“Buset dah! Dingin banget di sini, ya, Mas!?” gerutu saya menggigil.
“Wah, kalau sekarang mah lagi musim hangatnya, Mas!” kata si abang yang memandu saya menelusuri kompleks Candi Arjuna.
Ya, sehari menjelang tahun baru kemarin, saya dan saudara saya menikmati liburan di Daratan Tinggi Dieng, sekitar 30 kilometer dari Wonosobo, Jawa Tengah. Saya yang kurang bertahan di cuaca dingin, menganggap Dieng adalah tempat paling dingin yang pernah saya kunjungi. Dan saya sangat kaget ketika mendengar komentar bahwa pada bulan Desember, di Dieng sedang musim hangat. Pada bulan Agustus dan bulan-bulan yang berdekatan adalah musim dinginnya. Menurut informasi yang saya dapatkan dari Teater Dieng, dikatakan bahwa pada musim dinginnya, suhu di Dieng menyamai suhu di Eropa; embun pagi bisa membeku menjadi butiran es.
Jujur saja saya bukanlah seorang traveler sejati, jadi saya tidak bisa meng-klaim memahami tempat-tempat yang pernah saya datangi. Ke Dieng ini saja karena memenuhi ajakan dari saudara saya sekadar mengisi liburan.
Target kami memang untuk melihar matahari terbit pada awal tahun baru 2010. oleh karena itu kami berangkat dari Stasiun Gambir menuju Purwokerto pada pukul enam pagi, tanggal 30 Desember 2009. Lama perjalanan kereta sekitar enam jam, kemudian dilanjutkan dengan naik bus+mikrolet menuju Dieng. Kami sampai di Wisma Melati pada pukul setengah tujuh malam (kalau saya tidak salah ingat). Dan satu komentar untuk Dieng: Dingin!
Dieng merupakan objek wisata yang sudah lama dikenal. Dan konon menurut cerita yang saya dengar dari saudara saya, Mantan Presiden Soeharto sering menghabiskan waktu di Dieng untuk bersemedi atau merenung (saya tidak tahu apakah saudara saya itu membual atau tidak).
Di Dieng, saya sempat berkunjung ke Telaga Warna, Kompleks Candi Arjuna, beberapa gua yang saya tidak ingat namanya, Kawah Sikidang, Gunung Sikunir, dan ke Teater Dieng, tempat kita bisa mendapatkan informasi mengenai sejarah Dieng.
Dieng adalah suatu dataran tinggi yang membentuk di dekat daerah Gunung Vulkanik Dieng. Diketahui bahwa di dataran ini lah berdiri delapan Candi kecil pada abad ke-7 dan ke-8, dan merupakan Candi tertua di Jawa Tengah. Dan menurut wikipedia, Dieng merupakan bagian dari gerilya Jenderal Sudirman selama perang kemerdekaan. Dieng berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut.
Dieng berasal dari bahasa sansekerta, yaitu Di Hyang. Kata Di berarti gunung, dan Hyang berarti kahyangan. DI Hyang berarti Gunung tempat Dewa bersemayam.
Kawah Sikidang, tempat yang paling memberikan kepuasan bagi saya karena saya melihat langsung lumpur mendidih dari kawah tersebut. Menurut cerita dari si abang pemandu (saya lupa lagi namanya siapa), nama Kawah Sikidang ini berasal dari kata Si Kijang. Dinamakan seperti itu karena kawah itu telah beberapa kali berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mencari tanah yang lunak dan bisa ditembus oleh gas dari bawah tanah. Dikatakan Sikidang (Si kijang) untuk menegaskan istilah melompat-lompat (berpindah) seperti kijang.
Daerah kompleks Candi Arjuna juga menarik. Saya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jeniusnya para arsitek terdahulu untuk merancang bangunan Candi seperti ini. Candi ini juga memiliki cerita di balik pembangunannya. Nama-nama candi ini diberikan oleh warga masyarakat yang tinggal di Dieng berdasarkan nama-nama tokoh wayang. Nama-nama tersebut adalah candi Arjuna, candi Semar, candi Srikandi, candi Puntadewa, dan candi Sembadra. Zaman dahulu kelompok candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan.
Apabila penasaran dengan daerah wisata Dieng ini, kita bisa mendapatkan banyak informasi di teater Dieng. Kita bisa menyaksikan film dokumenter disana.
Pada pagi hari tanggal 1 Januari 2010, pukul empat kami berangkat dari Wisma Melati menuju kaki gunung Sikunir. Kemudian berjalan sekitar setengah jam mendaki ke atas Gunung Sikunir untuk menyaksikan matahari terbit.
Hal yang unik di Dieng adalah fenomena rambut gimbal yang mewabahi anak-anak di Dieng. Terkadang rambut gimbal ini dianggap sebagai rahmat atau malapetaka. Untuk menghilangkan rambut gimbal ini, masyarakat atau keluarga dari anak tersebut harus mengadakan acara adat dan semacam kegiatan penolak bala. Biasanya gejala rambut gimbal ini diikuti dengan gejala demam yang datang pada waktu-waktu tertentu. Untuk menghilangkannya, apa pun permintaan si anak harus dikabulkan sebelum rambut itu dipotong (begitulah kira-kira yang saya ingat).
Saya merekomendasikan Dieng kepada pembaca untuk menjadikannya tempat pengisi liburan. Dingin, Cuy!!!
Sumber informasi :
http://www.central-java-tourism.com/desa-wisata/in/dieng.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Dieng_Plateau
























sepertinya lagi sibuk si empunya blog ini..sampe ga sempet apdet neh
wah belum apdet bro…?
informasi yang menarik, mantab, lengkap, membuat orang pengin.. trims ya..
Aku tempatnya tdk terlalu jauh dari Dieng tapi belum pernah aku kesana, pasti mengasikkan ya! Salam hangat jabat erat slalu!
anjrit …. dieng plateau … idamanku hari libur besok … xixixi
Kapan ya saya bisa main k situ, brrrrr….
waduhhhh..informasinya manteb banget bro…jadi pengen kesana neh..
berarti akalo mo ngerasain hawa dingin seperti di eropa, mendingan dtg ke dieng di bulan agustus yah..?? boleh juga neh…ga perlu jauh² ke eropa :d
salam, ^_^
rasanya suatu saat nanti saya harus datang kesana… *penasaran*
wah kpn ya maen2 ke dieng..
bbbrrrr….