Bukan Belakang Depan, tetapi Sekarang

puisi, karya : Tooftolenk Manshur Zikri

Belakang, aku merasakan getaran semangat di tengah lapangan saat pertama kali pelangi itu dengan cahayanya menerpa wajahku.Belakangan, aku merasakan pedihnya tangis kekalahan saat pelangi itu hilang lenyap disaat yang tidak tepat, jauh dariku.harapan bukan yang kubutuhkan, bukan?


Depan, lingakaran bergerak di muka terus dikejar untuk masuk dalam relung penuh nilai kemenangan.Kedepan, aku berharap kemenangan akan dapat diraih dengan hakiki karena pelangi baru akan segera datang setelah hujan.harapan kosong bukan yang kubutuhkan, bukan?


Sekarang, segala rintangan fakta yang akan terjadi sedang aku hadapi, dengan berbagai lawan tanding, dari nafsu, emosi, bahkan lingkungan baru dengan segala kondisi.Sekaranglah, aku merasakan kebahagiaan karena berada di tengah-tengah, beraksi dengan lebih berani karena pelangi yang kuharapkan datang lebih dini.yang kudapatkan sekarang bukan sekadar harapan, bukan?

Dengan semangat itu, aku, dia, kami, mereka, kita semua sadar,

bukan belakang, yang penuh kenangan tak diharapkan
ataupun depan, yang penuh dengan angan-angan tak tertahan
tapi sekarang, yang harus dihadapi untuk terus bertahan
Karena pelangi bersinar dengan menawan

Juni, 2009

Author: Manshur Zikri

Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s