Hal-hal apa sajakah yang dipelajari dalam kriminologi? [Part 1]

Tulisan ini diketik ulang dari sumber bacaan: kriminologi: Kajian Sosiologi Terhadap Kriminalitas, Perilaku Menyimpang dan Pelanggaran Hukum, Muhammad Mustofa, 2007: 15-28

Dari berbagai definisinya, ruang lingkup kriminologi dapat dikategorikan dalam penelitian tentang pola kejahatan dan pola kriminalitas, cirri dan pola yang berhubungan dengan pelaku kejahatan, pola viktimisasi, pola peranan dan kedudukan korban dalam peristiwa kejahatan dan hukum, serta pola reaksi masyarakat terhadap kejahatan, penjahat maupun korban kejahatan.

Tulisan kali ini, fokus pembahasan adalah kriminologi secara sosiologis, atau sosiologis praktis (melandaskan diri pada konsep sosiologis, bukan pada konsep yuridis). Pendefinisian ini akan membawa implikasi ilmiah yang khusus, yakni syarat-syarat untuk melakukan penelitian kejahatan dan penjahat yang sesuai dengan tradisi ilmiah sosiologi.

Perumusan Kejahatan secara Sosiologis

Pengertian kejahatan yang sesuai dengan kriminologi yang sosiologis adalah:

  • pola tingkah laku yang oleh seorang individu, atau sekelompok individu (terstruktur maupun tidak), maupun suatu organisasi (formal maupun non formal) yang merugikan masyarakat (secara materi, fisik, maupun psikologis). Beberapa tingkah laku yang merugikan tersebut, melalui suatu proses politik oleh lembaga legislative dapat dirumuskan secara yuridis sebagai pelanggaran hukum (pidana) dan kepada pelakunya dikenakan sanksi pidana;
  • pola tingkah laku individu, sekelompok individu, maupun suatu organisasi yang bertentangan dengan perasaan moral masyarakat, dan kepada pelakunya masyarakat memberikan reaksi non formal.

Sebagai penejelasan, pada pengertian yang pertama (a) sering disebut sebagai kejahatan dengan cirri utama terdapat korban (individu, kelompok, organisasi) yang menderita kerugian fisik, psikologis atau materi. Sedangkan pengertian yang kedua (b) disebut sebagai perilaku menyimpang yang sesungguhnya tidak ada pihak manapun yang dirugikan ketika tindakan ini dilakukan. Pada kasus yang kedua ini lebih sering dikenal sebagai perialku kemaksiatan, seperti pelacura, perjudian, pemabukan, pemadatan, homoseksual, dan lain-lain yang tidak sesuai dengan moralitas masyarakat.

Pola tingkah laku yang bermakna sosiologis berarti bahwa tingkah laku yang dipertanyakan itu sering terjadi di masyarakat dan melanggar sentiment kolektif. Durkheim (1966: 66-67) menjelaskan bahwa dalam konteks ini, kriminologi yang sosiologis mempertanyakan tentang berapa tingkat kejahatan yang terjadi di suatu masyarakat, mengapa pada masyarakat yang berbeda tingkat dan bentuk kejahatannya berbeda, dan bagaimana hubungan antara tingkat kejahatan dengan populasi penduduk, bagaimanakah kecenderungan tingkat kejahatan di suatu periode dibandingkan periode lain apakah cenderung meningkat atau cenderung menurun? Kriminalitas akan selalu dapat ditemukan dalam setiap masyarakat, kendatipun tingkat dan bentuk berbeda-beda dalam setiap masyarakat yang berbeda pula, Durkheim mengatakan kejahatan sebagai gejala yang normal karena tidak mungkin ada masyarakat tanpa kejahatan.

“Kenormalan kejahatan semata-mata muncul dengan tidak melampaui tingkat yang memungkinkan masyarakat mampu mengendalikannya.”

Oleh karena itu, kejahatan sebagai gejala sosial adalah bukan semata-mata tindakan atau perilaku yang dilarang oleh hukum, melainkan tindakan yang merugikan dan melanggar sentiment masyarakat, dan sering terjadi di masyarakat sehingga membentuk suatu pola  atau keteraturan. Dengan begitu, meskipun pernah terjadi suatu tindakan yang merugikan masyarakat atau melanggar sentiment masyarakat, namun tindakan tersebut jarang terjadi (tidak membentuk pola) maka tindakan tersebut tidak relevan sebagai objek penelitian kriminologi.

Peristiwa kejahatan atau pelanggaran hukum pidana yang sifatnya tidak terpola (jarang terjadi) itu belum akan menjadi perhatian kriminologi yang sosiologis untuk diteliti. Contohnya adalah tindakan pelanggaran hukum pidana yang dilakukan oleh Robot Gedek, yaitu melakukan hubungan seksual sejenis secara paksa dengan anak laku-laki dan kemudian korbannya dibunuh. Mesipun perbuatan dari Robot Gedek ini memakan banyak kroban dan merisaukan masyarakat, namun karena pelanggaran seperti ini jarang terjadi sehingga tidak terdapat pola yang bisa dipelajari, dan nilainya sebagai objek kajian kriminologi menjadi rendah. Namun tidak berarti kasus tersebut tidak dapat dipelajari dalam kriminologi. Kasus tersebut dapat dipelajari secara kriminologis tidak dari sisi pelakunya, tetapi dari sisi reaksi masyarakat. Dari sisi pelaku, adalah porsi dari psikologi dan psikatri yang mempunyai minat mempelajari tindakan yang dilakukan oleh Robot Gedek tersebut. Ia lebih dikategorikan sebagai orang yang sakit jiwa (psikopat) di dalam melakukan pelanggaran hukum pidana.

Bersambung ke [Part 2]

About these ads

3 thoughts on “Hal-hal apa sajakah yang dipelajari dalam kriminologi? [Part 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s