Lagi-lagi Strategi Kebudayaan_foto

Lagi-lagi, Strategi Kebudayaan

4 Juli, 2014. Tiga jam dari total waktu dua puluh empat jam, hari ini, saya habiskan di Galeri Cipta II, menghadiri acara Rembuk Budaya. Acara itu menghadirkan Garin Nugroho dan Rey Sahetapy sebagai pembicara dalam diskusi terbuka bertemakan “Film, Kebudayaan dan Kebangsaan”. Sebenarnya, ada satu pembicara lagi, yakni Sha Ine Febriyanti, yang berhalangan hadir.

Intinya, diskusi ini membahas kondisi perfileman dan aktivitas kebudayaan di Indonesia. Dalam makalah ringkasnya, Garin Nugroho memaparkan ‘situasi membahayakan’ bagi para seniman dan kaum intelektual yang gagal mengemas karya mereka dengan kemasan ‘massa’. Maksud dari garin ini adalah produk-produk dan karir para seniman dan kelompok intelektual yang gagal itu disebabkan gagalnya mereka menempatkan diri dalam konstelasi wacana kebudayaan yang tidak lepas dari pertarungan antara modal, birokrasi, dan perkembangan global. Popularitas mereka menurun karena melupakan pentingnya strategi kebudayaan.

Pada kesempatannya menjadi pembicara itu, Garin lebih banyak memaparkan mekanisme strategi kebudayaan yang kosong dalam struktur dan sistem pemerintahan kita. Menurutnya, negara kita tidak memfasilitasi para seniman dan kaum intelektual untuk lebih meningkatkan posisi tawar mereka dalam pertarungan wacana yang lebih luas dalam konteks internasional. Setuju dengan Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Irawan Karseno, Garin berpendapat bahwa kehadiran komunitas-komunitas yang bergerak secara alternatif di ranah kebudayaan, justru menjadi harapan, tapi sayangnya masih luput dari kepekaan pemerintah.

“Seharusnya mendorong yang global untuk mengangkat yang lokal,” begitulah kira-kira ujaran Garin, seingat saya.

Lebih jauh, Garin memaparkan beberapa contoh strategi-strategi kebudayaan yang dilakukan oleh negara-negara lain, seperti Jepang, Korea dan Taiwan—yang oleh Ugeng, ketika saya bercerita padanya tentang diskusi ini, adalah contoh yang kurang tepat (“Seharusnya negara Filipina yang dijadikan contoh!” celetuk Ugeng).

“Contohnya di Jepang, negara mereka mewajibkan setiap instansi di pemerintahan harus menghadirkan pertunjukan teater Kabuki dalam acara-acara pertemuan mereka,” kata Garin (kalimat ini, seingat saya saja). “Dengan begitu, para seniman Kabuki memiliki ruang untuk tetap bekerja, tidak pusing soal kekosongan. Negara memperhatikan mereka.”

Di Korea, menurut cerita Garin, negara mereka mengerahkan setiap institusi pendidikan untuk mendorong guru-guru mewajibkan siswa-siswi mereka untuk menulir resensi mengenai karya-karya animasi yang diproduksi oleh pembuat animasi yang ada di Korea. Strategi kebudayaan melalui pendidikan. Sementara itu, di Taiwan, negara mereka meningkatkan kebertahanan industri filem melalui pelayanan duplikasi filem-filem dengan harga yang murah. Bahkan, menurut Garin, negara kita bahkan ‘memohon’ pelayanan tersebut.

Pemaparan yang agak jauh dari konteks—dan juga membosankan di telinga saya—dari Rey Sahetapy mengenai gagasan ‘nusantara’ dan ‘filosofi pancasila sebagai pribadi bangsa’, mencoba melihat kealpaan bangsa ini dalam merealisasikan cita-cita. “Nusantara, esensinya adalah keseimbangan. Bukan mencari keseimbangan, tetapi menjaga keseimbangan,” serunya. Saya menangkap, idenya tentang ‘gagasan nusantara’ itu untuk menekankan pembahasan mengenai kebangsaan.

Strategi… kebudayaan… strategi kebudayaan. Dua kata itu sudah saya dengar sejak pertama kali berkegiatan di Forum Lenteng. Hafiz, Otty dan Ugeng sungguh sangat sering menyebut istilah itu.

“Banyak komunitas atau organisasi yang mati dalam waktu dua atau tiga tahun saja,” saya ingat kata Hafiz. “Itu karena tidak paham bagaimana menegaskan posisi tawar mereka. Setiap kegiatan aktivisme yang dilakukan tidak memiliki ideologi yang jelas dan strategi kebudayaan yang tidak canggih.”

Saya juga ingat penjelasan Hafiz tentang sedikitnya duta-duta kebudayaan negara kita di kancah internasional yang berhasil memperkenalkan—dalam artian meyakinkan dunia bahwa Indonesia juga memiliki kekuatannya sendiri yang mampu bersaing—segala hal yang berhubungan dengan aktivitas kebudayaan bangsanya.

Dan dalam waktu lima tahun saya berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan seperti ini, tema ‘strategi kebudayaan’ itu masih menjadi masalah yang ‘asing’ bagi negara Indonesia. Paling tidak, oleh kelompok elit politik dan birokrasinya sendiri. Kita masih gagap. Dan di lingkungan pelaku-pelaku pada level komunitas kontemporer, kesadaran akan hal itu terus berkembang dengan perhatian yang sangat kurang oleh negara.

TandaTangan_latar_transparant

FAKTOR-FAKOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN HAK ASASI MANUSIA

Oleh Manshur Zikri

Hak Asasi Manusia, sesuai dengan yang tertuang dalam Undang-Undang No. 39 Tahun 1999, memiliki pengertian sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakekat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.[1]

Continue reading

Definisi-definisi Budaya dan Kebudayaan

Menurut para pakar antropologi dan kebudayaan

  • EB Taylor, 1832 –1917

Kebudayaan adalah keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adapt, serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

  • Ki Hajar Dewantara, 1889-1959

Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

  • Robert H Lowie, 1883-1957

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal.

  • Koentjaraningrat, 1923-1999

Kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya.

  • Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.
  • Soerjanto Poespowardojo, 1993

Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara lading

  • Arkeolog R. Soekmono

kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan alam penghidupan

  • Parsudi Suparlan

Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya.

Menurut pendapat khalayak umum (hasil wawancara)

1. Hafiz Rancajale, seorang aktifis seni di Lembaga Swadaya Masyarakat Forum Lenteng, Jalan Lenteng Agung Raya.

Dia berpendapat bahwa budaya adalah sebuah daya upaya yang merujuk kepada manusia atau masyarakat. Dalam masyarakat sendiri budaya itu pada dasarnya merupakan suatu system atau mekanisme hubungan antara individu atau kelompok dengan individu atau kelompok yang lain. Hal tersebut dapat berupa interaksi untuk kepentingan-kepentingan seperti kepentingan ekonomi, kreatifitas, politik, sosial, dan sebagainya. Sesuatu baru bias dikatakan sebagai budaya apabila sudah terdapat suatu kesepakatan dari masyarakat itu sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung.

Adanya perbedaan budaya menyebabkan suatu konflik. Hal ini terjadi karena sifat dasar dari budaya yang terus berkembang (secara alamiah dari sifat manusia) sehingga suatu kelompok memaksakan budaya mereka kepada kelompok yang lain. Dan hal ini merujuk pada pengertian budaya sebagai suatu kekuasaan. Contohnya adalah bangsa-bangsa Eropa yang menjajah bangsa-bangsa di Asia.

Apabila suatu budaya tidak berkembang, maka budaya itu akan mati. Hal ini bias dilihat sebagai contoh adalah budaya keroncong dan budaya betawi yang gaungnya sudah jarang terdengar di kalangan masyarakat kita.

2. Nanda Sirajul Munir, seorang aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat Kumpul Bocah di Yogyakarta.

Dia berpendapat bahwa budaya itu adalah suatu proses atau dinamisme yang terus berkembang dalam suatu masyarakat. Budaya merupakan cermin pribadi suatu masyarakat yang terus mengalami perubahan hingga mencapai titik puncak dan pada suatu saat budaya itu akan mati.

Sementara kebudayaan sendiri adalah produk dari budaya. Kebudayaan bisa dilihat dan dinilai dengan akal pikiran serta bisa dikaji lebih dalam melalui ilmu budaya atau antropologi. Sebagai contoh adalah kebudayaan Cina, Peradaban Mesir Kuno, dan sebagainya.

3. Khairuman, seorang sarjana Filsafat IAIN Jakarta.

Menurut beliau, pada dasarnya ada tiga tingkatan, yaitu agama, adat, dan budaya. Agama atau bisa disebut sebagai nilai religi adalah merupakan ilhan dari Sang Pencipta. Dan nilai-nilai religi ini akan diadopsi oleh adat sehinga timbullah suatu aturan-aturan. Meskipun dalam konteks pengertiannya, bahwa agama dan adapt merupakan bagian dari suatu budaya, namun pada dasarnya budaya itu merujuk kepada ilham dari Sang Pencipta. Maka dari itu lah dalam tiga tingkatan itu, nilai religi terletak di strata pertama.

Sesuatu baru bisa dikatakan sebagai budaya apabila telah mendominasi semua pola pikir semua orang.

4. Harris, seorang mahasiswa program pascasarjana di Universitas Indonesia, dan juga merupakan aktifis seni teater kampus di UI.

Budaya adalah daya pikir manusia untuk mencipta suatu karya yang mempunyai nilai-nilai yang terkandung di dalam karya tersebut. Sedangakan Kebudayaan adalah produk dari budaya itu sendiri.

5. Muhamad Arif, teman satu kost, mahasiswa FISIP Hubungan Internasional.

Menurutnya, budaya atau kebudayaan adalah suatu karya cipta yang dihasilkan oleh manusia.

Karakteristik Kebudayaan

Pengertian Karakteristik dan Kebudayaan

Karakteristik secara etimologis berasal dari bahasa Inggris, yaitu berasal dari kata character. Arti character sendiri adalah watak, sifat, dan peran. Karakter bisa diartikan sebagai suatu sifat ataupun cirri-ciri yang khusus (yang membedakannya dengan yang lain). Characteristic adalah sifat yang khas, yaitu sebuah keistimewaan atau ciri kahas yang membantu dalam mengenal seseuatu, memisahkannya dengan yang lain, atau mendeskripsikan secara jelas dan nyata; sebuah tanda yang berbeda.[1]

Pengertian kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.[2] Kebudayaan bisa dikatakan sebagai suatu sistem dalam masyarakat dimana terjadi interaksi antar individu/kelompok dengan idnividu/kelompok lain sehingga menimbulkan suatu pola tertentu, kemudian menjadi sebuah kesepakatan bersama (baik langsung ataupun tidak langsung).

Implikasi Karakteristik Kebudayaan

Karakteristik Kebudayaan adalah sesuatu yang dapat dipelajari, dapat ditukar dan dapat berubah, itu terjadi ‘hanya jika’ ada jaringan interaksi antarmanusia dalam bentuk komunikasi antarpribadi maupun antarkelompok budaya yang terus menerus. Dalam hal ini, seperti yang dikatakan oleh Edward T. Hall, budaya adalah komunikasi; komunikasi adalah budaya. Jika kebudayaan diartikan sebagai sebuah kompleksitas total dari seluruh pikiran, perasaan, dan perbuatan manusia, maka untuk mendapatkannya dibutuhkan sebuah usaha yang selalu berurusan dengan orang lain. Disini Edward T. Hall menegaskan bahwa hanya manusialah yang memiliki kebudayaan, sedengakan biantang tidak.Karaktersitik dari kebudayaan membentuk perilaku –perilaku komunikasi yang khusus, yang tampil dalam konsep subkultur. Subkultur adalah kebudayaan yang hanya berlaku bagi anggota sebuah komunitas dalam satu kebudayaan makro. Sebagai contoh para homosex atau lesbi mempunyai kebudayaan khsus, apakah itu dari segi pakaian, makanan, istilah, atau bahasa yang digunakan sehari-hari.[3]

Dalam mempelajari kebudayaan tedapat beberapa pendekatan: materi, behaviorisme, dan ideasional. Pendekatan materi yakni memandang kebudayaan sebagai materi: pada produk yang dihasilkan sehingga bisa diobservasi. Pendekatan behavirosime kebudayaan dipandang sebagai suatu pola tindakan dan perilaku atau sebagai suatu sistem adaptif. Sedangakan pada pendekatan ideasional kebudayaan dipandang sebagai suatu ide, yaitu keseluruhan pengetahuan yang memungkinkan prosuk dan perilaku ditampakkan.[4]

Dalam memahami kebudayaan kita harus mengacu pada sejumlah karakteristik kebudayaan, antara lain adalah bahwa kebudayaan itu dimiliki bersama, diperoleh melalui belajar, bersifat simbolis, bersifat adaptif dan maladapti, bersifat relatif dan universal.[5]

Dibawah ini akan dijelaskan beberapa karakteristik kebudayaan yang diambil dari suber atau bahan bacaan lain[6]:

Culture is an adaptive mechanism

Kebudayaan adalah suatu mekansime yang dapat menyesuaikan diri. Kebudayaan adalah sebuah keberhasila mekanisme bagi spesis manusia. Kebudayaan memberikan kita sebuah keuntungan selektif yang besar dalam kompetisi bertahan hidup terhadap bentuk kehidupan yang lain.

Culture is learned

Budaya bukanlah suatu hal yang naluriah, dimana kita telah terprogram untuk mengetahui fakta-fakta dari budaya tersebut. Oleh karena itu salah satu dari karakteristik budaya adalah diperoleh melalui belajar. Manusia lahir ke dunia dengan sifat dasar, yaitu ‘lapar’ dan ‘haus’. Akan tetapi mereka belum meiliki suatu bentuk pola naluriah untuk dapat memuaskan sifat dasar itu. Selain itu manusia saat lahir juga tidak dibekali pengetahuan tentang budaya (cultural knowledge). Tetapi mereka secara genetis terpengaruh untuk belajar/mempelajari bahasa dan tanda-tanda kebudayaan lainnya (cultural traits). Seorang bayi akan berada di suatu tempat (disini bisa diakatakan sebuah keluarga), dan mereka tumbuh dan belajar tentang kebudayaan sebagai sesuatu yang mereka miliki.

Cultures change.

Kebudayaan bukan sesuatu yang terus-menerus tetap (bertumpuk). Pada waktu yang sama dimana suatu kebudayaan ada, terdapat tanda-tanda kebudayaan baru. Tanda-tanda itu bisa sebagai tambahan (addition) atau pengurangan (subtraction). Tanda-tanda ini menyebabkan perubahan kebudayaan. Hal ini disebabkan kebudayaan berubah dan berkembang secara dinamis setiap saat: kebudayaan tidak statis. Berbagai aspek kebudayaan beserta tanda-tandanya akan terjalin rapat menjadi suatu pola yang sangat kompleks.

People usually are not aware of their culture

Cara kita bergaul dan melakukan segala sesuatu dalam keseharian kita terkesan berjalan dengan alami (natural). Kebanyakan dari kita tidak sadar akan budaya. Hal itu disebabkan oleh manusia yang pada dasarnya sangat dekat dengan kebudayaan itu dan mengetahuinya dengan sangat baik. Manusia merasakan bahwa semuanya seolah-olah terjadi begitu saja (mewarisi secara biologis). Dan biasanya manusia hanya akan sadar bahwa pola kelakuan mereka bukanlah sesuatu yang individual ketika mereka mulai berinteraksi dengan manusia dari kebudayaan lain.

We do not know all of our own country

Tidak ada satupun orang yang mengetahui budaya mereka secara keseluruhan. Dalam masyarakat, terdapat pengetahuan tentang budaya yang terbatas terhadap fakta-fakta kelas sosial, pekerjaan, agama, dan perkumpulan-perkumpulan lain.

Culture gives us a range of permissible behavior patterns

Kebudayaan umumnya memberikan jarak dalam cara bagaimana laki-laki sebagai laki-laki, wanita sebagai wanita. Kebudayaan juga memberitahukan bagaimana perbedaan aktivitas yang seharusnya ada dan tidak, seperti bagaimana seorang suami bertindak sebagai suami, siteri sebagai siteri, dan sebagainya. Aturan ini biasanya bersifat fleksibel di setiap derajat, kadar da tingkatnya. Dia Amerka Utara contohnya, kebudayaan mereka mengajarkan bahwa seorang harus berpakaian sesuai dengan jenis kelamin mereka (gender). Akan tetapi mereka boleh memakai pakaian dengan cara yang berbeda pada saat siutasi yang berbeda.

Cultures no longer exist in isolation

Artinya kebudayaan tidak akan bertahan lama dalam suatu wilayah terpencil. Apabila suatu kebudayaan baru memasuki wilayah tersebut, secara alamiah masyarakat disana akan berkembang dan mulai beradaotasi dengan kebudayaan-kebudayaan baru. Dengan kata lain, suatu budaya sulit bertahan (asli) di suatu tempat karena akan dipengaruhi oleh budaya-buadaya dari daerah lain disekitarnya.

Culture is shared [7]

Suatu kebudayaan dimiliki secara bersama-sama oleh sekelompok orang. Berdasarkan wilayah, kondisi iklim, dan warisan sejarah, mereka tumbuh dan berkembang di dalamnya. Mereka memiliki suatu nilai dan keyakinan, dimana kumpulan-kumpulan prinsip/asas/dasar nilai dan keyakinan ini akan membentuk kebudayaan mereka. Kebudayaan bisa saja menjadi kepunyaan dari komunitas tunggal, tapi tidak akan pernah menjadi kepunyaan dari seseorang yang tunggal (individu).


[1] Pengertian diakses dari http://www.thefreedictionary.com/characteristic.

 

[2] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi:Kebudayaan, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2002)

[3] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: PT LKis Pelangi Aksara, 2007)

[4] Mudjahirin Thohir, Kebudayaan Indonesia, diakses dari http://staff.undip.ac.id/sastra/mudjahirin/2009/04/20/kebudayaan-indonesia/#more-244 pada tanggal 13 Oktober, 2009, pukul 1.13 AM.

[5] Pengantar Antropologi: Rangkuman Mata Kuliah, diakses dari http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=412, tanggal 13 Oktober, 2009, pukul 1.17 AM

[6] Characteristic of Culture, diakses dari http://anthro.palomar.edu/culture/culture_2.htm, tanggal 13 Oktober, 2009, pukul 1.21 AM

[7] Manali Oak, Characteristic of Culture, diakses dari http://www.buzzle.com/articles/characteristics-of-culture.html, tanggal 13 Oktober, 2009, pukul 2.30 AM