featured

Workshop Literasi Media wepreventcrime Bersama Forum Lenteng

Tulisan ini sudah pernah dimuat di website akumassa, tertanggal 8 Februari, 2014.
_______________________________________________________________________

Melakukan-tinjauan-terhadap-hasil-rekaman-video-selama-proses-observasi-di-lapangan_02-copy

“Waktu pertama kali gue ngasih ide workshop literasi media, apa yang kepikiran sama lu?” tanya saya kepada Yanuar melalui chat facebook.

“Jujur, blank, Bang!” jawabnya. “Gue gak tahu apa-apa tentang literasi media. Sempet googling, itu kayak ngebahas beberapa poin penting, kayak bagaimana seharusnya media memberikan informasi yang baik, bagaimana mengkritisi media lain, dan lain-lain. Tapi, ya, itu… masih ngablu.”

Workshop-menulis_03

Hari itu, 7 Februari, 2014, Yanuar dan beberapa temannya: Meiki, Mela, Albert, Kaspo dan Akbar, berkumpul di Forum Lenteng untuk menyelesaikan karya dalam workshop literasi media yang mereka ikuti sejak tanggal 3 Februari, 2014. Kegiatan ini bekerja sama dengan Forum Lenteng. Otty Widasari, Koordinator Program akumassa Forum Lenteng, menjadi fasilitator, dibantu oleh saya sendiri, dan Muhammad Sibawaihi (anggota komunitas dampingan akumassa di Lombok Utara, Pasir Putih).

Membuat-laporan-melalui-gambar-copy

Yanuar dan teman-temannya itu adalah anggota wepreventcrime (biasanya disingkat WPC), dari Himpunan Mahasiswa Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Tahun ini, komunitas ini membentuk kepengurusan baru. Yanuar, yang sekarang menjabat sebagai pemimpin umum, berinisiatf untuk mengembangkan wawasan anggota WPC tentang media. Kerja WPC sendiri selama ini adalah mengelola media online berbasis webblog, wepreventcrime.wordpress.com, dan memproduksi Buletin Wepreventcrime. Harapannya, dengan bekal yang didapat selama workshop dengan Forum Lenteng, teman-teman WPC mampu melakukan aksi produksi dan distribusi pengetahuan kriminologi bagi seluruh lapisan masyarakat dengan lebih kreatif dan inovatif.

Workshop-menulis_02-copy

Pada workshop ini, media audiovisual adalah fokus utama yang menjadi kajian dan medium berkarya. Kegiatan ini nantinya akan memiliki output berupa teks, gambar (image) dan video. Oleh karena itu, di H-2, teman-teman WPC sibuk menyelesaikan karya tulis untuk jurnal, dan menyelesaikan suntingan karya video, yang akan dipresentasikan ke hadapan khalayak Forum Lenteng, pada tanggal 9 Februari, 2014.

Membuat-laporan-melalui-gambar_02-copy

Membuat-laporan-melalui-gambar_03-copy

Membuat-laporan-melalui-gambar_04-copy

Membuat-laporan-melalui-gambar_05-copy

Memetakan-lokasi-untuk-karya-video-dan-tulisan-copy

Lu lagi nulis tentang topik apa?” tanya saya lagi kepada Yanuar, mengganggu konsentrasinya menyelesaikan tulisan.

“Tentang signifikansi media audiovisual terhadap kriminologi, Bang,” jawabnya. “Ada referensi, gak, Bang?”

Tanpa menghiraukan pertanyaannya, saya lanjut bertanya, “Bagaimana cara lu melihat hubungannya?”

“Nah, itu dia, Bang!” kata Yanuar. “Kemarin Mbak Otty ngegabungin ide Albert sama tulisan gue. Albert ngusulin…menerapkan presumption of innocence dalam berita kejahatan…”

Observasi-lapangan-dengan-memanfaatkan-medium-video-copy

Orang-nyebrang-copy

Cukup lama saya menunggu, Yanuar melanjutkan pendapatnya, “Ya, gitu, Bang… gimanapengaruh audiovisual ke masyarakat, gimana audiovisual bisa diakses oleh banyak orang dan banyak alat, masuk ke ruang privat…”

Chat facebook Yanuar diam lagi. Beberapa saat kemudian, nongol lagi jawabannya: “Sementara kita sendiri kurang paham bagaimana harusnya menanggapi informasi yang masuk melalui media itu…di satu sisi, kita harus belajar menanggapinya, di sisi lain kita harus belajar bagaimana menghasilkan informasi yang sehat melalui media audiovisual itu.”

Sedikit banyak, pendapat Yanuar itu menggambarkan tentang bagaimana pentingnya kesadaran kita terhadap media, khususnya audiovisual. Video, terutama, pada era ini dianggap sebagai teknologi paling accessible bagi lapisan masyarakat mana pun untuk memproduksi informasi sendiri. Melalui medium teks, mungkin, ide-ide itu sulit tersampaikan dengan efektif dan efisien akibat kondisi sosial dan budaya masyarakat kita yang terbangun oleh budaya lisan. Melalui visual dan audio (suara), ide-ide itu lebih mudah ditangkap. Namun begitu, audiovisual juga merupakan bahasa. Mempelajari logika bahasa itu lah salah satu aspek penting dalam literasi media [audiovisual] yang dipelajari dalam workshop ini.

Workshop-menulis-copy

Dari chat facebook dengan Yanuar, saya melompat ke Albert, dan bertanya tentang idenya mengenai presumption of innocence yang menjadi topik tulisannya.

“Nah, itu, belum tahu, sih, Bang,” kata Albert. “Kalau pake yang kemarin, cerita yang kita baca tentang kereta itu, mungkin. Tapi yang ide itu juga belum ketemu.”

Cerita yang dimaksud Albert itu adalah sebuah tulisan di website akumassa, berjudul “Cerita Sebuah Perjalanan Bersama Kereta Bengawan” (Imam Rahmadi, 16 Februari, 2010). Imam menarasikan pengalamannya melihat sebuah peristiwa orang kehilangan uang di dalam kereta. Dari sudut pandangnya sebagai penumpang kereta, Imam memaparkan hal itu sebagai sebuah informasi dari warga biasa. Memang, dalam tulisannya tak terdapat unsur-unsur klarifikasi yang lebih jauh, sebagaimana yang biasa tersaji dalam tulisan-tulisan jurnalistik di media massa arus utama, atau standar penulisan karya jusnalistik investigasi. Pada workshop hari kedua, tulisan Imam cukup menjadi perdebatan. Sebab, dalam sudut pandang kriminologi (dan juga jurnalistik), klarifikasi informasi dengan narasumber yang jelas adalah sesuatu yang penting. Akan tetapi, letak polemiknya adalah tentang sudut pandang. Dalam konteks pengalaman Imam, pendapatnya sebagai warga biasa dalam menilai peristiwa itu juga merupakan informasi yang tak kalah penting. Imam, sejatinya, ikut andil bagi gerakan aktivisme jurnalisme warga, bahwa melihat persoalan kriminalitas melalui perspektifnya sebagai warga biasa, bukan penegak hukum dan bukan pula jurnalis profesional. Menanggapi metode yang digunakan Imam untuk tulisannya, Albert mencoba mengulas unsur ‘praduga tak bersalah’ dalam kemasan cerita dan berita kejahatan. Dengan kata lain, workshop ini juga mendorong para peserta agar piawai membingkai isu, sesuai dengan latar belakang mereka sebagai mahasiswa kriminologi. Setiap tulisan yang telah dibuat, dibahas dan dikoreksi oleh Otty Widasari.

Membedah-Filem_Pencuri-Sepeda_karya-Vittorio-De-Sica_1949-copy

Diskusi-setelah-membedah-filem_melihat-keterkaitan-antara-wawasan-filem-media-kejahatan-dan-kriminologi-copy

Proses-penyuntingan-karya-video-copy

Di dalam workshop ini, teman-teman WPC juga dibagikan wawasan mengenai bagaimana mengemas sebuah karya yang kreatif dan tidak baku. Eksplorasi ide dan bentuk karya ditekankan agar hasilnya tidak kering. Hal itu juga yang sejatinya coba diusahakan dalam produksi karya video. Berangkat dari pemahaman yang didapat ketika membedah filem “Pencuri Sepeda”, karya Vittorio De Sica (1949), yakni tentang eksperimentasi visual dan bangunan montase, teman-teman WPC berniat membuat karya video berbasis dokumenter, merekam gejala-gejala sosial yang erat hubungannya dengan kajahatan-kejahatan ‘kecil’ sehari-hari. Lokasi yang menjadi fokus adalah lingkungan simpang Gang Sawo dan Gang Kober, di pinggir Jalan Raya Margonda, Depok, Jawa Barat. Mereka mencoba ‘bermain-main’ dengan visual-visual yang didapatkan selama observasi dan proses suting di lapangan, khususnya dalam proses editing, untuk mengemas sajian artistik melalui medium video berdasarkan praktek-praktek sosial masyarakat di lingkungan itu yang sering kali melakukan tindakan-tindakan pelanggaran aturan, sadar tidak sadar.

supir-baca-angkot-copy

Benturan-benturan dalam penggunaan ruang kota, aturan-aturan lalu lintas, kesepahaman tak terucap antara pejalan kaki dan pengendara motor ketika berkomunikasi melalui aktivitas menyeberang jalan, ketidakpekaan para supir angkutan umum yang ngetem di depan Gang Sawo, kesibukan para pekerja bangunan untuk menyelesaikan pembangunan apartemen, serta keriangan orang-orang lokal, seperti pengamen, calo angkot, pedagang kaki lima, dalam menjalani aktivitas untuk mencari peruntungan sehari-hari. Chaos yang terjadi di lokasi itu, barangkali, adalah komedi, sangat filemis, dan adalah suatu bingkaian yang pas bagi kita untuk mempersoalkan kejahatan dalam sudut pandang yang lebih filosofis. Melalui workshop ini lah, teman-teman WPC mencoba mengembangkan skills dan pemikiran, demi menunjang kegiatan-kegiatan Himpunan Mahasiswa Kriminologi di ranah media agar lebih baik lagi.

Status

I’m criticizing ourself

Almost two years, we have been shouting and twittering that we prevent crime, and being the wepreventcrime. Almost two years we have been trapped in the narcotizing dysfunction syndrome and being proud of pseudo prevention. We claim to be people who prevent crime, but what crime did we prevented? We say that we prevent crime by means of researches, but I don’t see the real research! We say that we prevent crime by means of studies, but I don’t see there are problems we solve! We say that we prevent crime by means of works, but I don’t see the Work! We say that we prevent crime by means of journals publication, but there’s no journal we have issued. We should realize that our crime prevention action can not be real if we have not managed to quell our own ‘crime’ yet. Ironically, we are proud of being red while the ‘red’ means danger and absolutely be dangerous.

a little help from my friends

72

What would you do if I sang out of tune,

Would you stand up and walk out on me.

Lend me your ears and I’ll sing you a song,

And I’ll try not to sing out of key.

Oh I get by with a little help from my friends,

Mmm, I get high with a little help from my friends,

Mmm, I’m gonna try with a little help from my friends.

 

What do I do when my love is away.

(Does it worry you to be alone)

How do I feel by the end of the day

(Are you sad because you’re on your own)

No, I get by with a little help from my friends,

Mmm, get high with a little help from my friends,

Mmm, gonna to try with a little help from my friends

 

Do you need anybody?

I need somebody to love.

Could it be anybody?

I want somebody to love.

 

Would you believe in a love at first sight?

Yes I’m certain that it happens all the time.

What do you see when you turn out the light?

I can’t tell you, but I know it’s mine.

Oh, I get by with a little help from my friends,

Mmm I get high with a little help from my friends,

Oh, I’m gonna try with a little help from my friends

 

Do you need anybody?

I just need someone to love.

Could it be anybody?

I want somebody to love

 

Oh, I get by with a little help from my friends,

Mmm, gonna try with a little help from my friends

Ooh, I get high with a little help from my friends

Yes I get by with a little help from my friends,

with a little help from my friends

untitled

Saya juga punya hak suara dan pendapat. Dan untuk ranah dunia maya, dengan beberapa paragraf inilah saya berpendapat dalam usaha menyalurkan aspirasi yang lebih beretika. Artikel opini ini tidak menutup diri dari kritik.

Saya percaya, dan dari dulu pula saya memiliki keyakinan ini, bahwa yang dilihat sebagai sebuah prestasi ialah ketika kita bisa menghasilkan sebuah perubahan yang baik bagi diri sendiri dan orang lain. Dan saya juga percaya bahwa keyakinan ini mestinya dimiliki oleh semua orang. Terlebih mahasiswa Universitas Indonesia, yang memiliki tingkat intelektualitas yan baik dan keterbukaan cara pandang dalam melihat persoalan, keyakinan ini menjadi sebuah modal mutlak yang harus dimiliki.

Lantas apa jadinya ketika kita mengikis keyakinan itu hanya karena hasrat untuk menjadi bangga pada suatu hal yang, pada dasarnya, hanyalah kebanggan semu dan tidak memiliki dampak yang berarti pada perubahan yang kita bayangkan?

Coba lihat lagi, apakah kita sudah berhasil melakukan perubahan kalau hingga detik ini, pertengkaran sepele selalu menjadi hal yang dibesar-besarkan di atas nama emosi? Beranjak dari fase ‘bocah’ menuju fase kedewasaan berpikir dan kebijakan sikap pun, sepertinya saya pesimis ketika, lagi-lagi, harus menonton debat kusir yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Kalau sudah seperti itu, saya menjadi bertanya-tanya: apa gunanya kegiatan yang selama ini kita perjuangkan untuk terus dipertahankan tradisinya, jikalau, ujung-ujungnya kita melestarikan sifat iri hati, dan sikap saling tuding-menuding, salah-menyalahkan, sindir-menyindir?

Coba pikir lagi baik-baik, kita sedang mempertengkarkan apa? Yang berlalu biarlah berlalu. Segala yang dianggap berhasil akan menjadi titik atau tolak ukur untuk meningkatkan kualitas pencapaian, sedangkan yang gagal akan menjadi jejak koreksi agar tidak mengulangi kesalahan dan kegagalan baru. Masalahnya, siapa yang berhak dan mampu menentukan mana yang berhasil dan mana yang tidak? Toh, kegiatan yang kita lakukan hanyalah sebuah inisiatif yang berangkat dari semangat kebersamaan, mengapa malah justru memunculkan keretakan? Ini konyol, namanya!

Pertengkaran yang menjadi tontonan ini memang “menarik” dan “menghibur”, yang dengan secara bersamaan juga membawa ketidakharmonisan. Dan pertemuan-pertemuan yang dilakukan, baik itu di dunia maya maupun dunia nyata, akan menjadi percuma jikalau kita semua sama-sama membawa kepala batu dan kebanggaan semu yang ingin terus dipertahankan.

Kita ingin bangga? Ya berbanggalah pada prestasi yang benar-benar riil! Berbanggalah pada capaian-capaian yang memang menghasilkan perubahan yang benar-benar dapat dirasa pengaruh baiknya. Jikalau merujuk pada pertengkaran yang terjadi, rasa-rasanya kita semua gagal membawa perubahan yang baik itu.

Di kampus sana, masih ada bibit-bibit baru. Mereka membutuhkan bimbingan kita yang sudah memiliki pengalaman melakukan berbagai hal. Menurut saya, memberikan perhatian yang sebesar-besarnya kepada bibit-bibit baru ini agar mereka dapat belajar dengan cara yang lebih baik, dan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di waktu lalu, adalah sebuah persoalan yang lebih penting ketimbang berdebat kusir tiada henti yang justru memberikan contoh yang buruk, dan bahkan memalukan.

Ayo, lah… lebih baik kita bersenang-senang, duduk berkumpul bersama, tertawa dan bernyanyi di sebuah meja yang, saya yakin, sangat dicintai oleh kita semua. Tidak ada gunanya bertengkar seperti ini.