getar

February 28th, 2012 § Leave a Comment

getar

aku getar, apa artinya itu?

aku bergetar; itu artinya aku bertemu kamu tapi tak berkutik dan tak berani berkelakar

aku menggetar; itu artinya sama saja: bertemu kamu tapi tak berani menyapa

aku menggetarkan hatimu; itu artinya aku membuat puisi untukmu kemudian wajahmu merah merona ketika membacanya

aku menggetari hatimu; itu artinya aku memegang tanganmu kemudian jantungmu berdegup sekencang-kencangnya…

atau, aku membelah tubuhmu, mengambil jantungmu,

kemudian menggoncangnya ke kanan ke kiri dengan tanganku

membuatnya terlihat seolah-olah sedang bergetar

 

buat jejak

February 28th, 2012 § Leave a Comment

Setiap orang, termasuk diri kita sendiri, memiliki kepentingan. Kepentingan kita ikut beriak di tengah-tengah kepentingan orang lain. Keadaan seperti ini lah yang membuat kehidupan itu menjadi dinamis. Meskipun di era kehidupan sekarang, pemahaman tentang kepentingan bersama untuk kemaslahatan bersama itu telah bias dengan desakan-desakan individu-individu yang memiliki cara berpikir berbeda-beda. Filosofi petani di desa yang sering terdengar dari cerita Sang Paman, sungguh sulit ditemui di kehidupan sekarang ini. « Read the rest of this entry »

#menghujatmahasiswasekarang

February 26th, 2012 § Leave a Comment

yang di lorong rahasia… pasti mengerti catatan ini. Tapi mengerti belum tentu bisa menjawab, bukan?

February 25th, 2012 § Leave a Comment

Ini konyol. Saya sudah melarang diri saya sendiri untuk tidak mengutarakan itu dan ini jauh sebelum semuanya terjadi. Akan tetapi saya sudah terlanjur gila belakangan ini. Dan ombak kemuakan memaksa saya (dan ini menjadi kalimat cuci tangan yang selalu saya gunakan untuk membohongi diri bahwa saya memang gila). Padahal, waktu itu saya dengan sombongnya mengatakan bahwa kegilaan saya hanya platonis belaka. Toh ternyata tidak. Dalam posisi ketidaknyamanan hati, saya masih berharap dengan sangat obat kegilaan itu menghampiri saya entah kapan dan di mana.

Satu hari saya berkata bahwa saya bersuara bukan untuk didengar, saya menulis bukan untuk dibaca, saya bertindak bukan untuk dilihat. Sekarang, mau tidak mau, saya harus mengaku bahwa ternyata saya tidak se-idealis itu untuk satu hal yang menyebabkan kegilaan saya semakin menjadi-jadi. Lantas akhirnya saya menyadari bahwa saya ingin sekali didengar, ingin sekali dibaca, ingin sekali dilihat; ingin sekali diperhatikan dan dijawab.

Saya bahkan tidak bisa menyalahkan waktu dan lingkungan yang tidak bersahabat. Saya juga tidak bisa menyalahkan pagi-siang yang selalu muncul setelah malam, karena bukan urusannya untuk menanggapi keluhan saya jika memang saya tidak penting dalam aktivitas rotasinya setiap hari. Saya patut mempertanyakan, “Apa pentingnya kehadiran saya di tengah-tengah kehidupan siang hari?” Bahkan saya tidak lagi berani untuk menyapa mentari karena terlalu menyilaukan mata, dan kehangatan pancarannya justru membuat saya gugup (jantung berdetak cepat). Namun, melihatnya dari balik awan juga membuat hati tersayat-sayat karena sadar bahwa betapa bodohnya saya yang tidak berani memanggil dan tidak piawai menciptakan keteduhan dan kesejukan untuk sang hari.

Akan tetapi saya selalu duduk lama di depan jendela, yang menghadap ke dunia yang tiada bentuk itu, setiap malam. Saya duduk begitu lama. Karena berpikir di malam hari, siang tentunya tidak mengetahui. Ketika malam pergi, saya kembali menjadi manusia normal yang tidak gila sama sekali, padahal itu hanyalah pribadi buatan yang menjadi topeng penyelamat citra diri. Sungguh memalukan. Saya hanya berani mengucapkan kata, “Hoi!” kepada pagi, tidak lebih. Bahkan saya cepat-cepat berlalu meninggalkan pagi, juga siang, dengan berlari di jalur kesibukan yang tidak seorang pun di lingkungan saya meminatinya.

Satu hari yang lain saya mengeluh di tempat yang saya yakin tidak akan disinari (karena saya berasumsi kuat bahwa mentari tidak akan mau repot-repot memberikan sinar di tempat yang tidak menarik hatinya). Dan hal itu masih menjadi salah satu keyakinan saya. Sebab, dia kurang tertarik (dan sulit untuk suka) kepada pribadi yang terlalu bersikap berlebihan. Sesuai sifatnya, mentari itu cuek bebek, menjalani aktivitas apa adanya, menyinari tanpa banyak basa-basi. Tapi itu justru yang membuat saya menjadi gila; sang matahari itu begitu menarik perhatian saya karena ada banyak tanda-tanda yang memberikan keterangan bahwa saya akan menemukan titik atau pola keseimbangan. Ya, ini lah soalnya mengapa saya menjadi gila: saya sudah seperti anjing gila yang menggigil jika terkena sinar mentari.

Tapi ternyata, mentari memang ada di mana-mana sinarnya di waktu dia memang harus bersinar, sehingga dia menjamah semuanya. Selain itu, tali-temali lingkungan juga menyebabkan demikian, bahwa apa saja yang pernah terukir pasti akan muncul ke permukaan dan suatu saat akan mendapat perhatian pagi-siang (mentari) walau hanya sejurus.

Ingin saya tak lagi sibuk ketakutan (tetapi ingin) untuk becengkrama dengan pagi-siang yang nyaman itu. Saya hanya ingin celotehan saya dijawab oleh sebuah sinar yang mengabarkan bahwa gila saya akan berkurang. Dalam hal ini, gila itu berkurang bukan karena pagi-siang mengurangi sinarnya, bukan! Justru saya berharap sinarnya semakin banyak dan mulai menyinari saya agar saya merasa nyaman dan mendapat jawaban yang saya harapkan.

Tapi kembali lagi, mungkin ini hanya khayalan. Jikalau tadi saya katakan bahwa kegilaan ini hanya platonis, saya mulai berpikir bahwa harapan ini hanya mimpi. Menyedihkan, sungguh sangat menyedihkan berada di antara harap-harap yang sepertinya tak akan terjawab.

yang problematis

February 22nd, 2012 § Leave a Comment

saya melihat dari atas tempat tidur,

melihatnya di balik gelap kelopak mata

sebuah riak sistemik nan hidup

pertumbuhannya mengikuti arus

perkembangannya mengikuti jaman

dulu dan kini, tetap tak berbentuk

tapi dia ada dan sering tersebut

cakupannya bisa saja luas

bisa juga sangat kecil

jatuhnya dia hanya sebuah istilah

untuk merujuk apa yang disoalkan

yang tak akan kunjung usai hingga akhir hidup

 

saya melihat dari atas rumah

melihatnya di balik aktivitas setiap hari

sebuah sari pati yang hidup

terbuka dan mengundang, juga

sebuah endemik unik yang hidup

mengkolonisasi yang lama dengan yang baru

pertumbuhannya mengikuti wilayah

perkembangannya mengikuti akses

beda waktu, beda tempat, beda sifat

cakupannya bisa saja luas

bisa juga sangat kecil

jatuhnya dia hanya sebuah istilah

untuk merujuk pada pribadi-pribadi

tunggal maupun jamak selalu dikuak

 

saya melihat dari atas tempat duduk

melihatnya di balik visual yang terlihat

sebuah entitas temporer nan hidup

pertumbuhannya mengikuti momentum

perkembangannya mengikuti nuansa

beda waktu, beda tempat, beda bentuk

cakupannya bisa saja luas

bisa juga sangat kecil

jatuhnya dia hanya sebuah istilah

untuk merujuk pada tempat dan peristiwa

sebagai teks dia jadi soal, sebagai konteks dia jadi rumusan

 

saya melihat dari atas tapak kaki

melihatnya di balik minat dan hobi

sebuah struktur kerja yang hidup

pertumbuhannya mengikuti kapasitas

perkembangannya mengikuti wacana

setiap waktu, ada yang hilang, ada yang baru, ada yang bertahan

cakupannya bisa saja luas

bisa juga sangat kecil

jatuhnya dia hanya sebuah istilah

untuk merujuk pada yang bertujuan

dia wadah untuk membangun peradaban

 

Sekali lagi, aku jawab!

February 9th, 2012 § 3 Comments

Lama juga tidak

arah dari dulu banyak

mencari apa yang menarik

riwayat kisah sudah tak penting

ini memang tidak penting

aku tak ingat lagi kapan harus didengar

nah, baiklah kita mencair saja

andaikan kita tak bernama

Vera lynn saja sudah lama menghilang

ia tak butuh harus menyudut

akan lebih baik jika di tengah

namun bukan untuk dilihat

toh, memang tak ada maksud

ijin saja kita tak punya

Yang berkuasa saja tidak peduli

urusan apa dengan dia

nasib begini jauh dari tua

iya kan saja berbohong kata

lambat laun akan terlihat

dunia tak semudah membaca roman

alangkah baik dipukul biar sadar

Titik nadir masih jauuuuuuuuuh, sob!

orang-orang muda miliki caranya sendiri

biarlah manusia bangun peradabannya

ini juga memang tak penting untuk dicerna

namun, tetap saja

gila itu masih meraja.

urutan keempat

February 7th, 2012 § Leave a Comment

butuh banyak kode, memang

ketika ucap di lafal

hindari frontal

seperti kami

samarkan kau

miliki nama

 

pembakuan nomor enam terakhir

jadi bumerang

kami ditegur

karena kegilaan

kuasai alam

lampaui batas

seperti apa

kau duga

 

ah, ya malam baru

berilah aku fajar yang menjamu

ledakkanlah hatiku

dengan apa yang belum tertuju

 

kami dilarang untuk bersuara

walau perintah itu tidak datang dari sana

kami dicubit tanpa dirasa

hidupkan raga tanpa nyawa

 

ah, ya malam baru

berilah aku fajar tanpa sendu

suburkanlah jantungku

dengan hangatnya kehadiranmu

kabar

February 2nd, 2012 § Leave a Comment

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan kenyataan

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan kebijakan

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan penegasan

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan pelajaran

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan melihat lebih jauh

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan penentuan pilihan

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan langkah kedewasaan

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan pengujian ketahanan prinsip

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan pengujian idealisme

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan tak menghidupkan jiwa bermain pemuda

kabar terbaru muncul sore kemarin sama dengan kabar-kabar lainnya

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan kenyataan

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan keyakinan

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan ketegasan

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan pembelajaran

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan melihat pada yang dekat

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan hasil pilihan

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan kedewasaan

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan dukungan prinsip

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan juga pengujian idealisme

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan mengembalikan semangat jiwa bermain pemuda

kabar terbaru, baru saja tadi, sama dengan kabar-kabar lainnya, tapi dia istimewa.

#terimakasih untuk perbincangan malam ini.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for February, 2012 at manshur zikri.