Kain Lap Dekil

puisi, karya : Tooftolenk Manshur Zikri

Dengan lelah dia duduk di samping

“Wong saya taaahhuuu, kok, dia sedang bermuak ha… !”

“Wong saya taaahhuuu, kok, dia sedang bermuak ha… !”

“…kan kah sudah saya bilang jangan mulai bertingkah tanpa awal pi…”

“…kir a-kira bisakah saya sedikit bernapas lega?”

Buk, tak menghitung pasir daku,

macam pengemis hina bahwa kumemohon, Mah… !
…Cam, orang bodoh pun……
nya li …………………………. hilang begitu saja!!!
………..ma kelemahan tak bisa dihindarkan.
Ku tak bisa meninggi lagi,
merendah kucoba, lelah karena pikir malah hasil yang kutumpuk,
hati yang keras itu pun tak hancur-han……
cur ahan penyesalan sudah kuhabiskan seketi……
ka rena mengaku salah itu memang tidak mu……
dah an paling kuat pun suatu saat akan mati dan menyentuh bumi.

Tuh, dia mengeluh, aku tertawa karena aku sedang bahagia !!!

“…susah sudah aku menyandang alat petik berat dalam gubuk tak bera…”

“…tap i dikau punya cita-ci…”

“…ta pi napsu dan emosi terus mengu…”

“…ji ka dikau lebih bisa berpikir, mung… ?”

“…kin i aku bisa buat a… ?”

“…pa kai otak dan hatimu, tetapi bukan untuk menye… !”

“…sal ah pun harus ada yang dibayar oleh sebabnya.”

Dia pulang dengan bahu lemas dan kepala tertunduk

meninggalkan kain lap dekil.

Juni, 2009

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s