Tugas dari dosen: HUBUNGAN KONDISI LINGKUNGAN DAN REAKSI SOSIAL MASYARAKAT DENGAN KASUS PENCURIAN DI KAWASAN KUKUSAN TEKNIK LINGKUNGAN UNIVERSITAS INDONESIA

Catatan dari Manshur Zikri:

Tugas ini adalah tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial. Kami mahasiswa Kriminologi UI dituntut untuk dapat membuat sebuah proposal penelitian sosial yang kriminologis dengan memanfaatkan substansi materi kuliah yang sudah didapat. Sekedar pemberitahuan, tugas saya ini masih banyak mengandung kesalahan. Karena pada waktu tugas ini dikumpul, sang dosen mengundi beberapa proposal yang menjadi tumbal untuk dikritik olehnya, biar semua mahasiswa tahu apa hal-hal yang selalu keliru dilakukan oleh mahasiswa dalam membuat proposal penelitian. Namun dosen tidak menyebutkan nama orang yang membuat makalah dengan alasan agar tidak malu si mahasiswa bersangkutan. Malangnya, proposal saya adalah salah satu yang menjadi tumbal, dan dari judulnya saja, semua orang di dalam kelas segera tahu bahwa itu adalah proposal saya (karena dalam membuat proposal, mahasiswa diizinkan untuk bertukar pikiran dan ide). Beruntungnya, proposal saya dibahas cukup habis-habisan sehingga saya tahu dimana letak salahnya. Kesalahan yang fatal adalah pada perumusan masalah yang belum tergambar dengan baik. Pada bagian yang salah, akan saya beri warna tulisan merah.

Proposal ini saya post untuk me-sharing pengetahuan kepada pembaca sekalian yang budiman. Semoga dapat diambil manfaat.

 

HUBUNGAN KONDISI LINGKUNGAN DAN REAKSI SOSIAL MASYARAKAT

DENGAN KASUS PENCURIAN DI KAWASAN KUKUSAN TEKNIK

LINGKUNGAN UNIVERSITAS INDONESIA

Disusun sebagai Proposal Penelitan Sosial

Oleh:

Manshur Zikri, 0906634870

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK, 2010

 

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tingkat kriminalitas di Kota Depok masih tinggi. Tindakan kejahatan, seperti pencurian barang, masih membayangi warga masyarakat. Banyak kasus yang belum tertangani dengan baik oleh aparat penegak hukum. Berdasarkan pemberitaan yang dilakukan oleh media massa Tempo Interaktif, tertanggal 3 Januari 2010, sepanjang tahun 2009 terdapat 603 kasus pencurian kendaraan bermotor, namun hanya sekitar 75 kasus yang berhasil diselesaikan oleh polisi, sekitar 12 % dari jumlah total kasus pencurian. Angka kejadian kasus perbulannya mencapai 10 hingga 15 kasus. Dan angka ini terus meningkat di bulan Januari, Februari, Mei, dan November mencapai 45 hinga 50 kasus perbulannya. Di tahun 2010, kasus pencurian kendaraan bermotor masih menjadi perhatian Kepolisian Resor Depok.

Kasus pencurian kendaraan bermotor ini hanyalah sebagian kecil dari banyak kejadian kasus pencurian dengan berbagai modus. Seperti isu yang beredar di masyarakat, kasus pencurian juga merambah rumah-rumah, seperti rumah kontrakan dan kos-kosan mahasiswa. Seperti yang diberitakan oleh media online, www.indosiar.com, kasus pencurian yang menyerang mahasiswa di daerah kos-kosan terjadi di tahun 2009, di mana barang yang dicuri adalah barang pribadi milik seorang mahasiswa, yaitu berupa laptop dan dan telepon genggam.

Terkait dengan isu yang berkembang tentang pencurian, di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia juga heboh dengan banyaknya laporan kehilangan barang berharga. Dalam forum media online, http://spmblover.18.forumer.com, ada sebuah pernyataan yang bersumber dari laporan Kepolisian Sektor Beji, yang mengatakan bahwa hingga Agustus 2008 terdapat  116 kasus pencurian dan hanya 24 kasus yang dalangnya terungkap. Namun begitu, kasus pencurian ini bukan hanya mengancam mahasiswa, tetapi warga masyarakat setempat secara keseluruhan. Isu tentang kasus pencurian ini terus menyebar seiring dengan meningkatnya kasus-kasus pencurian tersebut.

Universitas Indonesia adalah universitas di Depok dengan jumlah mahasiswa yang terbanyak dan memiliki cakupan wilayah yang luas. Beberapa daerah, seperti Kober, Belakang Rel (Barel), Pondok Cina (Pocin), Kukusan Kelurahan (Kukel) dan Kukusan Teknik (Kutek) adalah kawasan yang didiami oleh mahasiswa. Berdasarkan pertimbangan itu, ada asumsi bahwa kasus pencurian yang menimpa wilayah Universitas Indonesia memiliki tingkat kerugian yang besar dan membuka peluang yang cukup besar bagi pelaku pencurian. Dalam waktu enam bulan terakhir, terdapat lebih dari sepuluh kasus tentang kecurian atau kehilangan barang di wilayah kos-kosan mahasiswa, terutama di tempat peneliti tinggal, yaitu Kukusan Teknik. Berita-berita ini didapat dari pengakuan beberapa mahasiswa, yang mengatakan bahwa barang-barang mereka, seperti laptop, telepon genggam, dan sepeda motor hilang atau dicuri orang. Bahkan ada berita yang mengatakan bahwa mahasiswa yang bersangkutan mengalami pergulatan dengan pelaku pencurian tersebut. Angka itu tidak dapat dikatakan kecil mengingat pemberitaan media yang menegaskan angka kasus pencurian yang terus meningkat. Namun tidak banyak laporan-laporan resmi dari suatu lembaga yang secara detil menjelaskan angka kasus pencurian ini. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya korban yang tidak melapor kepada polisi dan memilih untuk diam dan mengikhlaskan barang yang hilang atau dicuri tersebut.

Cerita atau isu ini terus menyebar ke seluruh warga masyarakat di wialayah Kukusan Teknik, baik melalui perbincangan para mahasiswa maupun warga yang bukan mahasiswa, seperti pemilik rumah kontrakan, pedagang, atau orang-orang yang memiliki kontrakan-kontrakan yang dijadikan lahan usaha.

Dengan beredarnya isu pencurian barang di rumah-rumah kontrakan atau kamar kos ini, sejatinya yang menjadi pertanyaan di benak warga masyarakat adalah mengenai keamanan yang berjalan di daerah tempat mereka tinggal. Kehadiran orang asing di wilayah-wilayah sekitar Universitas Indonesia bukan menjadi sesuatu yang ganjil di mata masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan bahwa umumnya penduduk yang mendiami wilayah di sekitar kampus adalah mahasiswa rantauan, yang setiap tahunnya bertambah atau berganti. Oleh karena itu, untuk saat ini, tidak ada yang bisa menjamin bahwa ada pengawasan ketat terhadap kehadiran orang asing di daerah-daerah yang rawan dengan perilaku kriminal. Aktivitas mahasiswa yang bahkan masih dilakukan hingga lewat tengah malam adalah hal yang biasa dan tidak terlalu menjadi perhatian. Selain itu, kewaspadaan dari mahasiswa sendiri dan kondisi lingkungan di Kukusan Teknik menjadi hal yang patut dipertanyakan pula.

Karena kepedulian sebagai mahasiswa yang juga tinggal di wilayah terjadinya kasus, peneliti menganggap hal ini sesuatu yang perlu mendapatkan perhatian. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai fenomena kasus pencurian yang melanda daerah Kukusan Teknik, Beji, Depok ini dengan harapan dapat memberikan gambaran dan berusaha menjawab masalah tersebut.

 

1.2 Rumusan Masalah

Sebagai wilayah yang berada di lingkungan akademis Universitas Indonesia, seharusnya Kukusan Teknik, yang sebagian besar didiami oleh mahasiswa, dapat menjadi kawasan yang aman dan terjaga dari kasus-kasus kejahatan, seperti pencurian.

Dari fakta dan pengamatan yang telah dilakukan, peneliti mendapat pengakuan-pengakuan dari mahasiswa yang tinggal di Kukusan Teknik, dengan jumlah angka yang tidak sedikit, yang menyatakan bahwa mereka telah kehilangan atau kecurian barang-barang pribadi, seperti laptop, telepon genggam, sepeda motor. Beberapa dari narasumber juga mengakui sempat bertatap muka dengan palaku pencurian.

Kukusan Teknik sebagai daerah tempat tinggal mahasiswa belum bisa dikatakan aman dan terjaga dari kasus-kasus pencurian barang-barang pribadi. Dari perumusan masalah ini, diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

  1. Apa yang menyebabkan wilayah Kukusan Teknik menjadi salah satu target dari pelaku pencurian?
  2. Bagaimana reaksi sosial masyarakat yang tinggal di daerah Kukusan Teknik terhadap tindakan kriminal pencurian?
  3. Seberapa jauh tingkat keamanan dan kewaspadaan warga masyarakat, termasuk mahasiswa, di Kukusan Teknik terhadap tindakan pencurian yang sedang marak terjadi di wilayah tersebut?
  4. Bagaimana hubungan antara tempat tinggal kosan atau rumah kontrakan, calon korban yang umumnya berstatus mahasiswa, serta waktu (pagi, siang dan malam) dengan bentuk-bentuk pencurian dan frekuensi terjadinya pencurian?

 

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah diajukan, dapat dirumuskan tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

  1. Mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan Kukusan Teknik menjadi salah satu target dari para pelaku pencurian untuk melaksanakan aksinya.
  2. Memberikan gambaran denga jelas tentang reaksi sosial masyarakat yang tinggal di daearh Kuksan Teknik terhadap tindakan kejahatan pencurian.
  3. Mengidentifikasi tingkat keamanan dan kewaspadaan warga masyarakat Kukusan Teknik terhadap tindakan pencurian yang dapat terjadi.
  4. Menjelaskan hubungan antara variabel-variabel yang ada, seperti tempat tinggal, korban, dan waktu dengan bentuk-bentuk pencurian dan jumlah tindakan pencurian yang terjadi.

 

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan jawaban terhadap permasalahan kasus pencurian yang sedang terjadi di lingkungan Universitas Indonesia, khusus untuk wilayah Kukusan Teknik.
  2. Memberikan informasi dan masukan tentang penanggulangan masalah kriminalitas di lingkungan Universitas Indonesia, khususnya tentang kasus pencurian, bagi berbagai pemangku kepentingan terkait sehingga dapat tercapai keadaan masyarakat yang aman dan tentram.
  3. Memberikan sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang studi kejahatan, khususnya tentang studi kasus pencurian yang marak terjadi di masyarakat.

 

 

TINJAUAN PUSTAKA


2.1      Kerangka Teoretis

2.1.1   Pengertian mencuri dan tindakan pencurian

Dengan kalimat yang sederhana, kata mencuri dapat diartikan sebagai mengambil barang orang lain tanpa diketahui oleh orang yang memiliki barang tersebut. Secara istilah, mencuri berarti mengambil barang orang lain dengan cara yang tidak sah menurut hukum agama maupun hukum adat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mencuri diartikan sebagai mengambil (mempergunakan) milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi. Dari beberapa pengertian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa mencuri adalah suatu tindakan yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain sehingga mencuri menjadi suatu tindakan yang dianggap tercela dan merupakan suatu tindakan kejahatan. Sementara pelaku atau orang yang mencuri disebut sebagai pencuri.

Pencurian adalah perbuatan mengambil barang atau hak, baik seluruhnya maupun sebagiannya adalah milik orang lain, tanpa diketahui atau mendapatkan izin dari orang yang memiliki barang atau hak tersebut, dengan maksud untuk dimiliki dengan cara melanggar hukum. Pengertian pencurian menurut pasal 362 KUHP merupakan perumusan pencurian dalam bentuk pokoknya, berbunyi: “Barang siapa mengambil suatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp. 900,00”.

Dalam pasal 363 KUHP dijelaskan lebih lanjut bahwa yang termasuk dalam kategori pencurian, dengan hukuman yang lebih berat, yaitu paling lama tujuh tahun penjara, adalah tindakan mengambil barang atau hak yang dilakukan pada waktu terjadi suatu musibah, seperti kebakaran, banjir, atau bencana alam lainnya. Pencurian dapat dilakukan pada waktu kapan saja tergantung situasi dan kondisi yang memungkinkan si pelaku untuk melakukan aksinya. Pencurian yang dilakukan pada waktu malam hari dalam sebuah rumah atau perkarangan tertutup yang ada rumahnya, dilakukan oleh seseorang tanpa diketahui atau dikehendaki oleh orang yang berhak; dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu; mengambil barang yang hendak dicuri yang dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu adalah criteria pencurian yang diatur dalam KUHP.

Merujuk kepada pengertian yang telah disampaikan tersebut, terdapat Unsur-unsur pencurian antara lain adalah:

  • adanya unsur tindakan mengambil (wegnemen).,
  • ada barang (benda) atau hak yang diambil, dan
  • unsur seluruhnya atau sebagiannya adalah milik orang lain.

Perbuatan mengambil (wegnemen) merupakan suatu tindakan positif atau perbuatan materiil yang dilakukan dengan sengaja menggunakan tangan (jari-jari tangan atau otot) kemudian diarahkan  kepada benda, menyentuhnya, memegangnya, mengangkatnya, lalu membawa barang tersebut dan memindahkannya ke tempat lai atau ke dalam suatu kekuasaan lain (kekuasaan orang yang mengambil barang). Namun pengertian mengambil barang dengan jari-jari tangan tersebut bukanlah mutlak sebagai patokan untuk menentukan pencurian. Unsur utama dari perbuatan mengambil adalah adanya suatu tindakan yang aktif, yang ditujukan kepada suat benda dan berpindahnya benda itu ke dalam suatu kekuasaannya, di mana benda itu berpindah secara nyata dan mutlak. (Kartanegara, 1:52 atau Lamintang, 1979:79-80). Berpindahnya kekuasaan benda ke dalam kekuasaan pelaku (orang yang mengambil barang) adalah syarat utama dari selesainya suatu pencurian. Hal ini sesuai dengan apa yang ternyata dalam Hoge Raad, tertanggal 12 Nopember 1894, yaitu “”perbuatan mengambil telah selesai, jika benda berada pada pelaku, sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui”.

Unsur yang kedua adalah ada benda. Terdapat dua jenis benda, yaitu benda yang bergerak dan benda tidak bergerak. Menurut KUHP Perdata, pasal 509, benda bergerak adalah benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan. Sebaliknya, benda yang tidak bergerak adalah benda yang tidak dapat berpindah atau dipindahkan. Suatu benda tidak bergerak bisa menjadi objek pencurian apabila telah terlepas dari sifat benda tetapnya. Contohnya adalah pohon, yang tidak dapat berpindah kemudian ditebang lalu dipindahkan (illegal logging).

Unsur yang ketiga adalah kepemilikan, baik sebagaian atau keseluruhan. Unsur seluruhnya atau sebagiannya adalah milik orang lain dapat diartikan sebagai barang yang dimiliki oleh dua orang atau lebih, di mana salah satunya adalah si petindak dan yang lain bukan petindak.

2.1.2    Pencurian dan kaitannya dengan pola kejahatan

Pengertian kejahatan yang sesuai dengan kriminologi yang sosiologis adalah:

  1. pola tingkah laku yang dilakukan oleh seorang individu atau sekelompk individu (terstruktur maupun tidak),maupun suatu organisasi (formal maupun non formal) yang merugikan masyarakat (secara materi, fisik, maupun psikologis). Beberapa tingkah laku yang merugikan tersebut, melalui suatu proses politik oleh lembaga legislative dapat dirumuskan secara yuridis sebagai pelanggaran hukum (pidana) dan kepada pelakunya diberikan sanki pidana;
  2. pola tingkah laku individu, sekelompok individu, maupun suatu organisasi yang bertentang dengan perasaan moral masyarakt, dan kepada pelakunya masyarakat memberikan reaksi non-formal. (Muhammad Mustofa, 2007)

 

Pola adalah tindakan atau peristiwa yang selalu berulang secara relatif dan teratur. Pola tingkah laku yang bermaknsa sosilogis berarti bahwa tingkah laku yang dipertangakan tersebut sering terjadi di masyarakat dan melanggar sentiment kolektif. (Ibid.) Dalam hal ini, pencurian adalah suatu tingkah laku yang dilakukan dengan memberikan akibat kerugian kepada orang lain. Pencurian dilakukan dengan suatu pola (berulang-ulang) dan tergantung situasi dan kondisi yang dapat memberikan kesempatan kepada pelaku.

2.1.3   Reaksi Sosial Masyarakat Terhadap Kejahatan

Reaksi di sini bukan merupakan gejala alam, tetapi reaksi oleh manusia. Reaksi dapat diartikan sebagai suatu bentuk tindakan yang dilakukan oleh orang terhadap suatu rangsangan atau provokasi dari luar (orang lain), di mana rangsangan ini dapat berbentuk berbagai tindakan, misalnya tindakan kejahatan, pujian, olok-olok dan sebagainya.

Reaksi masyarakat terhadap kejahatan adalah pola bentuk tindakan yang dilakukan oleh warta masyarakat secara bersama-sama. (Muhammad Mustofa, 2007).

Terdapat tiga reaksi formal masyarakat menurut Prof. Dr. Muhammad Mustofa, antara lain adalah:

  1. Reaksi formal, yaitu bentuk tindakan masyarakat yang dilakukan oleh lembaga-lembaga masyarakat yang dibentuk secara formal oleh Negara untuk menanggulangi kejahatan.
  2. Reaksi informal, yaitu bentuk-bentuk tindakan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi dalam system peradilan pidana terhadao pelaku kejahatan, tetapi tindakan tersebut tidak mengacu kepada ketentutan hukum yang berlaku.
  3. Reaksi non-formal, yiatu berbagai bentuk tindakan yang dilakukan oleh warta masyarakat secara langsung terhadap pelaku kejahatan maupun gejala kejahatan tanpa ada kaitannya dengan system peradilan pidana.

Dalam hal ini, pengendalian sosial secara konseptual merupakan bagian dari reaksi non-formal masyarakat. Menurut Roucek (1987):

 

“pengendalian sosial adalaj istilah tentang kolektivitas yang melaluinya dilakukan proses-proses, terencana maupun tidak, tempat individu-individu dididik, dibujuk, ataupun dipaksa untuk selaras dengan kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai hidup dari kelompo.” (Lihat Soekanto, Tjandrasari, 1987: 2)

 

Kaitannya denga kasus pencurian, pasti terdapat unsur reaksi soaial masyarakat terhadap tindakan kejahatan tersebut, dengan takaran yang berbeda-beda. Reaksi sosial masyarakat sebagai pengendali sosial menjadi penting karena dengan keberadaannya suatu tindakan kejahatan dapat terjadi atau tidak.

 

 

 

2.1.4   Characteristic of Crimes

Menurut National Crime Survey (CNS), hamper sebagian kejahatan atau tindakan yang melanggar hukum terjadi di malam hari. Dua pertiga dari pelaku pencurian, perampokan dan perkosaan melakukan aksi di atas pukul enam sore sementara kejahatan lain, seperti penjambretan, terjadi di siang hari. Selain itu, hampir keseluruhan bentuk kejahatan terjadi di ruang public, seperti jalanan, taman dan sekolah. Sedangkan kejahatan pemerkosaan terjadi di rumah korban (36 %).  (Larry J. Siegel, 1983: 83)

Angka kejahatan dengan pelaku tunggal adalah 70% sementara korban tunggal adalah 90%. Satu dari tiga kasus tindakan melanggar hukum, memiliki karakteristik di mana si pelaku menggunakan senjata, seperti senjata api dan pisau. Maka dari itu banyak dari korban pelaku kejahatan melakukan perlawanan. Sekitar 81% adalah korban dari pemerkosaan, 76% adalah korban kasus penyerangan, dan 61% adalah kasus perampokan atau pencurian dengan karakteristik korban melakukan perlawanan terhadap pelaku. (Ibid.)

 

 

2.2      Kerangka Berpikir

Suatu kejahatan dalam kriminologi sosiologis adalah suatu peristiwa yang terpola, terjadi berulang-ulang di masyarakat secara realatif dan teratur. Tindakan pencurian termasuk ke dalam kejahatan karena merupakan tindakan pengambilan suatu barang yang bukan milik sendiri sehingga menimbulkan kerugian bagi orang lain atau masyarakat. Pencurian terjadi karena terpola, di mana kesempatan menjadi unsur penting dilakukannya suatu kejahatan. Kesempatan untuk terjadinya suatu kejahatan dapat muncul apabila kesiapan dan kewaspadaan dari masyarakat, baik dari lembaga atau masyarakat umumnya, melonggar. Kesiapan dan kewaspadaan ini adalah bagian dari reaksi sosial masyarakat terhadap suatu tindakan kejahatan tersebut, dalam hal ini adalah pencurian. Lemahnya reaksi masyarakat akan menyebabkan semakin tingginya angka kejahatan karena peluang yang semakin besar, apalagi didukung oleh situasi dan kondiri (terkait lokasi dan waktu) yang mendukung pelaku untuk melancarkan aksinya.

 

2.3      Kerangka Konsep

Gambar 1. Kerangka konsep

2.4      Hipotesis

Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah hipotesis pengarah, sebagai kesimpulan sementara berdasarkan kerangka konsep. Hipotesis pada penelitian ini adalah bahwa selain kondisi lingkungan yang menjadi salah satu faktor, reaksi sosial masyarakat di kawasan Kukusan Teknik rendah atau lemah sehingga menyebabkan angka tindak kejahatan pencurian di daerah tersebut terbilang cukup tinggi.

 

 

3. METODE PENELITIAN

 

3.1 Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan secara kuantitiatif. Jenis penelitiannya adalah penelitian eksplanatif, yaitu berusaha menjawab dan mencari tahu kaitan dan hubungan antara variabel-variabel yang ditentukan, yang memiliki pengaruh terhadap tindak kejahatan pencurian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei.

 

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan pada bulan November 2010 hingga pertengahan bulan Desember 2010 di kawasan Kukusan Teknin, Kecamatan Beji, Depok.

 

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Pengambilan data yang dilakukan adalah pengambilan data primer dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner dan interview guide. Pengumpulan data primer akan dilakukan melalui peninjauan langsung ke lapangan dan survei ke lapangan ini juga bertujuan untuk melakukan identifikasi data. Beberapa objek penting akan didokumentasikan untuk keperluan analisis dan pembahasan

 

3.4      Populasi dan sampel

Populasi dalam peneltian ini adalah seluruh areal yang termasuk cakupan wilayah Kukusan Teknik, Kecamatan Beji, Depok. Penarikan sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling, yaitu seluruh unit di dalam populasi akan diwakili sampel-sampel yang diambil secara acak.

 

3.5 Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini dirangkum dalam Tabel 1 berikut:

 

Tabel 1. Variabel penelitian

Pertanyaan penelitian Variabel
Bebas Terikat
  1. Bagaimana reaksi sosial masyarakat yang tinggal di daerah Kukusan Teknik terhadap tindakan kriminal pencurian?
  1. Reaksi sosial masyarkat formal
  2. Reaksi soisal masyarakat non formal
Jumlah angka pencurian
  1. Seberapa jauh tingkat keamanan dan kewaspadaan warga masyarakat, termasuk mahasiswa, di Kukusan Teknik terhadap tindakan pencurian yang sedang marak terjadi di wilayah tersebut?
  1. Sistem keamanan
  2. Tingkat kewaspadaan masyarakat
Modus pencurian dan jumlah angka pencurian
  1. Bagaimana hubungan antara tempat tinggal kosan atau rumah kontrakan, calon korban yang umumnya berstatus mahasiswa, serta waktu (pagi, siang dan malam) dengan bentuk-bentuk pencurian dan frekuensi terjadinya pencurian?
  1. Lokasi rumah (rumah kontrakan atau kosan)
  2. Status korban
  3. Waktu pencurian
Bentuk dan modus pencurian serta jumlah angka pencurian

 

3.6 Rencana analisis data

Analisis data dengan cara analisis eksplanatif yang dimaksudkan dalam metode analisis data untuk mengolah data dari hasil kuesioner dan interview guide. Tahapan pengolahan antara lain dengan cara melakukan proses editing, pengelompokan dan koding data, dan menghitung frekuensi dan kemudian ditabulasi. Fungsi editing adalah untuk memastikan kelengkapan data, pengisian, kejelasan tulisan, kejelasan makna jawaban dan relevansi jawaban satu sama lainnya, serta keseragaman data. Setelah proses editing, dilakukan pengelompokan data untuk memudahkan analisa, lalu dilakukan penghitungan frekuensi, dan terakhir dilakukan ditabulasi. Penganalisaan ini akan menjawab masalah dengan melihat kekuatan hubungan antara variabel-variabel yang telah ditentukan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mustofa, Muhammad. Kriminologi. Jakarta: FISIP UI PRESS, 2007

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). http://www.jsmp.minihub.org/English/webpage/reso/KUHP%20indo..pdf (diakses tanggal 1 November, 2010)

Siegel, L.J. Criminology. St. Paul: West Publishing CO., 1983

 

 

Catatan akhir dari Manshur Zikri untuk postingan ini:

Pada saat membahas masalah dalam proposal, si dosen berkata sambil tertawa, “Nah, ini dia letak salahnya: menurut fakta dan pengamatan… kan seharusnya belum penelitian, kok udah pengamatan? Aneh ini.. hehehe!”

Untuk kerangka teoretis, saya harus memasukkan teori tambahan, yaitu tentang crimes in space, dimana saya belum mendapatkan buku yang baik untuk dijadikan referensi tentang teori itu. Saya masih berusaha menghubungi dosen agar mau meminjamkan buku itu supaya saya bisa memperbaiki propsal penelitian saya.

Variabel penelitian, saya sudah berusaha menggunakan tabel, tetapi tetap keliru, karena saya tidak memberi penjelasan tentang indikator dari variabel tersebut. Tentang variabel dan indikator ini kemudian dijelaskan kembali oleh sang dosen pada pertemuan kemarin (saat proposal sudah dikumpulkan), baru lah saya mengerti penggunaan indikator, dan ternyata sangat penting untuk membuat kuesioner.

 

Semoga postingan ini bermanfaat bagi semua.

:)

 

 

 

 

 

 


About these ads

2 thoughts on “Tugas dari dosen: HUBUNGAN KONDISI LINGKUNGAN DAN REAKSI SOSIAL MASYARAKAT DENGAN KASUS PENCURIAN DI KAWASAN KUKUSAN TEKNIK LINGKUNGAN UNIVERSITAS INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s