Pengantar Kriminologi

Review dari tulisan Prof. Mustofa, dalam buku Kriminologi.

Bagi orang yang baru pertama kali mendengar istilah kriminologi, biasanya akan memiliki pemikiran sendiri tentang pengertian dari kata tersebut. Kebanyakan dari mereka memiliki persepsi yang salah tentang bidang ilmu pengetahuan ilmiah kriminologi ini. Sebagian besar orang memiliki persepsi bahwa kriminologi adalah suatu studi pendidikan ilmu hukum. Kata kriminologi yang berhubungan dengan kejahatan, serta merta dikaitkan dengan pelanggaran hukum pidana. Ada juga yang mengaitkan kriminologi dengan pekerjaan detektif karena detektif bertugas untuk mengungkap suatu peristiwa kejahatan dan menangkap pelakunya. Hal ini tidak salah sepenuhnya, tetapi tidak bisa dikatakan benar.

Kriminolgi, (criminology dalam bahasa Inggris, atau kriminologie dalam bahasa Jerman) secara bahasa berasal dari bahasa latin, yaitu kata ”crimen” dan ”logos”. Crimen berarti kejahatan, dan logos berarti ilmu. Dengan demikian kriminologi secara harafiah berarti ilmu yang mempelajari tentang penjahat. Istilah kriminologi pertama kali digunakan oleh P/ Topinard, seorang sarjana Perancis, pada akhir adab ke sembilan belas. Namun demikian, bidang penelitian yang sekarang ini dikenal sebagai salah satu bidang yang berkaitan dengan ilmu kriminologi telah terbit lebih awal, misalnya karya-karya yang dikarang oleh:

  1. Cesare Beccaria (1738-1794)
  2. Jeremy Bentham (1748-1832)
  3. Andre Guerry, yang mempublikasikan analisa tentang penyebaran geografis kejahatan di Perancis tahun 1829
  4. Ahli matematika Belgia, Adolphe Quetelet, menerbitkan sebuah karya ambisius tentang penyebaran sosial kejahatan di Perancis, Belgia, Luxemburg, dan Belanda pada tahun 1835
  5. Cesare Lambroso (1835-1909) dan muridnya Enrico Ferri (1856-1928) menggunakan metode antropologi ragawi (antropobiologi) mengembangkan teori kriminalitas berdasarkan biologis.

Kriminologi kemudian berkembang sebagai ilmu pengetahuan ilmiah, yang mana dalam perkembangannya, kriminologi modern terpisah-pisah melandaskan diri pada salah satu cabang ilmu pengetahuan ilmiah tertentu, yaitu sosiologi, hukum, psikologi, psikiatri, dan biologi (Trasler, 1977).

Kriminologi yang berkembang di Indonesia, khususnya yang dipelajari dan dikembangkan di FISIP UI, melandaskan diri pada disiplin sosiologi, yang sering disebut sebagai sosiologi praktis. Disini kriminologi memandang suatu kejahatan sebagai gejala sosial yang dipelajari secara sosiologis.

Penelitian-penelitian kriminologi meliputi berbagai faktor, yang secara umum meliputi:

  1. Penelitian tentang sigat, bentuk, dan peristiwa tindak kejahatan serta persebarannya menurut faktor sosial, waktu, dan geografis.
  2. Ciri-ciri fisik dan psikologis, riwayat hidup pelaku kejahatan (yangmenetap) dan hubungannya dengan adanya kelainan perilaku.
  3. Perilaku menyimpang dari nilai dan norma masyarakat, seperti perjudian, pelacuran, homoseksualitas, pemabukan, dsb.
  4. Ciri-ciri korban kejahatan.
  5. Peranan korban kejahatan dalam proses terjadinya kejahatan.
  6. Kedudukan korban kejahatan dalam sistem peradilan pidana.
  7. Sistem peradilan pidana, yang meliputi bekerjanya lembaga kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan penghukuman dalam menangani pelaku pelanggaran hukum pidana sebagai bentuk reaksi sosial formal terhadap kejahatan.
  8. Metode pembinaan pelaku pelanggaran hukum.
  9. Struktur sosial dan organisasi penjara.
  10. Metode dalam mencegah dan mengendalikan kejahatan.
  11. Penelitian terhadap kebijakan birokrasi dalam masalah kriminalitas, termasuk analisa sosiologis terhadap proses pembuatan dan penegakan hukum.
  12. Bentuk-bentuk reaksi non-formal masyarakat terhadap kejahatan, penyimpangan perilaku, dan terhadap korban kejahatan.

Definisi-definisi kriminologi

W.A Bonger (1970) memberikan batasan bahwa ”kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki kejahatan seluas-luasnya” (Bonger, 1970:21). Bonger, dalam meberikan batasan kriminologi, membagi kriminologi ke dalam dua aspek:

  1. kriminologi praktis, yaitu kriminologi yang berdasarkan hasil penelitiannya disimpulkan manfaat praktisnya.
  2. kriminologi teoritis, yaitu ilmu pengetahuan yang berdasarkan pengelamannya seperti ilmu pengetahuan lainnya yang sejenis, memeprhatikan gejala-gejala kejahatan dan mencoba menyelidiki sebab dari gejala tersebut (etiologi) dengan metode yang berlaku pada kriminologi.

Dalam kriminologi teoritis, Bonger memperluas pengertian dengan mengatakan baahwa kriminologi merupakan kumpulan dari banyak ilmu pengetahuan (Bonger, 1970:27).

  1. Antropologi kriminologi, yaitu ilmu pengetahuan tentang manusia yang jahat dilihat dari segi biologisnya yang merupakan bagian dari ilmu alam.
  2. Sosiologi kriminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang kejahatan sebagai gejala sosial. Pokok perhatiannya adalah seberapa jauh pengaruh sosial bagi timbulnya kejahatan (etiologi sosial)
  3. Psikologi kriminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang kejahatn dipandang dari aspek psikologis. Penelitian tentang aspek kejiwaan dari pelaku kejahatan antara lain ditujukan pada aspek kepribadiannya.
  4. Psi-patologi-kriminal dan neuro-patologi-kriminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang kejahatan yang sakit jiwa atau sakit sarafnya, atau lebih dikenal dengan istilah psikiatri.
  5. Penologi, yaitu ilmu pengetahuan tentang tumbuh berkembangnya penghukuman, arti penghukuman, dan manfaat penghukuman.
  6. Kriminologi praktis, yaitu berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh birokrasi dalam menanggulangi kejahatan.
  7. Kriminalistik, yaitu ilmu pengetahuan yang dipergunakan untuk menyelidiki terjadinya suatu peristiwa kejahatan

Bonger, dalam analisanya terhadap masalah kejahatan, lebih mempergunakan pendekatan sosiologis, misalnya analisa tentang hubungan antara kejahatan dengan kemiskinan.

Sutehrland dan Cressey (1974) memberi batasan kriminologi sebagai bagian dari sosiologis dengan menyebutkan sebagai:

”Kumpulan pengetahuan yang meliputi delinkuensi dan kejatahan sebagai gejala sosial. Tercakup dalam ruang lingkup ini adalah proses pembuatan hukum, pelanggaran hukum, dan reaksi terhadap pelanggaran hukum. Proses tersebut terdiri dari tiga aspek yang merupakan suatu kesatuan interaksi yang berkesinambungan. Tindakan-tindakan tertentu yang dipandang tidak disukai oleh para politisi (political society) didefinisikan sebagai kejahatn. Kendatipun ada batasan tindakan tersebut, terdapat orang-orang yang terus-menerus melanggarnya dan dengan demikian melakukan kejahatan; politisi memberikan reaksi berupa penghukuman, pembinaan, atau pencegahan. Urutan interaksi inilah yang merupakan pokok masalah dalam kriminologi” (Sutherland, Cressey, 1974:1)

Berlandaskan pada definisi di atas, Sutherland dan Cressey menjelaskan bahwa kriminologi terdiri dari tiga bagian pokok, yiatu: (a) sosiologi hukum, (b) etiologi kriminal, (c) penologi (termasuk metode pengendalian sosial.

Sementara itu, Taft dan England merumuskan definisi kriminologi sebagai berikut:

“Istilah kriminologi dipergunakan dalam pengertian secara umum dan pengertian khusus. Dalam pengertian yang luas, kriminologi adalah kajian (bukan ilmu yang lengkap) yang memasukkan ke dalam ruang lingkupnya berbagai hal yang diperlukan untuk memahami dan mencegah kejahatan dan diperlukan untuk pengembangan hukum, termasuk penghukuman atau pembinaan para anak delinkuen atau para penjahat, mengetahui bagaimana mereka melakukan kejahatan. Dalam pengertian sempit, kriminologi semata-mata merupakan kajian yang mencoba untuk menjelaskan kejahatan, mengetahui bagaimana mereka melakukan kejahatan. Apabila yang terakhir, yaitu pengertian sempit diterima, kita harus mengkaji pembinaan pelaku kejahatan yang dewasa, penyelidikan kejahatan, pembinaan anak delinkuen dan pencegahan kejahatan” (Taft, England, 1964: 11)

Herman Manheim, orang Jerman yang bermukim di Inggris memberikan definisi kriminologi sebagai berikut:

“Kriminologi dalam pengertian sempit…, adalah kajian tentanga kejahatan. dalam pengertian luas juga termasuk di dalamnya adalah penologi, kajian tentang penghukuman dan metode-metode seupa dalam menanggulangi kejahatan, dan masalah pencegahan kejahatan dengan cara-cara non-penghukuman. untuk sementara, dapat saja kita mendefinisikan kejahatan dalam pengertian hukum yaitu tingkah laku yang dapat dihukum menurut hukum pidana” (Manheim, 1965: 3)

Menurut Manheim, kajian terhadap tingkah laku jahat dapa disimpulkan terdiri dari tiga bentuk dasar:

  1. Pendekatan deskriptif… pengamatan dan pengumpulan fakta tentang pelaku kejahatan.
  2. Pendekatan kausal… penafsiran terhadap fakta yang diamati yang dapat dipergunakan untuk mengetahui penyebab kejahatan, baik secara umum maupun yang terjadi pada seorang individu.
  3. Pendekatan normatif… bertujuan untuk mecapai dalil-dalil ilmiah yang valid dan berlaku secara umum maupun persamaan serta kecenderungan-kecenderungan kejahatan.

Selanjutnya definisi yang diberikan oleh Walter Reckless:

“Kriminologi adalah pemahaman ketertiban indiveidu dalam tingkah laku delinkuen dan tingakah laku jahat dan pemahaman bekerjanya sistem peradilan peidana. Yang disebut pertama, yaitu kajian keterlibatan, mempunyai dua aspek: (1) kajian terhadap si pelaku, dan (2) kajian tingkah laku dari si pelaku, termasuk korban manusia. Yang disebut kedua, memperhatikan masalah (1) masuknya orang dalam sistemperadilan pidana pada setiap titik, dan parale; serta (2) keluaran daru produk sistem peradilan pidana dalam setiap titik perjalanan” (Reckless, 1973: v)

Defisni selanjutnya adalah definisi yang diberikan oleh Elmer Hubert (1968), yaitu:

“Kriminologi adalah kajian ilmiah dan penerapan praktis penemuan-penemuan di lapangan: (a) sebab musabab kejahatan dan tingkah laku jahat serta etiologi, (b) ciri-ciri khas reaksi sosial sebagai suatu simtom ciri masyarakat, dan (c) pencegahan kejahatan” (E. H. Johnson, 1968: 13)

Kriminologi menurut Johnson adalah bentuk pendekatan diagnostik yang diperlukan untuk suatu treatment (pengobatan/pembinaan)secara klinis.

Haskell dan Yablonsky (194) menekan definisi kriminologi pada muatan penelitiannya dengan mengatakan bahawa kriminologi secara khusus adalah merupakan disiplin ilmiah tentang pelaku kejahatan dan tindakan kejahatan yang meliputi:

  1. Sifat dan tingkat kejahatan
  2. sebab musabab kejahatan dan kriminalitas
  3. perkembangan hukum pidana dan sistem peradilan pidana
  4. ciri-ciri kejahatan
  5. pembinaan pelaku kejahatan
  6. pola-pola kriminalitas
  7. dampak kejahatan terhadap perubahan sosial (Haskell, Yablonsky, 1974: 3)

David Dressler, yang mengaitkan kriminologi dengan kajian komparatif yang bersifat dasar, memberikan definisi sebagai berikut:

”Pemahaman utama dari kriminologi adalah pengumpulan data tentang etiologi delinkuensi dan kejahatan. Apa yang menyebabkan orang berubah menjadi pembunuh atau perampok? Mengapa seseorang melakukan kejahatan sementara orang lain tetap menjadi warga yang tunduk hukum?… Kajian kriminologi ingin mengetahui “Apakah yang mejadi peneyebab dari delinkuensi dan kejahatan?” (Dressler, 1972: 245-246)

Gibbons memberikan definisi yang menekankan pada aspek analisa objektif kriminologi, yaitu sebagai berikut:

”Kajian ilmiah tentang pelanggaran hukum dan usaha sunggun-sungguh untuk menyingkap penyebab kriminalitas pada umumnya telah dilakukan di wilayah yang dinamakan kriminologi, yang memberi perhatian pada analisa objektif tentang kejahatan sebagai gejala sosial. Dalam ruang lingkupnya kriminologi memasukkan pencarian yang berkaitan dengan proses pembuatan hukum, pelanggaran hukum, dan reaksi terhadap pelanggar hukum” (Gibbons, 1977: 3)

Richard Quinney sebagai seorang tokoh kriminologi baru dan kriminologi kritis, memberikan definisi sebagai berikut:

”[kriminologi baru adalah] suatu pemahaman kejahatan dengan menyajikan secara bolak-balik antara kebijakan konvensional tentang kejahatan dengan konsep baru yang menegasikan gagasan tradisional…[Kami akan] meliputi beraneka fase kejahatan: dari sistem hukum dalam teori hingga realitas sosial warga masyarakat, dari dunia penjahat hingga ke otoritas legal, dari pendekatan tradisional da;am pengendalian kejahatan hingga gagasan radikal tentang keberadaan sosoial” (R. Quinney, 1975: 13)

Definisi yang diberikan oleh Quinney tersebut merupkan kritik terhadap apa yang dikatakan sebagai kriminologi konservatif dan kriminologi konvensional. Dalam membahas kriminologi, Quinnet juga memperkenalkan gagasan penomenologi, yaitu ilmu pengetahuan ilmiah tentang manusia dan pengalaman reflektifnya dalam kehidupan nyata).

Vernon Fox memberikan definisi kriminologi secara komperhensif dibandingkan dengan definisi-definisi sebelumnya di atas. Ia mengatakan bahwa kriminologi adalah:

”Kajian tentang tinkgah lku jahat dan sistem keadilan. Ini meruoakan kajian tentang hukum, dan pelaku planggaran hukum. Pemahaman terhadap gejala tersebut membutuhkan pemahaman terhadap seluruh ilmu-ilmu tingkah laku, ilmu alam, dan sistem etika dan pengendalian yang terkandung dalam hukum dan agama. Kriminologi merupakan tempat pertemuan berbagai disiolin ilmu yang memberikan pusat perhatian pada kesehatan mental dan kesehatan emosi individu dan berfungsinya masyarakat secara baik.

Tingkah laku jahat dapat diterangkan melalui pendekatan sosiologis, psikologis, medis dan biologis, psikiatris dan psiko-analisa, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain pendekatan sosial dan tingkah laku.

Politik mendefinisikan sistem peradilan pidana melalui perundang-undangan dan penerapan kebijakan publik dalam hukum dan penegakan hukum.

Oleh karena itu, tingkah laku jahat dan sistem keadilan menjadi pusat dari berbagai disiplin dan pendekatan yang memberi perhatian pada kejahatan dan masyarakat” (V. Fox, 1976: 388)

Departemen Kriminologi FISIP UI melandaskan diri dalam mempelajari kriminolgi pada sosiologi, dan mempelajari kejahatan sebagai gejala sosial. Dengan kata lain, ciri-cirinya dapat diidentifikasikan menurut konsep sosiologis. Timbulnya gejala kejahatan ditelusuri dari bekerjanya masyarakat. Dengan demikian berbagai faktor sosial seperti proses sosialisasi nilai dan norma sosial, kohesi sosial, pengendalian sosial, sturuktur sosial, kebudayaan, disintegrasi sosial, keadilan sosial, ketidakadilan sosial dan lain-lainnya diteliti tingkat pengaruhnya terhadap munculnya peristiwa-peristiwa kejahatan.

Sesuatu yang sangat penting dalam mempelajari kriminologi adalah pola, yang bertujuan agar dapat diketahui keteraturan-keteraturan dari timbulnya peristiwa kejahatan di masyarakat.

Brantinghams (1984) memberikan suatu hipotesis sebagai berikut:

The purpose of studying crime patterns over time is to discover regularities that aid one in understanding the phenomenon of crime” (Brantinghams, Brantinghams, 1984: 93)

“Tujuan mempelajari pola kejahatan sepanjang waktu adalah untuk menemukan keteraturan yang membantu dalam pemahaman terhadap gejala kejahatan”

Prof. Muhammad Mustofa, dalam bukunya Kriminologi, mengatakan bahwa definisi kriminologi yang dikaitkan dengan pengembangan kriminologi di Indonesia adalah yang berakar pada sosiologis.

“…kriminologi diartikan sebagai ilmu pengetahuan ilmiah tentang: a) peruusan sosial pelanggaran hukum, penyimpangan sosial, kenakalan, dan kejahatan; b) pola-pola tingkah laku dan sebab musabab terjadinya pola tingkah laku yang termasuk dalam kategori penyimpangan sosial, pelanggar hukum, kenakalan, dan kejahatan yang ditelusuri pada munculnya suatu peristiwa kejahatan, seta kedudukan dan korban kejahatan dalam hukum dan masyarakat; d) pola reaksi sosial formak, informal, dan non-formal terhadap penjahat, kejahatan, dan korban kejahatan. Dalam pengertian tersebut termasuk melakukan penelitian ilmiah terhadap pelanggaran hak-hak asasi manusia, serta usaha Negara dalam mewujudkan hak-hak asasi manusia dan kesejahteraan sosial” (Muhammad Mustofa, 2007: 14)

Daftar Pustaka

Mustofa, Muhammad. Kriminologi. Depok: FISIP UI PRESS, 2007

About these ads

39 thoughts on “Pengantar Kriminologi

  1. Krim13 says:

    Bang, mau nanya pas abang belajar tentang kriminologi awal-awal kuliah langsung ngerti ga? kok gue udah 1 semester, masing agak ngawang2 gitu ya? Tolong juga sarannya dong bang biar lebih ngerti pas dosen mengajar gitu. Hehe. Makasih :)

    Like

    • patologi sosial, sebagaimana definisi umum yang banyak dimuat diberbagai artikel, membahas tentang penyakit-penyakit (masalah-masalah) yang disebabkan oleh faktor-faktor sosial… bisa bersifat sistemik, struktural bahkan kultura… contoh gampangnya, kemiskinan termasuk ke dalam patologi sosial. Patologi sosial juga seringkali dirujuk sebagai bidang studi yang mempelajari tentang penyakit-penyakit sosial tersebut.

      Sedangkan kriminologi, ialah ilmu sosial dengan batasan khusus yang mempelajari kejahatan secara komprehensif (yakni tingkah laku, pelaku, korban, dan reaksi sosial masyarakat,, termasuk juga di dalamnya studi tentang penghukuman dan pengendalian sosial kejahatan).

      Pada dasarnya, kejahatan, perilaku pelanggaran hukum, perilaku menyimpang dan kenakalan, merupakan bagian dari patologi sosial… namun, bedanya ialah patologi sosial lebih bersifat luas terkait dengan gejala sosial secara umum (misalnya, kemiskinan disebabkan oleh pertumbuhan perekonomian yang tidak stabil dan merata), sedangkan kriminologi (kriminologi sosiologis) lebih melihat gejala-gejala sosial tersebut dari pilar-pilar yang berkisar pada hubungan antara tingkah laku yang dianggap kejahatan itu sendiri dengan pelaku, korban dan reaksi sosial masyarakat (formal dan informal). Contohnya, kemiskinan yang disebabkan oleh ketidakmerataan pembangunan perekonomian tersebut tidak mungkin terjadi begitu saja, karena ada pelaku (eksploitasi korporasi/swasta atau negara), korban (masyarakat luas, atau kelompok orang miskin itu sendiri), reaksi sosial masyarakat (munculnya reaksi-reaksi sosial seperti demonstrasi buruh, kriminalitas, atau kontrol dari penguasa), dan pengabaian terhadap warga masyarakat oleh pemangku kebijakan itu dapat dilihat sebagai sebuah ‘tingkah laku’ yang memunculkan kerugian bagi orang banyak (baca: kejahatan).

      Mungkin aka sulit melihat perbedaannya, karena patologi sosial bisa jadi juga mempelajari sebuah masalah atau gejala sosial sampai detail sebagaimana kriminologi melihat masalah sosial. Namun, yang perlu dicermati bahwa, terutama dalam studi kriminologi-sosiologis, sebuah gejala atau masalah kejahatan yang menjadi objek kajiannya ialah masalah yang terpola (terjadi secara berulang-ulang di masyarakat), dan harus berada di cakupan pilar-pilar yang sudah disebutkan. Sementara patologi sosial, tidak harus demikian.

      Contoh lagi: kebiasaan masyarakat yang suka menonton televisi (sinetron) dapat disebut sebagai patologi sosial karena pengaruh kultur konsumerisme di era masyarakat kontemporer. Namun, hal itu tidak dapat serta-merta dimasukkan dalam objek kajian kriminologi. Untuk menjadi objek kajian kriminologi, kita harus menemukan sisi kriminologis nya (yang tentunya, harus terpola dan berada dalam cakupan pilar-pilar itu). Bagaimana caranya? Ya, jikalau kebiasaan menonton sinetron tersebut memunculkan dan meningkatkan angka statistik dari tindakan-tindakan kekerasan di dalam rumah tangga (terpola), dengan kata lain ada tingkah laku yang merugikan, ada pelaku, ada korban (dan pastinya juga ada reaksi sosial masyarakat di sana), persoalan menonton sinetron tersebut dapat menjadi objek kajian kriminologi.

      Penjelasan saya ini (mungkin) belum tepat sepenuhnya (karena saya tidak memegang sumber rujukan buku atau jurnal ketika menjawab komentar ini), tetapi supaya kamu dapat lebih memahaminya, khususnya pengertian dan cakupan studi kriminologi, kamu bisa membaca buku “Pengantar Kriminologi” karya Prof. Muhammad Mustofa, terbitan tahun 2010 oleh Penerbut Sari Ilmu Pratama (SIP).

      Semoga jawaban dadakan ini dapat membantu.
      #asyek

      Like

    • Departemen Kriminologi UI menaruh perhatian studinya pada kriminologi-sosiologis, yang mempelajari kejahatan bukan hanya dari perspektif hukum formal, tetapi juga aspel-aspek sosial (norma dan ketentutan non formal yang berlaku di masyarakat). Kriminologi UI melakukan studi terhadpa kejahatan, pelanggaran hukum, perilaku menyimpang, dan kenakalan… juga mempelajari subjek-subjek berupa tindakan kejahatan (yang terpola), pelaku kejahatan, reaksi sosial masyarakat (baik formal maupun non formal), korban kejahatan, dan sistem peradilan pidana. Dengan kata lain, kriminologi dalam ruang lingkup sosiologis lebih luas cakupan dan bahasannya… #asyek

      Like

  2. condrad says:

    mas mau tanya ttg white collar crime dilihat dari paradigma kriminologi krisis dalam konsep kriminologi radikal itu bagaimana yahh mas….terima ksihh

    Like

  3. aku mau tanya …aku sekarang kuliah di fakultas hukum disalah satu PTN di palembang…skrg aku lagi galau nih..ada yg bisa kasih solusi?
    skrg udah mau PK tapi aku masih bingung mau ngambil PK apa…tujuan saya kalo udah tamat mau ikut tes polisi…ada yg bisa kasih gambaran kalo mau jadi polisi bagusnya PK apa? ….sebenarnya aku pengen PK hukum bisnis…kalo masuk polisi ditempatkan dibagian apa..mungkin para senhor bisa menjawab pertanyaan saya yg minim ilmu ini…

    Like

    • di dalam kriminologi, salah satu kajian yang paling penting adalah tentang Kenakalan (Anak). Tawuran antar sekolah adalah salah satu contoh kenakalan anak yang paling sering kita jumpai. Salah seorang guru besar di Kriminologi, Prof. Mustofa, membuat sebuah tesis tentang tawuran, di mana metodologinya dalam melakukan penelitian menjadi salah satu model yang sering digunakan para mahasiswa untuk meneliti tentang tawuran di kalangan pelajar. Kriminologi, yang mengkaji fenomena kejahatan, melihat bahwa Kenakalan adalah satu tindakan yang jika dilakukan oleh orang dewasa disebut sebagai kejahatan, tetapi jika dilakukan oleh anak, disebut sebagai kenakalan.

      Like

  4. pacul says:

    kira kira potensi kerja setelah lulus dari kriminolog itu gmn?saya tidak mau kalau nanti masuk kriminolog dan lulus dari situ saya msh menganggur dan malah mendapatkan kerja yg tidak sesuai dengan jurusan itu sendiri

    Like

    • Untuk menjawabnya dengan lebih tepat (dalam usaha untuk memberi pengertian kepada Pacul), terlebih dahulu saya bertanya: arti kata ‘kerja’ atau ‘pekerjaan’ bagi kita itu sendiri apa? Saya sendiri, misalnya, melihat bahwa melakukan penelitian dengan memanfaatkan ilmu kriminologi adalah sebuah ‘kerja’ (dan bahkan kerja yang mulia sebagai jalan untuk masuk surga. #asyek). Kalau soal penghasilan, itu tidak ada dalam pola pikir saya, karena yang terpenting adalah sisi aktivisme untuk pesebaran ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Terkendala modal? Itu bukan masalah. Selama kita memiliki wawasan, itu adalah modal. Karena sudah ada banyak bukti dari para tokoh dunia, modal finansial (uang) bukanlah hal yang utama. Hal ini menjadi keyakinan saya sebagai seorang mahasiswa dan calon akademikus yang idal (AMIN).

      Tapi, kalau memang membutuhkan informasi tentang lapangan pekerjaan bagi lulusan kriminologi, saya akan sebutkan beberapa di antaranya: Pertama, (yang pasti) kriminolog (kalau terus meniti karir di jalur akademik yang concern terhadap bidang studi kriminologi) atau sosiolog (kalau mengembangkannya ke bidang studi sosiologi). Kedua, analis di berbagai lembaga-lembaga pemerintahan atau lembaga-lembaga masyarakat terkait dengan masalah kejahatan, seperti misalnya menjadi konsultan keamanan di perusahaan A. Ketiga, bisa melanjutkan studi ke kepolisian. Keempat, bisa menjadi pengamat sosial. Kelima, bisa menjadi peneliti di LIPI atau lembaga penelitian lainnya… dan masih banyak lagi bidang-bidang yang bisa dicari celahnya untuk bekerja memanfaatkan ilmu pengetahuan kriminologi-sosiologis.

      Kalau ditanya secara konkret kerja apa (seperti jadi PNS atau insinyur atau dokter), tentu saja tidak bisa terjawab. Karena, ilmu-ilmu sosial, budaya atau humaniora, seperti di sekitaran bidang studi sosiologi, kriminologi, politik, antorpologi, sastra, dan komplotan mereka merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang berkutat pada dunia abstraksi (pemikiran) dan bukan eksak. Intinya, ketika kita serius mendalami sebuah cabang ilmu pengetahuan, kita pasti menjadi pakar, dan ketika kita menjadi pakar, kita menjadi orang intelek, atau dengan kata lain kita menjadi ilmuwan. Ketika sudah menjadi ilmuwan, kesejahteraan akan datang sendiri.. namanya juga orang berilmu. Hehe… #asyek

      Like

  5. Nouva Tan says:

    Bagaimanakah Keterkaitan,antara Kriminologi dengan Hukum Pidana,,Hukum Acara Pidana,,dan Kriminalistik?????
    τ̲̣̣̥н̲̣̣̣̥ά̲̣̣̣̥п̲̣̣̥к̲̣̣̥γ̲̣̣̥o̲̣̥υ̲̣̥

    Like

    • tentu saja ada manfaatnya, Cha2. Pada dasarnya mereka saling mengisi satu sama lain. Dengan memiliki wawasan kriminologi, seorang ekonom dapat membaca pola-pola yang mengindikasikan penyimpangan dalam analisa statistik dan gerak kerja sistem ekonomi (terutama dalam pemerintahan). Sedangkan bagi kriminolog, pengetahuan ekonomi juga dibutuhkan untuk melihat keterkaitannya dengan fenomena sosial yang dapat memunculkan potensi-potensi kejahatan.penyimpangan di masyarakat. :)

      Like

  6. dwi ratna says:

    hmmmmm mw tanya mas, apa bedanya forensik dan kriminologi???
    saya minta contoh kasusnya y mas biar bisa dimengerti…. hehhehehe
    terimakasih…

    Like

    • halo, Dwi Ratna. Forensik dan kriminologi jelas sangat berbeda (apalagi dibandingkan dengan kriminologi-sosiologis yang menjadi landasan akademik kriminologi di FISIP UI). Forensik lebih kepada upaya-upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang atau mengungkap misteri dalam tindakan kriminal. Sedangkan kriminologi yang sosiologis, dapat kamu lihat pada tulisan di atas (kutipan dari Sutherland dan Cressey), bahwa kriminologi mempelajari segala hal yang berkaitan dengan kejahatan, pelanggaran hukum, penyimpangan, kenakalan, hubungan antara pelaku, korban, dan lembaga penegak hukum, serta reaksi sosial masyarakat yang dapat muncul dari kejahatan/penyimpangan.

      Contoh gampangnya, kegiatan yang berbagu forensik itu dapat kamu lihat di berita-berita televisi: bukti TKP dikirimkan ke tenaga ahli untuk diperiksa dan diidentifikasi. Sedangkan dalam kriminologi yang dipelajari di UI, lebih kepada semacam penelitian bersifat holistik yang menganalisa gejala dan fenomena sosial (kejahatan/penyimpangan) yang terpola, untuk kemudian dirumuskan cara-cara atau solusi untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kejahatan/penyimpangan tersebut. Jikalau forensik sangat dekat dengan apa yang kita kenal dengan detektif, seorang kriminolog tidak demikian. Posisinya lebih cenderung menjadi pengamat, peneliti sosial, dan akademisi (dan dapat dikatakan bahwa seorang kriminolog adalah seorang sosiolog)

      Like

    • banyak orang yang pesimis dengan kata “jurusan kriminologi” itu. Memang benar bahwa jika lulus dari kriminologi, satu-satunya profesi yang menarik adalah menjadi seorang kriminolog. Akan tetapi, ketika saya berbincang dengan salah seorang dosen di Jurusan Kriminologi UI, Pak Kemal Dermawan, dia mengatakan bahwa sesungguhnya ruang kerja dari kriminologi itu banyak, terutama profesi sebagai konsultan di bidang analisa resiko kejahatan dan strategi pencegahan kejahatan. Seperti yang kita ketahui bahwa, dalam merancang bangunan, perumahan, perkantoran, sangat dibutuhkan analisa resiko dari kemungkinan terjadinya kejahatan, dan terutama di bidang pencegahannya, strategi dan analisa dari para kriminolog sangat dibutuhkan. Selain itu, di bidang jurnalistik dan media, peran kriminolog sangat dibuthkan sebagai pengamat, penasihat, dalam berbagai etika dan kemungkinan-kemungkinan terjadinya penyimpangan. Paling banter, sarjana tamatan kriminologi akan menjadi periset masalah-masalah sosial (terutama penyimapngan dan kejahatan). Anda juga bisa kerja di BIN, KPK, dan bidang-bidang kepengurusan keuangan, dsb (tentunya ini menuntut faktor keahlian khusus yang didapatkan dari pengalaman traingn atau sebagainya). Ya, logikanya, selama kasus korupsi dan berbagai kejahatan masih ada di negeri ini, para kriminolog tidak akan kehilangan pekerjaan. Asyek…!
      Semoga jawabannya membantu. :)

      Like

    • Psikologi kriminologi adalah ilmu pengetahuan tentang penjahat yang dilihat dari sudut kejiwaannya. Ini terkait dengan ilmu pengetahuan yang telah saling mencair (lintas disiplin). Sampai sekarang, secara khusus belum ada pakar dari psikologi kriminologi (berdasarkan pengetahuan saya sekarang, karena saya sudah berusaha mencari berbagai sumber, tetapi tidak menemukan nama ahli yg benar-benar disebut sebagai pakar psikologi kriminologi). Akan tetapi banyak para kriminolog yang juga belajar tentang kriminologi dan sebaliknya.
      Setahu saya, ada nama tokoh yg menulis buku tentang “The Psychology of Crime” bernama David Abrahamsen. Beberapa artikel menyebutkan bahwa dia adalah ahli dari psikologi kriminil (lihat http://www.nytimes.com/2002/05/22/nyregion/dr-david-abrahamsen-98-wrote-about-son-of-sam.html).
      Semoga bermanfaat. :)

      Like

  7. yopi says:

    mau tanya sih tentang kriminologi ,

    1.Peran / tugas / funsi kriminologi apa ya terhadap hukum pidana???

    2. faktor2 apa aja yang meyebabkan kriminologi itu timbul????

    tolong beri jawaban na yg lumayan lengkap ya mas…klo bs blz na ke e mail saya

    roger234@rocketmail.com..

    mohon bantuannya trimakasih

    Like

    • Salam, Yopi.

      menjawab pertanyaannya:
      1. Tentu saja kriminologi memiliki kontribusi terhadap ilmu hukum pidana, karena dengan kehadiran kriminologi, ilmu hukum pidana dapat lebih memanusiakan ketentuan-ketenutan normatif nya, dan juga dengan kehadiran kriminologi dapat memberikan masukan tentang kenyataan yang sesungguhnya dari sebab musabab kejahatan (tidak terpaku pada ketentuan normatif) sehingga memberikan pertimbangan kepada ilmu hukum pidana itu sendiri. Demikian sebaliknya, ilmu hukum pidana juga sangat dibutuhkan oleh kriminologi dalam studinya, seperti misalnya berdasarkan sejarah ilmu hukum pidana itu sendiri, kriminologi bisa menilai dan menelaah keberlakuan suatu hukum di masyarakat dari jaman dahulu hingga sekarang.
      2. Faktor-faktor yang menyebabkan kriminologi itu timbul adalah ketika para ahli hukum dan ilmu sosial mulai menaruh perhatian pada fenomena sorial tentang penyimpangan dan kejahatan. Para pakar mulai meneliti tentang “Mengapa bisa terjaid kejahatan” (etiologi kejahatan), dan mulai melihat pelaku kejahtan (terdakwa) sebagai manusia, bukan sebagai objek. Karena itu ilmu kriminologi berkembang.

      Untuk melihat keterkaitan antara kriminologi dengan ilmu hukum pidana, bisa dilihat buku Roeslan Saleh, tentang “Ilmu Hukum Pidana Dan Kriminologi Pasangan Yang Masing-Masing Bergerak Kearah Berlawanan”
      atau bisa lihat revies nya di link ini: http://manshurzikri.wordpress.com/2010/10/08/1368/

      semoga bermanfaat. :)

      Like

    • hehehe,, thx ya, Uni atas kunjungannya! :)
      bru semster pertama, kok, Uni!!
      wkwkwkwk

      hehe, klo g begtu ngerti ttg kriminologi, tenang aj, sering2 maen ke sini, biar bljr ttg kriminologi sedikit…
      terus, terus,, ajarkan saya bikin puisi yg bgus ya,, hehehehe :)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s