ANALISA STRATEGI PENCEGAHAN KEJAHATAN DENGAN PENDEKATAN PENCEGAHAN KEJAHATAN SITUASIONAL (Studi Terhadap Kantor Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata Seni dan Budaya Depok Berdasarkan Konsep Teknik-nya Cornish dan Clarke)

ANALISA STRATEGI PENCEGAHAN KEJAHATAN DENGAN

PENDEKATAN PENCEGAHAN KEJAHATAN SITUASIONAL

(Studi Terhadap Kantor Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata Seni dan Budaya Depok Berdasarkan Konsep Teknik-nya Cornish dan Clarke)

 

Disusun sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Strategi Pencegahan Kejahatan

Makalah Individual

Pengajar :

 

Drs. Dadang Sudiadi, M.Si.

Disusun Oleh :

Manshur Zikri                       0906634870

DEPARTEMEN KRIMINOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS INDONESIA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

            Pencurian merupakan suatu tindakan kejahatan yang seringkali terjadi di masyarakat dengan target berupa bangunan, seperti rumah, kantor, atau tempat umum lainnya. Maraknya pencurian yang terjadi menimbulkan keresahan bagi warga masyarakat. Keresahan yang muncul di masyarakat bukan tanpa alasan, hal ini disebabkan oleh intensitas tindakan kejahatan pencurian yang begitu tinggi. Contohnya saja, kasus pencurian yang marak terjadi di Kota Depok. Sejak awal tahun lalu, setidaknya ada lebih dari sepuluh kasus pencurian yang terjadi. Hal ini menjadi suatu fenomena yang lumrah terjadi di lingkungan perkotaan yang sedang dalam perubahan dan pertumbuhan, khususnya wilayah Kota Depok.

            Sistem pengamanan yang telah dirancang sedemikian rupa seolah tak berdaya membendung aksi dari para pelaku kejahatan pencurian. Berdasarkan berita-berita di berbagai media, kasus pencurian terjadi sering menimpa bangunan-bangunan yang seharusnya memiliki sistem pemangamanan yang baik, terutama wilayah perkantoran dan perumahan yang memiliki petugas, seperti satpam.

            Durkheim menyatakan bahwa kejahatan adalah suatu hal yang normal di dalam masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat tidak akan mungkin dapat terlepas dari tindak kejahatan karena kejahatan itu sendiri terus berkembang sesuai dengan kedinamisan masyarakat (Wolfgang, Savizt dan Johnson, 1970). Hal ini dapat dipahami bahwa kecenderungan yang dimiliki oleh manusia untuk terus mencari sesuatu yang baru untuk memecahkan masalah yang terjadi sebelumnya, atau untuk mencegah suatu masalah itu dapat terjadi. Dalam menghadapi kejahatan, manusia meningkatkan suatu sistem pengamanan. Namun demikian, pelaku kejahatan juga akan terus belajar dan mengembangkan teknik dan berbagai modus yang dapat melumpuhkan sistem pengamanan yang ada.

            Di dalam masyarakat yang sedang berubah, khususnya kota-kota satelit yang berada di sekitar Jakarta, seperti Kota Depok, sifat dari kejahatan tersebut juga akan berubah dengan cepat mengikuti perubahan di dalam masyarakatnya. Kecenderungan dari wilayah kota satelit yang berusaha mengimbangi ibukota menimbulkan suatu fenomena pembangunan yang kurang siap, dengan menguatnya peningkatan jumlah dan mobilisasi penduduk, dibarengi dengan pertumbuhan wilayah pemukikan (perumahan), perkantoran, pusat perbelanjaan yang mempertontonkan kesenjangan ekonomi (http://nasional.kompas.com/read/2011/01/ 20/03500169/,  2011). Kejahatan yang terjadi itu merupakan dampak dari hilangnya suatu sistem kontrol sosial akibat perubahan sosial yang terjadi. Hal ini dijelaskan oleh Susanne Karstedt dan Kai-D Bussmann dalam sebuah buku, berjudul Social Dynamics of Crime and Control (1999), sebagai berikut:

 Social change affects the total system of social control; as some might argue, its impact is more profound here than on deviancy and crime. Social change affects the very social relationships and the institutional structure where mechanisms of social control are embedded, and that are reproduced by successful social control…The structural and cultural change puts pressure on the efficiency of the penal justice system and institutions of formal social control. “Omni-market societies” and individualism seem to destroy the informal mechanisms of social control, or at least restrict the efficiency of vital networks of informal control: families, schools, neighbourhoods and communities. (Susanne Karstedt dan Kai-D Bussmann, 1999: 5)

            Karstedt dan Bussmann menjelaskan bahwa perubahan sosial mempengaruhi sistem kontrol sosial, bahkan memberikan dampak yang lebih mendalam daripada penyimpangan dan kejahatan. Perubahan sosial mempengaruhi hubungan sosial dan struktur kelembagaan yang menanamkan mekanisme kontrol sosial, Perubahan struktural dan kultural menempatkan tekanan pada efisiensi sistem lembaga kontrol sosial formal dan sistem peradilan pidana. “Masyarakat pasar-jamak” (yang dimaksud dengan istilah “pasar-jamak” ini adalah pasar modern atau pusat perbelanjaan) dan individualisme yang muncul kemudian tampaknya menghancurkan mekanisme kontrol sosial informal, atau setidaknya membatasi efisiensi jaringan vital kontrol informal, seperti keluarga, sekolah, lingkungan dan masyarakat.

            Kejahatan yang berkembang di masyarakat itu dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk atau jenis kejahatan yang beragam, dan dilatarbelakangi oleh faktor-faktor yang memiliki keterkaitan dengan tempat, waktu dan jenis kejahatan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa pakar menunjukkan bahwa kejahatan dapat terjadi karena proses dan situasi tertentu sehingga mendorong orang untuk melakukannya (Dadang Sudiadi, 2001: 2). Meskipun kesenjangan ekonomi menjadi hal utama yang mendorong orang untuk melakukan kejahatan, misalnya pencurian, aksi tersebut tidak akan dapat dilakukan ketika tidak pada waktu dan tempat yang memungkinkan, serta dengan modus kejahatan yang tepat (pendekatan situasional).

            Berbagai cara atau strategi telah dirancang untuk mencegah terjadinya tindakan kejahatan pencurian yang umumnya terjadi di lingkungan masyarakat. Strategi ini merupakan suatu cara untuk mengondisikan waktu dan tempat sedemikian rupa untuk mencegah atau menghilangkan kesempatan bagi para pelaku untuk melakukan kejahatan. Dari semua strategi itu, diantaranya adalah Neighbourhood Watch Program, yang menekankan peran aktif masyarakat dalam upaya pencegahan kejahatan; Community-Police Relation, yang menekankan peran serta masyarakat dalam membantu tugas-tugas kepolisian; Environmental Security, yang menekankan rangan fisik lingkungan; dan Defensible Space, yang tidak hanya menekankan rancangan atau setting lingukngan fisik, tetapi juga rancangan dan setting sosial (Dadang Sudiadi, 2001: 5-6).

            Dalam pendekatakan secara situasional, Clarke mendemonstrasikan 12 Teknik yang mencerminkan tiga orientasi umum dalam memahami lokasi yang menjadi target potensial dari kejahatan. Tiga orientasi itu adalah increasing the effort,  increasing the risk, dan reducing the rewards. 12 Teknik itu kemudian berkembang menjadi 25 teknik (Cornish dan Clarke, 2003), yang secara rinci menjelaskan salah satu standar dari strategi pencegahan kejahatan (Lihat Steven P. Lab, 2010: 196-200). Dalam makalah ini akan ditinjau suatu permasalahan dengan pendekatan pencegahan kejahatan situasional, berdasarkan Teknik-nya Cornish dan Clarke. Gagasan yang disampaikan oleh Cornish dan Clarke itu akan menjadi standar untuk melakukan analisis terhadap permasalahan yang akan dibahas.

  1. Permasalahan

            Berbagai strategi yang telah dipaparkan di atas adalah upaya yang dapat dilakukan untuk menanggapi perubahan sosial yang cenderung untuk menyemukan sistem kontrol sosial, baik formal maupun informal, yang secara aktif meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kejahatan. Namun demikian, ketidakmaksimalan dan disfungsi dari penerapan strategi pencegahan kejahatan menjadi satu persoalan tersendiri yang akhirnya tidak memberikan dampak berarti dalam mencegah terjadinya kejahatan. Hal ini terbukti pada kenyataannya bahwa kasus pencurian di Kota Depok masih saja terus terjadi.

            Pada Bulan Oktober, 2009 lalu, tiga brankas di tiga kantor Dinas Pemerintahan Kota Depok dibobol oleh maling. Kasus ini menimbulkan kerugian yang mencapai ratusan juta rupiah. Laporan yang disampaikan oleh Polres Depok mengindikasikan bahwa pencurian yang terjadi disebabkan oleh sistem pengaman yang tidak berjalan dengan baik (http://news.okezone.com/, Oktober 2009). Sedangkan pada Bulan Juni, 2010, kantor Dinas Pemuda dan Olahraga, Depok, menjadi target pencurian oleh 5 orang maling yang berhasil membawa kabur perangkat komputer dan beberapa alat-alat musik (http://bataviase.co.id/, Juli 2010).

            Pencurian masih tetap terjadi beberapa waktu lalu, yang menimpa lingkungan Perumahan Depok, Kota Depok, yang terjadi sebanyak dua kali dalam sehari, di Jalan Kedondong dan Jalan Belimbing (http://megapolitan.kompas.com/, Maret 2011). Dan satu bulan kemudian, giliran rumah redaktur media Harian Jurnal Depok, Billy Adhiyaksa, yang diserang oleh sekawanan pencuri (http://rimanews.com/, April 2011).

            Berdasarkan paparan berita dari berbagai media online diatas, dapat dikatakan bahwa kejahatan pencurian yang ada di masyarakat Depok, terutama di lingkungan perkantoran, perumahan, dan tempat umum lainnya masih terus terjadi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Merujuk hal ini, dapat dikatakan bahwa sistem pengamanan yang selama ini diterapkan di berbagai tempat atau lokasi perumahan, perkantoran dan tempat umum lainnya belum menjalankan fungsi yang semestinya.

            Oleh karena itu terdapat suatu keniscayaan untuk dilakukannya suatu tinjauan kritis dari sudut pandang pendekatan situasional, yang berupaya untuk memaparkan dan membuktikan apakah penerapan konsep strategi pencegahan kejahatan telah dijalankan dengan baik atau tidak, dengan mendasarkan studi pada satu tempat atau lokasi tertentu, yaitu kompleks perkantoran Pemerintah Kota Depok, Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Seni dan Budaya, yang terletak di Jalan Raya Citayam, Pancoran Mas, Kota Depok. Dalam melakukan penelitiannya, penulis mengajukan beberapa pertanyaan penelitian, sebagai berikut:

  1. Apakah kantor Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Seni dan Budaya (Dispora) Depok telah mencerminkan dan menerapkan strategi pencegahan kejahatan dengan pendekatan situational crime prevention yang baik dan benar (berdasarkan pada Teknik-nya Cornish dan Clarke)?
  2. Bagaimana sistem pengamanan yang dijalankan di kantor Dispora Depok?
  3. Bagaimana dan faktor apa yang menjadi kelemahan dari sistem pengamanan dan srtategi pencegahan kejahatan yang diopreasionalkan di kantor Dispora Depok?
  4. Tujuan

Tujuan dari penelitian yang dilakukan dan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui apakah strategi pencegahan kejahatan telah diterapkan dengan baik dan benar di kantor Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Seni dan Budaya (Dispora) Depok.
  2. Untuk mengetahui bagaimana bentuk sistem pengamanan yang dijalankan di kantor Dispora Depok.
  3. Mengetahui apa yang menjadi kelemahan dari sistem pengamanan dan strategi pencegahan kejahatan yang diterapkan di kantor Dispora Depok.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. Pencegahan Kejahatan

Untuk memahami konsep dari pencegahan kejahatan, kita tidak boleh terjebak pada makna kejahatannya, melainkan pada kata pencegahan. Freeman (1992) mencoba membongkar konsep dari pencegahan (prevention) itu dengan memecah katanya menjadi dua bagian unsur, yaitu prediksi (prediction) dan intervensi (intervention). Hal ini dapat dikatakan bahwa untuk mencegah terjadinya sesuatu hal (kejahatan), yang pertama sekali harus dilakukan adalah memprediksi kemungkinan dari tempat dan waktu terjadinya, dan kemudian menerapkan intervensi yang tepat pada titik perkiraannya (Daniel Gilling, 1997: 2).

Pada dasarnya, pencegahan kejahatan tidak memiliki definisi baku antara pakar satu dengan yang lainnya. Namun, inti dari pencegahan kejahatan adalah untuk menghilangkan atau mengurangi kesempatan terjadinya kejahatan. Seperti Ekblom (2005:28) menyatakan bahwa pencegahan kejahatan sebagai suatu intervensi dalam penyebab peristiwa pidana dan secara teratur untuk mengurangi risiko terjadinya dan/atau keseriusan potensi dari konsekuensi kejahatan itu. Definisi ini dialamatkan pada kejahatan dan dampaknya terhadap baik individu maupun masyarakat. Sedangkan Steven P. Lab memiliki definisi yang sedikit berbeda, yaitu pencegahan kejahatan sebagai suatu upaya yang memerlukan tindakan apapun yang dirancang untuk mengurangi tingkat sebenarnya dari kejahatan dan/atau hal-hal yang dapat dianggap sebagai kejahatan. (Lihat Steven P. Lab, 2010: 26).

Menurut National Crime Prevention Institute (NCPI), pencegahan kejahatan melalui pengurangan kesempatan kejahatan dapat didefinisikan sebagai suatu antisipasi, pengakuan, dan penilaian terhadap resiko kejahatan, dan penginisiasian beberapa tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi kejahatan itu, yang dilakukan dengan pendekatan praktis dan biaya efektif untuk pengurangan dan penahanan kegiatan kriminal (NCPI, 2001: xv).

Pencegahan kejahatan merupakan sebuah metode kontrol yang langsung, berbeda dari metode-metode pengurangan kejahatan yang lainnya, seperti pelatihan kerja, pendidikan remedial, pengawasan polisi, penangkapan polisi, proses pengadilan, penjara, masa percobaan dan pembebasan bersyarat, yang masuk ke dalam metode kontrol kejahatan secara tidak langsung (indirect control). Pencegahan kejahatan, secara operasional, juga dapat dijelaskan sebagai sebuah praktek manajemen risiko kejahatan. Manajemen risiko kejahatan melibatkan pengembangan pendekatan sistematis untuk pengurangan risiko kejahatan yang hemat biaya dan yang mempromosikan baik keamanan dan kesejahteraan sosial dan ekonomi bagi korban potensial (NCPI, 2001: 2).

Pengelolaan dari resiko kejahatan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai langkah, diantara meliputi:

  1. Menghapus beberapa risiko kejahatan dengan sepenuhnya;
  2. Mengurangi beberapa resiko dengan menurunkan sejauh mana cedera atau kerugian dapat terjadi;
  3. Penyebaran (pemecahbelahan) beberapa resiko kejahatan melalui langkah-langkah keamanan fisik, elektronik, dan prosedural yang menolak, mencegah, menunda, atau mendeteksi serangan pidana;
  4. Memindahkan beberapa resiko melalui pembelian asuransi atau keterlibatan korban potensial lainnya; dan
  5. Menerima beberapa risiko ((NCPI, 2001: 2).

Sesuai dengan perkembangannya, terdapat tiga pendekatan yang dikenal dalam strategi pencegahan kejahatan. Tiga pendekatan itu ialah pendekatan secara sosial (social crime prevention), pendekatan situasional (situtational crime prevention), dan pencegahan kejahatan berdasarkan komunitas/masyarakat (community based crime prevention).

Social crime prevention merupakan pendekatan yang berusaha mencegah kejahatan dengan jalan mengubah pola kehidupan sosial daripada bentuk fisik dari lingkungan. Pencegahan kejahatan dengan pendekatan ini menuntut intervensi dari pemerintah yang menyusun kebijakan dan penyedia fasilitas (alat-alat) bagi masyarakat dalam upaya mengurangi perilaku kriminal, dengan mengubah kondisi sosial masyarakat, pola perilaku, serta nilai-nilai atau disiplin-disiplin yang ada di masyarakat. Pendekatan ini lebih menekankan bagaimana agar akar dari penyebab kejahatan dapat ditumpas. Sasaran penyuluhan yang dilakukan oleh pembuat kebijakan adalah masyarakat umum dan pelaku-pelaku yang berpotensi melakukan kejahatan. Pendekatan ini memiliki hasil jangka panjang, tetapi sulit untuk mendapatkan hasil secara instan karena dibutuhkan pengubahan pola sosial masyarakat yang menyeluruh (Lihat http://www.agd.sa.gov.au/, diakses pada Bulan Maret, 2011).

Pendekatan yang kedua adalah situational crime prevention. Pencegahan secara situasional berusaha mengurangi kesempatan untuk kategori kejahatan tertentu dengan meningkatkan resiko (bagi pelaku) yang terkait, meningkatkan kesulitan dan mengurangi penghargaan (Clarke, 1997). Pendekatan ini memiliki tiga indikasi untuk menentukan definisinya, yaitu:

  1. Diarahkan pada bentuk-bentuk kejahatan yang spesifik.
  2. Melibatkan manajemen, desain atau manipulasi keadaan leingkungan sekitar dengan cara yang sistematis.
  3. Menjadikan kejahatan sebagai suatu hal yang sulit untuk terjadi, mengkondisikan bahwa kejahatan yang dilakukan akan kurang menguntungkan bagi pelaku (Clarke, 1997).

Situational crime prevention pada dasarnya lebih menekankan bagaimana caranya mengurangi kesempatan bagi pelaku untuk melakukan kejahatan, terutama pada situasi, tempat, dan waktu tertentu. Dengan demikian, seorang pencegah kejahatan harus memahami pikiran rasional dari para pelaku. Hasil dari pendekatan ini adalah untuk jangka pendek.

Pendekatan yang ketiga, community-based crime revention, adalah pencegahan berupa operasi dalam masyarakan dengan melibatkan masyarakat secara aktif bekerja sama dengan lembaga loal pemerintah untuk menangani masalah-masalah yang berkontribusi untuk terjadinya kejahatan, kenakalan, dan gangguan kepada masyarakat. anggota masyarakat didorong untuk memainkan peran kunci dalam mencari solusi kejahatan. Hal ini dapat dicapai dengan memperbaiki kapasitas dari anggota masyarakat, melakukan pencegahan secara kolektif, dan memberlakukan kontrol sosial informal (Lihat http://www.ojp.usdoj.gov/BJA/evaluation/program-crime-prevention/, diakses pada Bulan Maret 2011).

Pencegahan kejahatan berbasis masyarakat dapat meliputi Community policing, yaitu pendekatan kebijakan yang mempromosikan dan mendukung strategi untuk mengatasi masalah kejahatan melalui kemitraan polisi dengan masyarakat; dan Neighborhood Watch, yaitu sebuah strategi pengrehan masyarakat, di mana kelompk-kelompok dalam masyarakat mengatur, mencegah, dan melaporkan kejahatan yang terjadi dilingkungan mereka (Lihat Rick Linden, 2007). Selain itu dapat juga dilakukan dengan pemberlakuan program-program seperti Comperhensive Communities, yang menggabungkan beberapa pendekatan untuk menanggapi masalah dalam masyarakat;  dan dengan aktivitas penegakan hukum khusus yang berhubungan dengan kejahatan (http://www.ojp.usdoj.gov/… diakses Maret, 2011).

  1. Situational Crime Prevention

Mengingat pertanyaan penelitian adalah tentang tinjauan sistem pengamanan dengan pendekatan situasional, dalam makalah ini akan dibahas lebih mendalam tentang strategi pencegahan kejahatan melalui pendekatan situasional.

Alih-alih mencoba untuk membuat perubahan besar di seluruh komunitas atau lingkungan, pencegahan dengan pendekatan situasional ditujukan untuk masalah, tempat, orang, atau waktu tertentu. Pendekatan situasional mengasumsikan bahwa tingkat yang lebih besar dari identifikasi masalah dan perencanaan merupakan prioritas yang utama, dan bahwa dampaknya akan lebih terfokus. Identifikasi berpusat pada tempat dan individu yang beresiko mengalami viktimisasi, terutama berfokus pada viktimisasi berulang (Steven P. Lab, 2010: 192).

Pencegahan kejahatan situasional memiliki beberapa teori dasar yang melatarbelakanginya. Masing-masing dari teori ini dijelaskan oleh Steven P. Lab dalam bukunya Crime Prevention: Approaches, Practices and Evaluations, yang ia rangkum dari pendapat beberapa pakar (Lihat Steven P. Lab, 2010: 193-194), dan dalam makalah ini,  akan dijelaskan sebagai berikut:

Clarke dan Cornish (1985-1986) menjelaskan bahwa rational choice theory merupakan teori yang menyatakan bahwa masing-masing individu membuat keputusan untuk melakukan kejahatan berdasarkan keuntungan (input) yang bisa didapatkan, termasuk keterlibatan upaya, hasil, tingkat dorongan terhadap tindakan, resiko, hukuman, dan kebutuhannya.

Cohen dan Felson (1979) menjelaskan bahwa routine activity theory  merupakan hasil dari aktivitas harian masing-masing  individu memotivasi pelanggar atas target yang sesuai tanpa adanya wali. Konvergensi ini yang kemudian memberikan kesempatan bagi kejahatan terjadi. Cohen dan Felson menunjukkan pentingnya faktor aktivitas rutin dengan memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah rumah kosong di siang hari dan ketersediaan barang berharga portabel yang lebih besar di masa 1960-an membantu menjelaskan peningkatan perampokan perumahan. Peningkatan mobilitas masyarakat berfungsi untuk memicu/memunculkan sasaran/korban dan pelaku secara bersama-sama dengan frekuensi yang lebih besar daripada sebelumnya.

Sedangkan perspektif teori gaya hidup (lifestyle theory) secara khusus berfokus pada aktivitas korban sebagai faktor dalam tindak pidana. Hindelang et al. (1978) menunjukkan bahwa pilihan gaya hidup dan perilaku dari seorang individu membantu menentukan apakah ia akan menjadi korban atau tidak. Sebagai contoh, orang yang sering menghabiskan waktu di klub-klub malam akan lebih berpotensi menjadi korban dan korban berulang dari tindakan kejahatan.

  1. Teknik-nya Clarke

Pada tahun 1992 Clarke memperkenalkan 12 teknik yang membagi empat garis besar dalam pendekatan pencegahan kejahatan situasional. Pembagian empat garis besar tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Sumber : Steven P. Lab, Crime Prevention: Approaches, Practices and Evaluations, 2010: 196

Dalam poin pertama, increasing the effort, merupakan suatu upaya untuk meningkatkan usaha dari pertahanan tempat, terdiri dari target hardening (menguatkan kekuatan tempat), access control (kontrol terhadap akses luar-dalam), deflecting offenders (tindakan yang menawarkan cara alternatif atas perilaku yang tidak diinginkan, misalnya menyediakan tempat tongkrongan anak-anak muda yang jauh dari kantor), dan controlling facilitators (membatasi dan menghilangkan situasi atau item yang berkontribusi terhadap kejahatan, seperti senjata, minuman beralkohol, atau telepon umum yang mungkin dapat digunakan dalam kejahatan pengedaran obat terlarang). Poin yang kedua, increasing the risk, merupakan upaya pengawasan formal maupun informal, yang terdiri dari entry/exit screening (suatu bentuk pengawasan yang memungkinkan pendeteksian pelaku potensial, contohnya penempatan sensor elektronik terhadap barang yang ada di Bandar udara), formal surveillance (seperti penempatan kamera pengawas infra merah, penguatan petugas keamanan, atau penggunaan alarm), surveillance by employees (pegawai kantor ikut serta dalam usaha pencegahan dengan menangkap pelaku atau mengawasi pelaku potensial), dan natural surveillance (misalnya dengan penerangan lampu jalanan, penerapan rancangan defensible space). Dan poin yang ketiga, reducing the rewards, yang meliputi target removal (merupakan tindakan seperti membatasi hal-hal yang membuahkan hasil besar bagi pelaku, misalnya tidak menyimpan uang atau barang-barang berharga), identifying property (dengan member tanda pada setiap property yang berpotensi untuk dicuri atau dirusak oleh pelaku), removing inducements (menghapus hal-hal yang merangsang pelaku potensial, seperti menghindari memarkir mobil mewah atau sepeda motor yang tidak dikunci), dan rule setting (sarana menetapkan standar perilaku dan kepatuhan bagi karyawan dan masyarakat). Pada perkembangannya, demi mendapatkan suatu strategi untuk mencegah munculnya korban, Cornish dan Clarke memodifikasi 12 Teknik itu menjadi 25 Teknik, dengan menambahkan dua garis besar, yaitu reduce provocation, yaitu menghilangkan pihak-pihak yang dapat memotivasi terjadinya pelanggaran, dan reduce excuses, yaitu seperti pembatasan alasan terhadap hal-hal tertentu (pelarangan membawa minuman beralkohol, perangan parker, standar kecepatan berkendaraan, dsb) (Clarke, 1992; Lihat Steven P. Lab, 2010: 196-200). Secara singkat, 25 teknik itu dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 2. Sumber : Steven P. Lab, Crime Prevention: Approaches, Practices and Evaluations, 2010: 196

Masalah tentang sistem pengamanan yang dioperasionalkan pada kantor Dispora Depok akan dianalisa dengan pendekatan situasional dalam strategi pencegahan kejahatan, dengan berdasarkan pada 12/25 teknik oleh Cornish dan Clarke sebagai panduan analisisnya.

BAB III

TEMUAN LAPANGAN DAN ANALISIS

  1. Temuan Data

Penulis melakukan tinjauan terhadap lokasi dan bangunan kantor Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Seni dan Budaya (Dispora) Depok, Jawa Barat. Data diperoleh dengan melakukan observasi data sekunder melalui media online, observasi ke lapangan, yaitu bangunan kantor dan lingkungan sekitarnya, dan melakukan wawancara dengan petugas satpam di kantor tersebut dan beberapa warga yang tinggal di lingkungan perumahan belakang kantor. Data temuan lapangan yang didapatkan oleh penulis adalah sebagai berikut:

  1. Denah lokasi

Gambar 1: Denah Lokasi. Sumber: http://files.ppikotadepok.webnode.com/200000634-616736260f/Persyaratan%20Seleks…

Kantor ini terletak di Jalan Raya Citayam, No 24, Depok, Jawa Barat. Terletak dipinggir jalan, di depan deretan rumah toko (salah satunya adalah Bengkel PROKISS).

  1. Bentuk fisik bangunan

Bangunan ini terdiri dari tiga tingkat, dengan area parkir berada di depan kantor (dengan luas perkiraan muatan lebih kurang tiga mobil sedan). Kantor tersebut berpintu kaca, dilampis dengan pintu rolling gate. Di samping kanan kiri area parkir kantor terdapat tembok yang memiliki tinggi lebih kurang dua hingga empat meter.

Karena area parkir yang kecil, kantor tersebut tidak memilik pos/kantor jaga satpam, melainkan tempat satpam berjaga berada di dalam kantor (lantai pertama), tepat berada di depan pintu kaca. Selain itu, kantor ini tidak memiliki pintu pagar yang menutupi area parkir.

  1. Keadaan lingkungan sekitar bangunan

Di depan kantor ini adalah jalanan aspal (Jalan Citayam Raya) yang ramai dilalui oleh kendaraan bermotor. Di seberang jalan, berdiri sederetan rumah toko.

Bangunan ini merupakan gedung yang serupa dengan petakan rumah toko, yang memanjang ke belakang. Di belakang bangunan ini, tempat aliran air comberan yang memiliki lebar lebih kurang dua hinga tiga meter. Dan di sekitar parit itu merupakan perumahan warga yang tingga di RW 04, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas. Parit (aliran air comberan) merupakan batas antar RW 04 dengan RW 02 (kantor Dispora Depok termasuk RW 02).

Berikut ini gambar lebih rinci mengenai denah lingkungan sekitar bangunan kantor Dispora Depok:

Gambar 2: Denah lingkungan sekitar kantor Dispora Depok

  1. Data/fakta terkait dengan kantor Dispora Depok

Fakta terkait dengan kantor Dispora Depok, didapatkan dari tinjaun melalui media online, yaitu kasus pencurian yang pernah terjadi sekitar satu tahun lalu di kantor tersebut, yang terjadi pada dini hari. Seperangkat alat komputer dan beberapa alat musik berhasil dilarikan oleh pelaku pencuri. Berita tentang kasus tersebut dapat dilihat pada kutipan dari salah satu media online, yang diakses dari http://bataviase.co.id/, tertanggal 24 Juli 2010, sebagai berikut:

DEPOK-Belum lagi terungkap kasus pembobolan brankas di tiga kantor Dinas Pemerintah Kota (Pemkot) Depok oleh polisi beberapa bulan lalu, kini aksi pencurian kembali terjadi. Kali ini menimpa kantor Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Depok di Jalan Kartini, Pancoran Mas, Kota Depok yang jadi sasaran kawanan pencuri. Pelaku lebih dari 5 orang berhasil membawa kabur komputer dan alat berbagai alat musik.

Aksi pencurian yang terjadi Jumat (23/7) dinihari diyakini pelaku masuk melalui pintu depan kantor setelah lebih dahulu merusak kunci rolling gate dan pintu kaca. Anehnya, saat peristiwa terjadi kantor itu dijaga dua penjaga keamanan. Tapi, dua petugas itu malah terlelap tidur. Baru pada pukul 05.00 pintu kantor terbuka. Dari pemeriksaannya diketahui 4 unit CPU, dua unit monitor serta piano merk Yamaha hilang. Kondisi kantor juga berantakan.

Kasat Reskrim Pokes Metro Depok, Kompol Ade Rahmat Idnal mengatakan aksi pencurian terjadi saat petugas dalam kondisi lengah dan tertidur. “Kita sudah periksa empat orang. Termasuk kepala dinas terkait yang kantornya kemalingan,” ucapnya. Sedangkan dua saksi penjaga, juga telah dimintai keterangan. Keduanya adalah Roni dan Budi, (rko).

Dari kutipan berita di atas dapat dilihat bahwa kantor Dispora Depok merupakan salah satu tempat yang pernah menjadi target dari pelaku pencurian. meskipun peristiwa tersebut terjadi sekitar satu tahun yang lalu, masih terdapat kemungkinan bahwa kantor Dispora Depok menjadi target korban berulang, mengingat hasil tinjauan yang telah dilakukan. Analisa dari sistem pengamanan, dan apa-apa saja yang menyebabkan tempat ini rawan untuk menjadi target korban berulang akan dijelaskan pada subbab selanjutnya.

  1. Analisa

Cornish dan Clarke menjelaskan bahwa pada dasarnya terdapat tiga pendekatan dasar dalam upaya pemberian intervensi terhadap pencegahan kejahatan, yaitu surveillance, target hardening, dan environmental management (Lihat Steven P. Lab, 2010: 195). Yang pertama adalah surveillance (pengawasan), yaitu sebuah istilah yag memiliki pengertian bahwa target atau sumber daya manusia yang berada di target potensial memiliki kemampuan untuk menangkap/mendapatkan/melihat suatu tindakan yang akan atau sedang terjadi sehingga dapat dilakukan suatu usaha untuk mencegah atau menangkap pelaku kejahatan. Dalam hal ini, sistem pengamanan diperkuat dengan berbagai perangkat pengawas, seperti petugas keamanan dan alaram tanda bahaya (formal surveillance) dan/atau memiliki penerangan yang baik dan penggunaan kamera CCTV (natural surveillance).

Yang kedua adalah target hardening, yaitu suatuintervensi yang dapat dilakukan untuk memperkuat pertahanan dari gedung/bangunan/lokasi. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian kunci ganda, kaca anti-pecah, lemari besi, sensor pengaman, dan sebagainya. Sedangkan yang ketiga adalah environmental management, yaitu suatu upaya untuk membuat perubahan dalam rangka mengurangi kesempatan terjadinya kejahatan.

Merujuk pada penjelasan sederhana dari Clarke ini, bisa dilihat bahwa kantor Dispora Depok tidak memenuhi kriteria sebagai bangunan atau tempat yang memiliki sistem pengaman yang baik. Dalam temuan data yang telah dipaparkan sebelumnya, secara geografis, kontor Dispora Depok terletak di wilayah yang dekat dengan jalanan besar (Jalan Raya Citayam), di sekitar rumah toko (sebagian diantaranya merupakan tempat usaha bisnis/rumah toko, seperti percetakan, bengkel, restoran, dan pusat perbelanjaan). Sesuai dengan penjelasan Karstedt dan Bussmann, daerah yang memiliki mobilisasi penduduk yang cepat adalah daerah yang berpotensi memiliki tingkat kejahatan yang tinggi.

Daerah lingkungan dengan tingkat kriminalitas yang tinggi itu didukung dengan pernyataan oleh petugas satpam yang bekerja di kantor Dispora Depok:

“Di sini kebetulan lokasinya rawan, di sini. Terus terang, kalau buat lingkungan, Alhamdulillah sejak saya di sini, nggak ada apa-apa. Rawan, ya karena ini jalur cepat, kalau sudah masuk daerah kota kembang sana, bablas.” (Transkrip wawancara 1, lihat halaman terlampir)

Sedangkan secara fisik, bangunan ini juga belum memenuhi standar dari gagasan, baik 25 Teknik-nya Cornish dan Clarke maupun 12 Teknik-nya Clarke. Dalam poin increase the effort, disebutkan bahwa dalam member ketahan terhadap bangunan dari pengrusakan pelaku kejahatan, bangunan diberikan perangkat yang dapat menguatkannya, seperti kunci gembok, sensor antri pencurian, kartu pas elektronik. Jika kita lihat dalam foto yang tertera pada subbab temuan data, kantor Dispora Depok itu sendiri tidak memiliki pagar pembatas antara jalan raya dengan area parkir yang berada langsung di depan kantor.

Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa kantor tersebut  bahkan tidak memiliki baik pos keamanan/pos jaga untuk satpam maupun kamera pengawas, atau kunci khusus yang mempersulit kesempatan dari pelaku kejahatan. Penjagaan oleh satpam hanya pada siang hari, sedangkan malam harinya penjagaan dialihkan kepada OB (office boy). Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh petugas satpam, yaitu sebagai berikut:

“Di sini, biar pun tamu, untuk waspada,… pake gembok.”

Kuncinya di luar.”

Kamera nggak ada kita. Cuman ada yang jaga malam aja, piket, kayak OB, dua. Satpam Cuma sampe siang aja.” (Transkrip wawancara 1, lihat halaman terlampir).

Seperti yang dilaporkan dalam media bahwa modus pencurian yang dilakukan adalah dengan mencongkel kunci rolling gate dan merusak pintu kaca. Di sini merupakan salah satu titik kelemahan dari sistem keamanan di kantor Dispora Depok, yang menggunakan pintu rolling gate dengan kunci gembok terpasang di luar, yang dengan mudahnya dapat di rusak oleh pelaku kejahatan. Penjagaan oleh OB (office boy), atau tenaga yang bukan profesional, juga merupakan kelemahan fatal dari sistem pengamanan yang ada di kantor tersebut. hal ini kemudian yang mengebabkan kantor menjadi target yang sangat potensial bagi pelaku kejahatan.

Mengenai area parkir, potensi viktimisasi juga sangat kuat untuk kantor ini. Area parkir yang sangat dekat dengan jalan raya, pada dasarnya dapat mengundang pelaku potensial, serta memberikan kemudahan bagi pelaku untuk melarikan diri setelah melakukan aksinya. Hal ini sesuai dengan gagasan yang dari salah satu poin dalam 25 teknik Cornish dan Clarke, off-street parking (lokasi parkir yang jauh dari jalan raya).

Dalam kasus pencurian, terdapat data bahwa pelaku pencurian melarikan diri melalui belakang gedung, melalui tempat aliran air comberan (parit). Hal ini berdasarkan dari pengakuan salah satu warga:

“Oh, itu? Itu sebelum ada ronda, itu. gara-gara pencurian makanya ada ronda, karena larinya kemari dia, kan?”

“Ini kan TV nya dulu diambil, kan? Lewat kali ini (menunjuk parit).”

Lewat kali ini (mengangguk).” (Transkrip wawancara 2, lihat halaman terlampir).

Jika kita melihat dalam foto, tembok yang berada di kanan-kiri area parkir tidak memiliki semacam perangkat pengamanan dari pelaku kejahatan pencurian, seperti kawat berduri atau kaca tajam, melainkan hanya berupa tembok datar yang dapat demgan mudah untuk dipanjat oleh pelaku kejahatan.

Dari pembahasan ini, jelas sudah bahwa sistem pengamanan dari Dispora Depok, sejatinya gagal memenuhi syarat dalam poin increase the effort, increase the risks, dan reduce the rewards, yang menekankan pada perangkat penguat pertahanan bangunan, pengawasan yang mengurangi kesempatan, penjagaan melalui sistem sekuriti profesional, dan pengurangan faktor penarik pelaku kejahatan.

Namun demikian, kantor Dispora Depok sendiri tidak melakukan perubahan yang berarti dalam environtemtal management. Karena sejak setahun yang lalu, secara fisik bangunan luar dan sistem keamanan tidak mengalami peningkatan, seperti penambahan kamera pengawasa (CCTV), pemberian pagar, dan sebagainya.

Jika kita merujuk pada 12 Teknik-nya Clarke atau 25 Teknik-nya Cornish dan Clarke, pada dasarnya teknis ini dapat diterapkan dan dioperasinalkan di lingkungan kantor Dispora Depok. Seperti misalnya penempatan pos penjagaan satpam yang terletak di dalam ruangan (di balik pintu kaca) kantor, hal itu dapat diperkuat dengan penggunaan kamera pengawas CCTV. Penggunaan kamera CCTV ini akan lebih efektif memantau area di depan kantor, karena bangunan kantor yang hanya tunggal dengan sisi depan yang menghadap ke jalan. Sedangkan pada bagian belakang, terutama di siang hari, warga masyarakat sangat ramai melakukan aktivitas di sekitar pekarangan rumah sehingga mengurangi momentum bagi pelaku kejahatan. Setelah kejadian kasus pencurian di tahun 2010 lalu, sistem ronda dari warga sekitar mulai berjalan, sehingga jika ada kemungkinan pelaku masuk dari dinding belakang kantor, hal itu dapat diantisipasi dengan ronda warga.

Pengamanan dari sekuriti pada dasarnya juga harus ditingkatkan. Karena bangunan hanya berdiri tunggal, semakin banyak tenaga penjaga akan memperluas jangkauan pengawasan dan akan mempersempit gerak para pelaku kejahatan dalam melakukan aksinya di kantor tersebut. Selain itu, pembangunan pagar pembatas antara area parkir dengan jalan raya juga merupakan suatu keharusan, demi memenuhi syarat off-street parking yang ada dalam 25 Teknik-nya Cornish dan Clarke.

BAB IV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

Berdasarkan pembahasan analisa yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan atas tinjauan kritis terhadap bangunan kantor Dispora Depo, terkait sistem pengamanannya, dengan anlisa pendekatan situasional berdasarkan Teknik yang digagas oleh Cornish dan Clarke, yaitu sebagai berikut:

  1. Kantor Dispora Depok belum menerapkan sistem pengamanan dengan pendekatan pencegahan kejahatan situasional dengan baik dan benar. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya syarat dari teknik yang digagas oleh Cornish dan Clarke yang tidak terpenuhi dalam sistem pengamanan kantor tersebut, seperti kurangnya sumber daya sekuriti (satpam), perangkat pertahanan bangunan (seperti pagar, kunci anti pencuri, dan pagar di area parkir), dan terlalu terbukanya peluang rewards bagi pelaku kejahatan karena area parkir yang dekat dengan jalan raya.
  2. Sistem penjagaan yang dioperasionalkan oleh Dispora Depok hanya mengandalkan tenaga satpam yang beroperasi di siang hari, sedangkan di malam hari penjagaan dialihkan kepada OB (office boy). Penutupan area parkir pada malam hari hanya dengan menggunakan rantai, dan kunci rolling gate hanya dengan kunci gembok biasa. Dan di kantor itu tidak terdapat semacam perangkat khusus yang menunjuang, misalnya kamera CCTV yang merupakan sauatu hal yang penting.
  3. Sangat minimnya sistem penjagaan dan pengawasan, serta sumber tenaga sekuriti dari kantor Dispora Depok tersebut menjadi titik kelemahan dari sistem pengamanan kantor Dispora Depok. Selain itu, lokasi yang terletaktepat (dan sangat dekat) dengan jalan raya, jalur cepat, dan lingkungan yang rawan, menyebabkan kantor Dispora Depok menjadi target yang sangat potensial untuk menjadi korban kejahatan, seperti pencurian.

Rekomendasi:

  1. Penerapan teknik yang digagas oleh Cornish dan Clarke menjadi suatu kebutuhan yang sangat diperlukan guna menguatkan sistem pengamanan dari kantor Dispora Depok.
  2. Dibutuhkan intervensi dari Pemerintah Kota Depok dalam hal pembiayaan dan fasilitasi sistem pengamanan tersebut.
  3. Pemindahan lokasi dari Jalan Raya Citayam, menuju ke wilayah yang lebih aman dengan sistem keamanan yang lebih baik, merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU:

Clarke, Ronald V. (ed.) Situational Crime Prevention: Successful Case Studies. Second Edition. New York: Harrow and Heston Publisher, 1997.

Gilling, Daniel. Crime Prevention: Theory, Policies and Politics. London & New York: Routledge (Taylor & Francis Group), 2005.

Karstedt, Susanne., Kai-D Bussmann. Social Dynamics of Crime and Control: New Theories for a World in Transition (Onati International Series in Law and Society).UK: Hart Publishing, 2000.

Lab, Steven P. Crime Prevention: Approaches, Practices and Evaluations. Seventh Edition. USA: Anderson Pub Co., 2010.

National Crime Prevention Institute (NCPI). Understanding Crime Prevention. Second Edition. Boston/Oxford/Auckland/Johannesburg/Melbourne/New Delhi: Butterworth-Heinemann, 2001.

Wolfgang, Marvin E., Leonard Savizt, Norman Johnson. The Sociology of Crime and Delinquency. Second Edition. New York/London/Sydney/Toronto: John Wiley & Sons In., 1962, 1970

JURNAL:

Gerard, Eleanor. A Model Crime Prevention Division Eleanor. Journal of Criminal Law and Criminology (1931-1951), Vol. 34, No. 5 (Jan. – Feb.,1944), pp. 344-360

Hope , Tim. Community Crime Prevention. Crime and Justice, Vol. 19, Building a Safer Society: Strategic Approaches to CrimePrevention (1995), pp. 21-89Published

Clarke , Ronald V. Situational Crime PreventionAuthor. Crime and Justice, Vol. 19, Building a Safer Society: Strategic Approaches to CrimePrevention (1995), pp. 91-150

Linden, Rick. Situational Crime Prevention: Its Role in Comprehensive Prevention Initiatives.  Volume 1: pages 139–159. March/mars 2007. http://www.prevention-crime.ca

 

TESIS

Sudiadi, Dadang. Pencegahan Kejahatan Melalui Desai Lingkungan (Suatu Analisis Tentang Penerapan Konsep Defensible Space-nya Newman dalam Upaya Pencegahan Kejahatan di Perumahan Pesona Depok I). Tesis. Depok: Universitas Indonesia Program Pascasarjana Bidang Ilmu Sosial Studi Sosiologi Kekhususan Kriminologi, 2001.

INTERNET

Hidayat, A. R. Tiga Jam, Ada Dua Pencurian di Perumahan. Kompas.com, 21 Maret 2011. Diaskes dari http://megapolitan.kompas.com/, Mei 2011

Kantor Dispora Depok Kemalingan. Bataviase.co.id, 24 Juli 2010. Diakses dari http://bataviase.co.id/node/309809, Mei 2011

Kawanan Pencuri Bobol Rumah Wartawan Harian Jurnal Depok. Rimanews.com, 21 April 2011. Diaskes dari http://rimanews.com/, Mei 2011

Sifat Kejahatan Mengikuti Perubahan Masyarakat. Kompas.com 20 Januari 2011. Diakses dari http://nasional.kompas.com/read/2011/01/ 20/03500169/,  Mei 2011

Social Crime Prevention. Diakses dari http://www.agd.sa.gov.au/services/crime_ prevention/pdfs/ SocialCrimePreventionFactSheet.pdf, Maret 2011.

Virdhani , M. H. 3 Brankas Bobol, Pemkot Depok Evaluasi Pengamanan. Okezone.com, 27 Oktober 2009. Diakses dari http://news.okezone.com/read/2009/10/27/338/ 269427/338/3-brankas-bobol-pemkot-depok-evaluasi-pengamanan, Mei 2011

What Are Community-Based Crime Prevention Programs?. Bureau of Justice Assistance. Center for Program Evaluation and Performance Measurement. Diakses dari http://www.ojp.usdoj.gov/BJA/evaluation/program-crime-prevention/cbcp1.htm, Maret 2011

Persyaratan Calon Peserta Seleksi Paskibraka (CAPASKA) Tingkat Kota Depok Tahun 2011. Diakses dari http://files.ppikotadepok.webnode.com/ 200000634-616736260f/Persyara

tan%20Seleks…

LAMPIRAN

Transkrip Wawancara 1: Wawancara dengan petugas satpam

Pertanyaan dari penulis

Jawaban Joko (nama samaran)

Jam berapa tadi, Mas, buka kantornya? Kalau aktif kerja, jam setengah delapan, kan kalau jam tujuh itu kita harus apel (upacara) di sini. Selesai kerja biasanya jam setengah empat itu… , kadang-kadang kalau banyak kegiatan jam empat lima udah selesai. Kadan-kadan ada yang sampai jam 12, jam 11 malam.
Itu kantornya sendiri bukanya sampai jam berapa, Mas? Ng, jam enam ini udah buka kantor…
Nggak, maksud saya tutupnya jam berapa? Tutupnya sampai jam lima, kadan-kadang sampai malam, jam sepuluh. Kalau jam sepuluh malam itu biasanya kalau banyak kegiatan, kayak pameran festival kemaren, pada lembur bikin…
Kalau yang tentang kasus pencurian tahun lalu itu, Abang tahu ceritanya, nggak? Oh, kalau peristiwa itu mah saya kurang tahu. Kalau bisa, tanya saja sama OB-nya. Kalau saya, kan di sini jaga cuman siang. Malam itu ada yang jaga, OB, 2 orang, (tapi) yang satu lagi off.
Satpam nggak ada sampai malam? Satpam nggak ada. Saya di sini ngawas kendaraan aja.
Abang di sini sejak tahun berapa? Saya di sini udah dua tahun, tahun dua ribu…sepuluh…tahun 2010 awal.
(diam) Di sini, biar pun tamu, untuk waspada,… pake gembok.
Gemboknya itu, berarti di luar ya? Kuncinya di luar (mengangguk)
Dan ini, tiga lantai kepake ama Dispora semua? Kepake semua (mengangguk)
Kalau sistem keamana lain, Bang, seperti kamera, gitu? Kamera nggak ada kita. Cuman ada yang jaga malam aja, piket, kayak OB, dua. Satpam Cuma sampe siang aja.
Waktu pertama kali nyampe sini, bingung, pos satpamnya nggak ada (tertawa). Tadinya kan mau dibuat pos satpam, saya juga, kan  jaga di depan juga tuh. Terus kan karena di sini (dari dalam ruangan) pandangannya enak, jadi saya bisa ngawasin gitu.
(diam) Di sini kebetulan lokasinya rawan, di sini. Terus terang, kalau buat lingkungan, Alhamdulillah sejak saya di sini, nggak ada apa-apa. Rawan, yak arena ini jalur cepat, kalau suda masuk daerah kota kembang sana, bablas.
Kalau misalnya malam hari, lingkungan di sini gimana? Semenjak ada kebobolan kemarin, kan (satu tahun yang lalu), ada yang jaga malam, ronda, warga-warga sini.
Maksud saya, kalau malam hari, lalu lintas di depan sini, itu rame atau… Oh, rame…
(diam) (diam)
Kebijakan dari kantornya sendiri nggak ada, ya? Seperti penambahan sistem keamanan…  atau… Soal keamanan, ya… kurang tahu juga saya itu. nggak sempat nanya ke atasan, kan.
Maksud saya nggak ada konfirmasi atau perintah apa gitu…? Nggak ada…
Jadi cuman standar, pake konci… ya… Heeh… kunci… ya kemaren kan di sini sempet rapte juga… sekarang kan dikasih rante (biar) nggak masuk sini.

Transkrip wawancara 2: Wawancara dengan salah satu warga yang tinggal di belakang kantor Dispora Depok

Pertanyaan penulis

Jawaban salah seorang warga

Pak, di sini masuk kecamatan mana, ya Pak? Pancoran Mas…
Kelurahan…? Kelurahan Depok.
Kalau ronda itu, sejak kapan ya, Pak, berlakunya? Ronda… tahun 2010.
Kan dulu kantor Dispora ini pernah kasus pencurian, Pak. Sebelum itu atau sesudah? Pencurian yang mana?
Ini, kantor yang ini (menunjuk kea rah kantor) Oh, itu? Itu sebelum ada ronda, itu. gara-gara pencurian makanya ada ronda, karena larinya kemari dia, kan?
Ini kan TV nya dulu diambil, kan? Lewat kali ini (menunjuk parit).
Pencurinya lari lewat kali ini? Lewat kali ini (mengangguk).
Itu bisa dipanjat, emang? Sebelum dibata (dilampisi batu bata)… itu kan baru setengah jadi itu, kan? Waktu itu belum ada, belum berdiri. Makanya, dia lewat situ.
Kalau ronda itu setiap hari apa aja, Pak? Setiap hari…
Mulai dari kapan Dari jam dua belas malam, tapi jam sepuluh sudah mulai ada yang nongkrong di pos ronda.
About these ads

One thought on “ANALISA STRATEGI PENCEGAHAN KEJAHATAN DENGAN PENDEKATAN PENCEGAHAN KEJAHATAN SITUASIONAL (Studi Terhadap Kantor Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata Seni dan Budaya Depok Berdasarkan Konsep Teknik-nya Cornish dan Clarke)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s