ini, Voltaire juga banyak mengutip tentang kitab Zoroaster, yang oleh Ida Sundari dijelaskan bahwa ia mengkritik dan menyindir orang-orang yang selalu saja membanggakan diri dengan ilmu pengetahuan yang mereka punya (sombong) dengan mengutip berbagai buku dan kitab-kitab.

Cerita Suratan Takdir ini bermula saat Zadig, seorang pemuda yang tampan, kaya, dan dermawan, memadu kasih dengan seorang wanita yang jelita bernama Semira. Akan tetapi Semira pergi meninggalkannya saat Zadig divonis akan mendapatkan kecacatan (mata picak) karena luka yang didapatnya saat berusaha menyelamatkan Semira dari gangguan anak buah Orcan. Semira tidak ingin menikahi seorang pemuda bermata picak. Zadig akhirnya menikahi seorang gadis biasa bernama Azora, yang diyakininya mencintainya bukan karena materi, fisik, dan kekayaan. Namun Azora juga sulit untuk dipahami jalan pikirannya yang sempit sehinga Zadig menceraikannya. Zadig akhirnya memilih belajar untuk mencintai alam. Singkat cerita, karena keuletan dan kepintarannya, Zadig menjadi seorang perdana menteri yang dicintai rakyatnya. Sang Raja sangat kagum padanya sehinga memberikan jabatan itu kepadanya. Akan tetapi malapetaka datang saat kisah cinta segitiga antara Raja, Ratu dan Zadig terjadi. Sang Ratu Astarté jatuh cinta kepada Zadig, begitu juga dengan Zadig yang mencintai Ratu lebih dari apapun. Raja mengetahui hal itu, sehingga berniat akan menghukum mati Zadig. Dengan bantuan Sang Ratu, Zadig berhasil kabur dari tentara kerajaan dan bebas dari hukuman.

Cerita terus berlanjut, Zadig berkelana ke berbagai negeri, bahkan dirinya pernah mengalami menjadi seorang budak. Setelah beberapa lama, dia mendengar kabar tentang kerajaan tempat dia tinggal dulu, bahwa kerajaan itu telah hancur, dan dikuasai oleh tangan yang tidak berhak menduduki kerajaan tersebut. Sang Raja mati dan Sang Ratu tidak diketahui dimana keberadaannya. Akan tetapi, nasib mempertemukan Zadig dengan Sang Ratu kembali. Kamudian dengan segala cara dan usaha, Zadig dapat membantu mengembalikan tahta kepada Sang Ratu. Selanjutnya, Zadig mengikuti kompetisi untuk mendapatkan hak menjadi raja dan mendampingi sang Ratu.

Hal yang paling penting dalam cerita ini adalah pertemuan Zadig (dalam masa pengasingannya) dengan seorang pertapa yang ternyata adalah seorang malaikat. Dalam bab inilah disampaikan inti dari seluruh cerita, yaitu tentang suratan takdir yang telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta. Kita sebagai manusia yang lemah sebenarnya tidak mempunyai hak untuk memprotes, tetapi sebaliknya kita seharusnya bersykur kepada Yang Maha Pencipta. Ada petikan kalimat yang sangat berarti bagi saya pribadi (dan saya rasa dalam kalimat itu tersirat berbagai pesan yang harus kita perhatikan), yaitu sebagai berikut:

“Manusia memberikan pendapat tentang segalah hal, tanpa mengetahui masalah yang sebenarnya sama sekali…” (Voltaire, Zadig ou la Destinée, 1747. Terjemahan: Suratan Takdir, 1995: 128)

Buku ini juga memiliki keunggulan lain, yaitu penerjemahan bahasa yang dilakukan oleh Ida Sundari sangatlah bagus. Dialog yang disajikan mudah dicerna dan tidak membosankan. Ditambah lagi ada keterangan tambahan footnotes dan endnotes, yang menjadikan buku ini bukan sekedar cerita belaka, melainkan juga menjadikannya sebagai karya sastra yang memiliki banyak bahan renungan dan pembelajaran.

Saat saya membaca buku ini, saya tidak menemukan adanya kesalahan cetak pada kalimat ataupun kata dan halamannya. Penyajian novel oleh penerbit bisa dikatakan sangat maksimal. Selaini itu, novel ini sangat cocok bagi semua umur, karena tidak mengandung unsur kekerasan (keseluruhan cerita diracik sedemikan rupa dengan baik sehingga tidak ada kegamblangan yang dapat memberikan efek buruk kepada anak-anak) malahan bisa menjadi referensi untuk belajar sastra dan sejarah.

Author: Manshur Zikri

Penulis

6 thoughts on “Voltaire: Suratan Takdir”

  1. cara menyampiakannya itu seolah-olah menghipnotis pembaca untuk enggan meletakkan buku itu sebelum cerita itu selesai dibaca

    gawat deh, kerjaan bisa terbengkalai, ga mandi, lupa makan, lupa minum..
    kalo jaman sekolah sih biari, kl sekarang bisa kena SP..
    kaya nya baca ini harus ambil cuti dulu kali yeh..
    :p xixiiii

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s