Atribut Suku Bangsa dalam Keluarga Batih dan Keluarga Besar

Nama saya adalah Manshur Zikri. Seorang anak laki-laki dari keluarga suku Minangkabau. Ayah saya lahir di kota Pekanbaru, Riau, sementara ibu saya lahir di kota Jakarta. Akan tetapi keluarga saya lebih mengenal budaya Minangkabau dan dianggap sebagai identitas budaya dalam keluarga besar karena nenek dan kakek saya adalah orang Sumatera Barat asli. Kakek dari pihak ibu lahir di sebuah daerah dekat kota Pariaman yang dikenal dengan nama Sicincin, sementara nenek dari pihak ibu lahir di kota Pariaman, kampungnya bernama Kampuang Paneh. Kakek dan nenek dari pihak bapak lahir di kota Pariaman juga di kampung Kurai Taji.

Keluarga batih (ayah, ibu, dan saudara kandung) tinggal di kota Pekanbaru. Di rumah itu juga tinggal nenek dari pihak ibu. Sekarang saudara sulung saya, kakak perempuan saya, dan saya merantau ke kota Jakarta untuk menuntut ilmu. Yang tinggal di Pekanbaru adalah ayah, ibu, saudraa laki-laki saya yang kedua, dan adik sulung saya.

Dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tinggal di daratan melayu (Riau), keluarga kami tetap membudayakan bahasa kampung (mother language atau mother tongue). Kami menggunakan bahasa minang dalam berkomunikasi. Akan tetapi ayah dan ibu saya tetap mengajarkan dan menanamkan sebuah doktrin dalam diri saya untuk mencintai bahasa Indonesia, meskipun kurang terwujud dalam praktiknya. Dalam keluarga yang lebih besar, biasanya saya dan saudara-saudara saya menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan sanak, paman, dan bibi. Hal itu disebabkan oleh sebagian besar saudara sepupu saya tinggal di kota Jakarta, dan yang sangat saya sayangkan adalah mereka tidak mengenal bahasa minang dengan baik. Tapi berbeda apabila saya harus berkomunikasi dengan saudara-saudara jauh yang berada di kampung halaman (Sumatera Barat). Dalam hal ini, mungkin pihak keluarga saya lah yang akan dikataran tidak mengenal bahasa minang dengan baik. Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh bahasa melayu Riau karena kami tinggal di kota Pekanbaru.

Keluarga saya sangat menjunjung apa yang dinamakan seni. Dan darah seni juga mengalir dalam keluarga saya. Kakek saya adalah seorang seniman lukis. Seorang paman saya saat ini juga berprofesi sebagai seorang seniman seni rupa. Darah seni dari kakek saya itu turun ke cucu-cucunya. Saudara sepupu saya juga mempunyai bakat dibidang seni lukis dan sekarang sedang sekolah seni rupa di Singapura. Saya pribadi juga menyukai seni, tetapi seni yang saya gemari adalah seni musik. Dalam adat Minangkabau, dikenal sebuah alat musik yang bernama saluang. Ayah saya bisa memainkan alat ini. Dia pernah memperlihatkannya kepada saya waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Dalam keluarga saya ditanamkan paham bahwa menuntut ilmu adalah hidup. Ajaran ini juga tertanam dalam pikiran dan hati paman-paman dan bibi-bibi saya karena diajarkan oleh kakek saya. Ibu saya pernah bercerita tentang kakek saya yang berkata bahwa kalau kita mempunyai ilmu yang cukup, rezeki dari Tuhan tidak akan kemana. Orang yang berilmu dan beriman dan bertakwa akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Dari kecil kami saudah diajarkan untuk berpikir secara terbuka. Paksaan tidak dikenal dalam keluarga kami. Dalam memilih bangku sekolah (waktu saya dan saudara saya ingin masuk SMP, SMA dan Universitas), orang tua dan paman-paman serta bibi-bibi saya tidak pernah memaksa kami harus masuk sekolah tertentu. Kami hanya diberi pandangan dan bimbingan, dan pada akhirnya kami lah yang akan menentukan. Selain itu, sejak kecil kami juga sudah ditanamkan paham bahwa sekolah ataupun menuntut ilmu bukan memiliki tujuan untuk mencari atau mendapat pekerjaan yang layak, melainkan sebagai modal hidup agar tidak bergantung kepada orang lain dan juga sebagai tuntutan ajaran dari agama Islam yang mewajibakan umatnya untuk mencari ilmu.

Sistem mata pencaharian yang diterapkan oleh keluarga saya secara merata adalah berdagang. Ayah saya adalah seorang pedagang tepung dan juga membuka usaha warung internet yang bekerja sama dengan koperasi RW 03, Jadirejo, Pekanbaru. Mesekipun ibu saya adalah seorang pegawai negeri sipil, bibi-bibi saya berprofesi sebagai guru, tetapi sebagian besar paman-paman saya adalah pengusaha. Dalam adat minang diajarkan bahwa seorang pemuda hendaklah dia merantau ke negeri orang karena dia dianggap belum berguna di negeri sendiri. Apabila dia telah mapan dan mempunyai cukup bekal, hendaklah dia ingat dengan kampung halaman, pulang dan bangun negeri sendiri untuk lebih maju. Biasanya saat merantau ini, para perantau dari Minangkabau menjadi seorang pedagang sebagai mata pencaharian. Oleh karenanya orang-orang Sumatera Barat dikenal sangat lihai dalam hal tawar-menawar (berdagang).

Dalam keluarga Minangkabau, hukum adat sangat dijunjung tinggi. Semua masalah yang dihadapi oleh keluarga akan diselesaikan secara musyawarah mufakat yang dilakukan oleh para Niniak Mamak (orang yang dituakan atau orang yang dianggap sebagai yang paling intelektual dalam keluarga). Meskipun dalam hukum adat Minangkabau yang mengatakan bahwa garis keturunan di lihat dari garis ibu, tetapi tetap saja yang menjadi kepala dalam keluarga adalah laki-laki. Dan biasanya menantu yang tinggal di rumah gadang (tinggal bersama isteri dan mertua) dianggap sebagai anak yang nantinya diharapkan akan menjadi Niniak Mamak dalam keluarga besar tersebut. Paparan tersebut adalah bagaimana hukum adat Minangkabau semestinya. Sekarang saya akan melihat lebih spesifik kepada keluarga saya. Rumah saya yang ada di kota Pekanbaru memang bukanlah rumah adat Minangkabau (rumah gadang) melainkan hanya sebuah rumah panggung dari kayu kulim yang sekarang umurnya sudah hampir empat puluh tahun. Ayah saya yang merupakan menantu tinggal dirumah itu begitu juga dengan kami anak-anaknya. Dan seperti pengamatan saya, selain paman-paman saya yang tinggal di Jakarta, ayah saya juga turut andil apabila ada musyawarah mufakat keluarga, meskipun belum bisa dibilang sebagai Niniak Mamak.

Selain hukum adat, dalam keluarga saya juga memegang teguh hukum agama. Bahkan ayah saya pernah bilang bahwa apabila seorang Minangkabau meninggalkan agamanya, maka dia juga harus meninggalkan atribut “minang”-nya dari kata “minang kabau” sehingga yang tinggal hanyalah “kabau”-nya saja yang berarti kerbau. Dan tentu saja, dalam tradisi Minangkabau agama yang sangat berpengaruh adalah agama Islam. Bahkan beberapa aturan dari hukum adatnya diadaptasi dari hukum Islam.

Salah satu contoh atribut suku bangsa tentang nilai religi (agama) dalam keluarga saya adalah saat saudara sulung saya sunat. Pada saat itu diadakan syukuran dan makan bersama yang selama sehari itu rumah kami selalu diiringi dengan sholawat nabi. Contoh lain adalah dalam keluarga batih saya. Apabila salah satu anggota keluarga kami berulang tahun, bukan perayaan besar-besaran yang diadakan melainkan acara syukuran, yaitu wujud syukur kepada Allah swt. Acara itu hanya diikuti oleh seluruh anggota keluarga batih tanpa mengundang orang lain dan acara yang dilaksanakan hanyalah berupa acara makan bersama dan ucapan selamat kepada anggota keluarga yang ulang tahun tersebut. Apabila dilihat dalam konteks keluarga besar, nilai-nilai religi (agama) ini dapat dilihat dalam acara-acara syukuran yang melibatkan semua keluarga. Contohnya adalah acara “mendoa” waktu nenek dari pihak ibu saya akan naik haji. Acara itu dilaksanakan saat saya masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Dalam acara itu saya melihat dan mendengar sholawat nabi, doa-doa selamat, dan ceramah agama. Dalam acara itu juga diundang saudara-saudara jauh, tetangga serta handai taulan dan jemaah masjid. Selain doa-doa dan ceramah agama, tentu saja acara ini juga merupakan acara makan bersama, tetapi tetap tidak secara berlebihan. Contoh lain adalah halal-bihalal tujuh hari setelah bulan puasa. Saya pernah menjadi Qori untuk membacakan ayat suci Al-qur’an dalam acara tersebut. Acara ini merupakan acara untuk mempererat silaturahmi keluarga besar. Terkadang acara ini juga dimeriahkan dengan acara pengundian “jula-jula”, sejenis arisan ibu-ibu, tetapi peserta yang boleh ikut tidak terbatas umur.

Author: Manshur Zikri

Penulis

5 thoughts on “Atribut Suku Bangsa dalam Keluarga Batih dan Keluarga Besar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s