baik
January 28th, 2012 § Leave a Comment
“Baik, sudahlah! Lebih baik tidur saja, Lenk, supaya besok bisa bekerja lebih baik… Tak baik dipaksakan. Tak ada baiknya pula kegiatan baik ini menjadi pelampiasan hal tak baik karena itu sungguh bukan tindakan tak baik untuk mendapatkan hal baik. Maka baik-baiklah untuk menjadi yang baik!”
…
“Baiklah, Hai orang baik, semoga saranmu ini baik untuk kebaikan!”
supra otokritik
January 27th, 2012 § Leave a Comment
saya bersedu sedan sekarang
karena tetesan yang pasti sudah bisa ditebak dari mana asalnya.
tapi tetap saja, alat supra antropologis ini
jadi tempat pelampiasan
karena dia bisa membelai dengan mimpi-mimpi
saya tak bisa membayangkan para babon tertawa
terbahak-bahak
melihat saya sekarang
saya bersedu sedang sekarang
beribu isak muncul dari tempat yang sudah bisa ditebak dari mana asalnya
tapi tetap saja, rangkaian kata ini
jadi barang lampias
karena dia topeng seribu makna
saya tak bisa membayangkan para babon tertawa
terbahak-bahak
melihat saya sekarang
saya tertawa sekarang,
beribu ide baru muncul untuk hal yang sudah bisa ditebak untuk apa gunanya
tapi tetap saja dada sesak
karena realitas tak bisa dilawan, tapi dipermainkan
saya tak bisa membayangkan para babon tertawa
terbahak-bahak
melihat saya sekarang
lantas dunia pasti akan tertawa sekarang
karena melihat saya
terlena hanya karena layar membuat buta
#terimakasih ceramahnya, Geng! haha #tailah
monolog
January 25th, 2012 § Leave a Comment
“Kubuat tidak ada. Aku buat jadi ada”
begitu dia bersiteguh atas gagasan baru
lawan tatanan pisang yang tumbuh dari akarnya
ya, soal pisang-pisang ini menjadi cemoohan tadi sore
ada orang yang bernyanyi di ujung waktu,
beranalogi tentang pisang
pertanyakan soal pisang mana akan dibawa:
pisang goreng, pisang roti, atau pisang tumbuh dari akar
“pisang molen!” jawabku dalam hati
pun jawaban bung di depan pecahkan tawa forum terbuka
si penyanyi berkata, “pisang tumbuh dari akar
ialah ranah yang hidup ribuan tahun lamanya
itu jaman baheula
bung menjawab, “kita membicarakan kekinian.”
Pak tua yang sebentar lagi mati itu, duduk di ujung Java
lokal penuh jawara tapi tak berdampak
ketakjuban pada mbling pun tak seberapa
tetap saja tak berdampak
tapi dulu, ada bung lain yang memutarbalik tatanan
hanya dengan perubahan sedikit kata
“Kubuat tidak ada. Aku buat jadi ada!
kukata memang tak berdampak besar
berbeda jauh dengan kubuat yang melawan
aku buat itu.
kukata memang gamblang
tak bertaksa seperti si bung yang kubuat
kukata pun tak akan dilirik lagi oleh Paus
karena dia sudah di alam kubur
kukata tak bisa jadi manifestasi perubahan yang berarti
tapi aku punya dinding sendiri
harus dibatakan terpisah
karena sudah kudengar teriakan: Hei! Pendidik! Tinggalkan kami anak-anak sendiri!
ditimbang-timbang, kalian hanya satu bata pada dinding.
dengan kukata kuhancurkan bataku
kukata tidak berdampak. aku katakan jadi berdampak.
asalkan tidak tercekik, ketika tua nanti.
Lenteng Agung, Jakarta Selatan, 25 Januari 2012
Manshur Zikri, di
Forum Lenteng
kepala dua lebih sedikit
January 23rd, 2012 § Leave a Comment
kata orang, ini masa pemuda berjaya
tapi yang saya tahu waktu semakin sedikit
kata orang, ini masa pemuda meraja
tapi yang saya tahu kurang dari 10 kali lagi
lantas nyatanya waktu memang berjalan cepat
seperti angin
yang terasa sekejap tapi tak terlihat
karena dia melenakan
mengenakkan
mengilusikan kesadaran
kata orang, ini masa pemuda bertingkah
tapi yang saya tahu bertingkah sudah harus dari dulu
kata orang, ini masa pemuda bermain-main
tapi yang saya tahu bermain-main ialah sampai uzur
lantas nyatanya waktu memang tak berjalan di tempat
seperti air
berikan alir ke segala arah
karena dia mengisi ruang
menjajah
sediakan tempat untuk ambil kesadaran
kata orang, ini masa pemuda untuk menjadi
tapi yang saya tahu, kaki baru saja melangkah
kata orang, ini masa pemuda membentuk diri
tapi yang saya tahu, belum lah terbentuk apa-apa
lantas nyatanya waktu memang tak henti
masih jauh untuk menetap agar berpendiri
TERUS! itu saja yang bisa saya teriakkan dalam hati
agar seperti waktu, yang memang tidak akan berhenti.
Lenteng Agung, 23 Januari 2012
Manshur Zikri, di
Forum Lenteng
menyapa el-vyt
January 11th, 2012 § Leave a Comment
Tinggalkan kuning cemerlang di sana sekarang
kemarin kita lihat cahaya lebih benderang sudah
perhatikanlah merah, ibu jarinya teracung
kan luas kepalanya terlihat menawan dari sini
nenek berujar cahaya berasal dari bersihnya dahi
sapa lah el-vyt (kau boleh menyebutnya elfit saja)
lama nian tak terpantau girang sendunya
lama berlalu dulu tangis riang
di mana batang hidungnya sekarang
lupa kah dia kita berdemagogi sampah
tawa kita buatnya takut
tapi takjub menebar ke mana-mana
jurus pandangnya tertambat ke sosok garda depan
ingat kah dia kita berlembut lemah
tepukan pundak buatnya tenang
tapi takjub justru meredup
jurus pandang kita menghambat gerak di depan
sapa lah el-vyt (ucapkan elfit saja)
nian lama tak terdengar keluh gembira
berlalu lama tak terdengar tawa kesahnya
ke mana suaranya berdendang
hantarkanlah salam sapa
cahaya terus menyala
tapi ke ufuk ujung
jauhi dirundung
kami tak dilihat, tak didengar
justru demikian kami bergerak
sadar kungkungan memupuk sayang membusuk
mimikri pribadi sastrawi bohongi diri
lewat untai tanpa arti
sapa lah el-vyt (elfit saja)
kian jauh dari tatap
berlalu kala di penjara harap
ingatlah kita tetap berdemagogi sampah
melepas pasrah dengan kilah
bermimpi datangnya cerah
maka sapa lah
biar dia jengah
dan kita kalah.
_____________________
Dini hari, selepas mengerjakan rancangan penelitian (belum kelar)
Lenteng Agung, 11 Januari 2011
Manshur Zikri
resolusi terlambat
January 6th, 2012 § 1 Comment
Ok,
saya akui pikirian ini sedikit mengganggu saya
walau
di satu sisi saya candu untuk melirik pikiran ini
Ok,
saya akui bahwa sepertinya saya di jalan buntu
walau
obsesi melangkahkan kaki masih meraja
Ok,
saya akui perhentian ini membuat saya kembali ke masalah lama
walau
saya candu juga dengan keadaan begitu adanya
Tapi,
saya mengakui ada hal lain yang mulai menggoda saya
walau
hal baru ini sedikit lebih memberatkan
Tapi,
saya mengakui hal berat ini lebih mengenakkan
walau
berat hati pula meninggalkan pikiran yang menyandu itu
Nah,
sekarang saya harus bersiap-siap untuk keluar
walau
membuka pintu ke halaman baru itu cukup sulit
Nah,
sekarang saya harus bergegeas membuat daftar
walau
pikiran candu itu masih sering mengganggu
Pastinya,
hal baru ini bisa meredakan candu yang berlebihan
walau
sejatinya saya tidak ingin lepas dari candu itu
Pastinya,
hal baru itu menghancurkan tembok jalan buntu
walau
jalan yang akan dihadapi jauh lebih panjang
Ok, Nah, tapi…
pasti lah…!
Manshur Zikri
Lenteng Agung, 6 Januari 2012, dini hari
Analisis Kumpulan Foto Berita Kejahatan: Pembantaian Terhadap Warga Mesuji
January 4th, 2012 § Leave a Comment
Di penghujung tahun 2011, masyarakat dikejutkan oleh pemberitaan media terkait dengan kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, yaitu di Kabpuaten Mesuji, Lampung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan dan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Satu di antaranya yang menarik ialah kasus pembantaian di Mesuji, terkait dengan tersebarnya foto dan video pembantaian di dunia maya. Pembantaian tersebut diduga dilakukan oleh sekelompok oknum Aparat Negara dan PAM Swakarsa terhadap warga atau petani di daerah setempat, yang berawal dari sengketa lahan antara warga dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT. Silva Inhutani.

Figure 1 Mahardhikka (19 Desemeber 2011), "Komnas HAM Mulai Telusuri Kasus Mesuji". Diakses dari http://www.centroone.com/news/2011/12/4r/komnas-ham-mulai-telusuri-kasus-mesuji/
Foto-foto kekerasan di Mesuji yang tesebar tersebut sejatinya berasal dari video rekaman, dan diunggah ke dunia maya. Setidaknya, terdapat dua video yang merekam peristiwa pembantaian tersebut, dan berasal dari peristiwa yang berbeda pula (http://www.balitv.tv, 19 Desember 2011). Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh sejumlah media internasional, banyak ahli yang menduga bahwa salah satu adegan dalam video pembantaian Mesuji merupakan hasil rekayasan yang menggabungkan adegan video konflik di Thailand Selatan (http://beritaprima.com, 17 Desember 2011). Namun demikian, terlepas dari kesimpangsiuran tentang keaslian foto dan video tersebut, foto-foto yang beredar secara jelas menggambarkan kekerasan dan pelanggaran HAM.
Dalam tulisan ini, penulis hanya akan menaruh perhatian pada foto (still image), dan mencoba menganalisis beberapa kumpulan foto pembantaian warga Mesuji yang dimuat oleh sejumlah media online, terkait pada reaksi dari viewer, dampak dan wacana tersirat, merujuk pada pembahasan yang dilakukan oleh Katherine Biber tentang foto atau citra visual dari kejahatan dalam Captive Images: Race, Crime, Photography (2007).
Fantasi, Pemaknaan dan Dampak
Fotografi (dalam hal ini yang mengandung unsur kekerasan) secara tidak langsung memberi kita cara singkat dalam menangkap fantasi akan ketakutan yang kita miliki (Biber, 2007: xi). Pemaknaan terhadap satu sajian visual tidak dapat lepas dari fantasi individu yang mempengaruhi pemahaman umumnya tentang realitas. Hasil dari pemaknaan ini akan berujung pada sikap dan tindakan yang kemudian diambil, sebagai bentuk reaksi atau dampak dari sajian foto-foto kejahatan.

Figure 2 "Tragedi Mesuji di Lampung (kabar pagi-tvOne)" dalam Finalia Kodrati & Arry Anggadha (17 Desember 2011), "Kontras: Sebagian Video Mesuji Diduga Benar ". Diakses dari http://nasional.vivanews.com/news/read/272973-kontras-tanggapi-soal-video-mesuji
Yang menarik, kegiatan melihat atau memperhatikan satu sajian visual itu tidak pernah bisa netral. Biber menjelaskan bahwa ketertarikan seseorang dalam melihat foto (dalam hal ini foto-foto kejahatan atau tindakan kekerasan) didorong oleh manajerial fantasi atau alam bawah sadarnya. Pada sajian visual kejahatan, yang mengandung unsur kekerasan, aspek paling penting yang harus dipertimbangkan, yang mungkin saja terjadi pada diri orang yang melihatnya ialah efek kecemasan atau traumatis. Biber, mengutip Slavoj Žižek, menjelaskan bahwa ‘kecemasan secara otomatis muncul pada diri orang yang melihat ketika ia tiba-tiba teringatkan pada keinginan alam bawah sadarnya’ (Biber, 2007: 119; mengutip Žižek, 1992b: 223). Pada titik itu, kita tidak bisa lepas dari perasaan ‘solidaritas’ pada karakter kunci yang ditunjukkan dalam foto.
Melihat kumpulan foto-foto pembantaian terhadap warga di Mesuji (halaman terlampir), fantasi dan pemaknaan akan berbeda-beda pada diri setiap individu. Jika pihak petani yang melihatnya, akan muncul semacam ketidakberpihakan pada oknum yang melakukan tindakan kekerasan, dan lebih memihak pada kelompok petani. Jika polisi yang melihatnya, pamaknaannya akan dipengaruhi oleh kehadiran figur petugas di dalam foto, yang bisa saja memunculkan ragam fantasi yang berbeda, apakah mengutuk tindakan oknum, atau mungkin justru mendukung. Hal ini menegaskan bahwa fantasi terkonstruksi dari sebuah ringkasan legitimasi: sejarah, kartografi, hukum, teks, ruang lingkup, properti, citra, dan ingatan (Biber, 2007: 124). Sajian visual dapat berujung pada reaksi terhadap krisis sosial dan bahkan memunculkan kepanikan.

Figure 3 Diakses dari http://masihangat.wordpress.com/2011/12/17/inilah-penjelasan-komnas-ham-soal-kasus-mesuji/
Foto dapat mengkomunikasikan informasi yang bahkan tidak dapat dilakukan oleh kata-kata. Vicki Goldberg (1991) menjelaskan bahwa ‘foto-foto memiliki dampak lebih cepat dan lebih ringkas daripada kata-kata, dampak yang seketika, mendalam, dan kuat’. Foto ‘berbagi kekuatan gambar secara umum, yang selalu bermain malapetaka dengan pikiran dan hati manusia‘. Selain itu, foto juga memiliki kemampuan untuk membentuk kesadaran nasional karena kekuatan ekspresif yang dimilikinya (Harvard Law Review, 1998: 1095).
Tindakan kekerasan yang terlihat pada foto pembantaian warga Mesuji memunculkan satu fantasi kecemasan terhadap brutalisme, terkhusus bagi masyarakat awam. Fantasi, yang sejatinya bertolak pada pengalaman-pengalaman dan ingatan-ingatan (seperti konflik di Poso dan Tanjung Priok), yang berujung pada nuansa traumatis, menghantarkan pada pemaknaan tentang gambar: masyarakat ditindas. Kumpulan foto pembantaian warga Mesuji menjadi semacam ekspresi atau ‘suara’ dari masyarakat yang tertindas itu sendiri, bukan berhenti pada informasi tentang tindakan kekerasan semata.
Dampak yang muncul kemudian dapat berbeda-beda. Namun, penelusuran dan penyelidikan secara kritis perlu dilakukan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan pengambilan langkah lanjutan yang sifatnya lebih mengutamakan pihak yang dirugikan. Pada titik ini, kita perlu membongkar wacana tersirat yang terkandung dalam foto.
Wacana Tersirat
Katherine Biber menjelaskan dalam bukunya Captive Images: Race, Crime, Photography (2007), tentang fotografi sebagai wadah untuk mengeksplorasi bagaimana kita memahami pelanggaran, penyimpangan, ras dan citra (imagery) yang tertanam kuat dalam fantasi kita dalam kedudukannya sebagai negara merdeka (nationhood). Hal ini berhubungan dengan bagaimana gambar yang kita lihat dapat mempengaruhi kita dalam menarik satu kesimpulan, yang kemudian mengarahkan kita pada pemahaman tentang wacana-wacana yang tersirat (Biber, 2007: xi).

Figure 4 Diakses dari "Aktivis lingkungan kutuk insiden Mesuji" Diakses dari http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=227503&Itemid=
Lebih lanjut, Biber mengatakan bahwa pembongkaran terhadap foto peristiwa kejahatan perlu bergulat dengan pertanyaan dasar, yaitu apa yang ada di dalam gambar, dan di mana gambar itu berada atau diambil (Biber, 2007: 6). Gambar-gambar yang dimuat oleh beberapa media online, terkait kasus pembantaian terhadap warga di Mesuji (lihat halaman terlampir), menunjukkan situasi atau keadaan berlangsungnya kerusuhan dan tindakan brutal oleh sekelompok orang terhadap kelompok lain. Pada gambar pertama hingga gambar keempat, ditunjukkan secara jelas posisi dan keadaan korban kekerasan yang tergeletak di antara orang-orang yang berdiri, yang sebagian besar mengenakan pakaian atau seragam petugas. Korban kekerasan ditampilkan dalam keadaan yang mengenaskan, tak berpakaian, tidak berdaya, dan bersimbah darah (lihat figure 1 – 4). Sementara itu, pada gambar kelima, ditunjukkan suasana kisruh para warga petani.
Gambar kerusuhan dan pembantaian terhadap warga atau petani itu diambil di sebuah lokasi atau lahan bernama Mesuji. Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Indonesia, Djoko Suyanto, menjelaskan bahwa foto (yang berasal dari video) pembantaian tersebut merupakan gabungan peristiwa yang terjadi di Kecamatan Mesuji, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, dan Kabupaten Mesuji, Lampung, antara tahun 2010, awal tahun 2011, dan penghujung tahun 2011. Sajian visual tersebut menggambarkan konflik antara warga dengan karyawan perusahaan dan petugas keamanan (http://www.balitv.tv, 19 Desember 2011).

Figure 5 Diakses dari "Foto Pembantaian Warga di Mesuji Lampung" http://www.idnewsblast.com/foto-pembantaian-warga-di-mesuji-lampung.html
Membaca apa yang tersaji dalam sebuah gambar (still image) sebagai sebuah informasi tidak dapat serta merta berhenti pada apa yang ditunjukkan. Perlu bacaan dan tafsir serta interpretasi terhadap apa yang tersirat di belakangnya. ‘Foto-foto, yang tidak bisa dengan sendirinya menjelaskan apa-apa, memicu tanpa henti suatu deduksi, spekulasi, dan fantasi’ (Sontag, 1971: 23). Biber, mengutip Walter Benjamin (1980: 215), menjelaskan bahwa ‘foto-foto saja tidak cukup. Foto tidak menangkap ‘kebenaran’ (the truth). Sebuah foto akan memiliki makna hanya ketika berbicara tentang sesuatu; foto tergantung pada bahasa’. Pendekatan yang dilakukan oleh Benjamin membuka peluang akan pertanyaan lebih lanjut tentang mobilisasi citra ke dalam wacana kekuasaan (Biber, 2007: 12). Pada titik ini, kita sebagai viewer berangkat kepada penerjamahan wacana-wacana yang terkandung pada persoalan yang lebih kompleks.
Melihat kumpulan foto pembantaian warga Mesuji, secara interpretatif, kita dihantarkan ke dalam ruang yang mengandung soal tentang perbedaan kuasa dan strata sosial, berhubungan dengan bagaimana praktek kekuasaan dijalankan melalui perangkat-perangkat kelembagaan, serta hubungan atau ‘perselingkuhan’ antara pemilik modal dan negara. Kumpulan foto tersebut menjadi semacam penegasan visual dari sebuah asumsi psiko-sosial yang meleburkan (dan memunculkan ambiguitas) praktek penertiban dengan tindakan pelanggaran (kekerasan). Pada satu sisi, kumpulan foto tersebut tidak lagi berbicara tentang bagaimana kekerasan terjadi di lahan sengketa, tetapi lebih mengarah kepada penyampaian tersirat atau sebagai bukti dari ketidakhadiran negara sebagai alat untuk melindungi masyarakat.
Pertimbangan ini merujuk pada dua pertanyaan dasar yang dikemukakan oleh Biber, yaitu apa isi gambarnya, dan dimana gambar itu diambil. Sajian visual kekerasan di dalam foto tersebut menginformasikan kepada kita bahwa telah terjadi tindakan brutalisme petugas terhadap warga masyarakat awam. Secara jelas diperlihatkan bagaimana korban kekerasan tidak berdaya di tengah-tengah para petugas keamanan yang bersikap wajar dalam menjalankan tugas. Tentunya visual seperti itu memberikan gambaran tentang kejamnya petugas dalam menghadapi warga.
Namun, pembacaan tidak berhenti di situ. Pengetahuan kita tentang lokasi pembantaian yang terjadi di Mesuji, tempat berlangsungnya konflik antara pemiliki perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Silva Inhutani, yang juga membentuk satuan pengamanan masyarakat PAM Swakarsa, membeberkan wacana yang selama ini terpendam dan tidak diketahui oleh khalayak. Gambaran kekerasan yang ada pada foto-foto tersebut secara lebih kuat menjelaskan tentang praktek ketidakadilan yang sedang berlangsung di lahan yang menjadi sengketa. Ketidakberdayaan warga yang mengalami kekerasan (figure 1 – 4) menjelaskan bagaimana penyimpangan-penyimpangan yang telah dilakukan oleh oknum atau aparat keamanan. Sementara itu, kisruh warga (figure 5) merepresentasikan bagaimana ketidakadilan tersebut mendorong gerakan massa, yang erat hubungannya dengan interaksi antara warga dan pihak perusahaan, dalam memperjuangkan hak-haknya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa praktek pengambilalihan lahan warga untuk kepentingan perusahaan dijalankan dengan mengerahkan unit-unit represif, dan ini besangkut-paut dengan negara sebagai pihak yang memiliki kekuasaan represif itu sendiri. Penafsiran dari sudut pandang ini membuka peluang bagi kita untuk mempertanyakan lebih lanjut tentang baik atau tidaknya sistem atau prosedur negosiasi yang berlangsung antara pihak perusahaan dengan warga setempat. Dengan demikian, kumpulan foto pembantaian Mesuji dibaca sebagai informasi tentang kegagalan negara dalam memenuhi kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.
Sumber Referensi
Biber, Katherine (2007). Captive Images: Race, Crime, Photography, USA: Routledge-Cavendish
Harvard Law Review (1998). Privacy, Photography, and the Press, Harvard Law Review, Vol. 111, No. 4 (Feb., 1998), pp. 1086-1103
Quan, R. H. (1979). Photography and the Creation of Meaning. Art Education, Vol. 32, No. 2 (Feb., 1979), pp. 4-9
Sontag, S (1971). On Photography, London: Penguin
Bali TV, “Tragedi Mesuji Terjadi Di Dua Tempat Berbeda”. Diakses Dari Http://Www.Balitv.Tv/Btv2/Index.Php/News/Suluh-Indonesia-Mainmenu-29/11618-Tragedi-Mesuji-Terjadi-Di-Dua-Tempat-Berbedare, tanggal 31 Desember 2011.
Berita Prima, “Video Mesuji Diduga Digabung Aksi di Thailand”. Diakses dari http://beritaprima.com/2011/12/17/video-mesuji-diduga-digabung-aksi-di-thailand/, tanggal 31 Desember 2011.
Mahardhikka (19 Desemeber 2011), “Komnas HAM Mulai Telusuri Kasus Mesuji”. Diakses dari http://www.centroone.com/news/2011/12/4r/komnas-ham-mulai-telusuri-kasus-mesuji/, tanggal 31 Desember 2011.
Viva News, “Kontras: Sebagian Video Mesuji Diduga Benar”. Diakses dari http://nasional.vivanews.com/news/read/272973-kontras-tanggapi-soal-video-mesuji, tanggal 31 Desember 2011.
http://masihangat.wordpress.com/2011/12/17/inilah-penjelasan-komnas-ham-soal-kasus-mesuji/, tanggal 31 Desember 2011.
Waspada Online, “Aktivis lingkungan kutuk insiden Mesuji” Diakses dari http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=227503&Itemid=, tanggal 31 Desember 2011.
Berita Terbaru, “Foto Pembantaian Warga di Mesuji Lampung” http://www.idnewsblast.com/foto-pembantaian-warga-di-mesuji-lampung.html, tanggal 31 Desember 2011.
________________________________________________________________
Tulisan ini merupakan arsip kuliah, tugas Ujian Akhir Semester, Mata Kuliah Berita dan Cerita Kejahatan, yang dikumpulkan pada tanggal 3 Januari lalu.
“Social two born to be an amazing twelve!”
January 4th, 2012 § Leave a Comment
itu yang ia teriakkan di dalam layar
ia protes jika disapa dengan a
mungkin,
“Social two born to be an amazing twelve!”
itu yang ia teriakkan di dalam daftar
aku sadar akan maksudnya: naungan menengah akhir
sekarang rumah yang baru sudah lagi ada
mungkin,
“Social two born to be an amazing twelve!”
itu yang ia teriakkan di dalam layar
kabar dari sana dari sini
sekarang ia lebih diam
mungkin,
“Social two born to be an amazing twelve!”
itu yang ia teriakkan di dalam daftar
massa maya mendukung
ia malah bertanya tentang pemahaman
mungkin,
“Social two born to be an amazing twelve!”
itu yang ia teriakkan di dalam layar
Zat Abadi dalam hatinya
tetap kuat dan teguh di tengah duka
mungkin,
“Social two born to be an amazing twelve!”
itu yang ia teriakkan di dalam daftar
di penghujung jaya di masa pra-dewasa
bermodalkan kedekatan menatap ke depan
mungkin,
“Social two born to be an amazing twelve!”
itu yang ia teriakkan di dalam layar
wacana riangnya menarik perhatian
satu syarat akan kekuatan
mungkin,
“Social two born to be an amazing twelve!”
itu yang ia teriakkan di dalam daftar
kini giliranku berteriak dua luar biasa dengan satu
aku paham (walau sedikit), dan harap ia terketuk
mungkin.
Lenteng Agung, 4 Januari 2012 Manshur Zikri
PLN gali lobang
January 2nd, 2012 § Leave a Comment
Lokasi di Jalan Lenteng Agung, deket markas Forum Lenteng.
wajah kami menghadapi LPK yang rumit
January 2nd, 2012 § Leave a Comment
Berikut ini adalah arsip galeri foto yang diambil pada Bulan Oktober 2011, ketika saya dan teman-teman mahasiswa lainnya mengerjakan tugas kuliah di kosan.









































