KEBERAGAMAN DALAM MASYARAKAT

Dalam masyarakat, yang terdiri dari manusia-manusia, terdapat suatu kehidupan kolektif, yaitu hidup bersama individu-idnividu sejenisnya dalam satu gabungan. Dalam pergaulannya, antara makhluk dalam kehidupannya, terdapat azas-azas, seperti azas egoisme atau azas “mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan yang lain” sehingga menyebabkan individu itu dapat bertahan hisup dalam alam yang kejam. Selain itu ada juga azas altruisme atau azas “hidup berbakti untuk kepentingan yang lain” yang juga dapat membuat individu itu sedemikian kuatnya utnuk bertahan dalam proses sleksi alam ayng kejam. Otak manusia telah mengembangkan suatu kemampuan yang disebut “akal”, yang mampu untuk membayangkan dirinya serta peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi terhadap dirinya sehingga dengan demikian manusia dapat mengadakan pilihan serta seleksi terhadap berbagai alternatif dalam tingkah lakunya untuk mencapai efektivitas yang optimal dalam mempertahankan hidup.

Apabila ditemukan suatu tingkah laku yang efektif dalam menanggulangi masalah, tingkah laku itu akan diulangi lagi setiap masalah serupa timbul, kemudian setiap individi akan mengomunikasikan pola tingkah laku tersebut kepada individu-individu lain dalam kehidupan kolektif sehingga pola itu menjadi mantap dan menjadi suatu adat istiadat yang dilaksanakan oleh sebagian besar warga kolektif itu, yang mana pola ini didapat dari proses belajar. Oleh karena pola-pola tindakan tersebut adalah hasil dari pelajaran, pola-pola tersebut dapat berubah dengan lebih cepat daripada perubahan bentuk organismenya. Sebagai contoh adalah tigapuluh tahun hingga empatpuluh tahun yang lalu orang-orang Indonesia banyak yang tinggal dalam rumah-rumah besar bagi kelompok kerabatnya yangluas, dan dari musim ke musim menanam padi di sawah sebagai petani. Sekarang keturuanan langusng dari petani-petani itu telah banyak yang tinggal dalam rumah-rumah gedung atau kompleks perumahan, dan banyak menghabiskan waktunya di kantor.

Perubahan-perubahan pola tindakan tersebut tidak sama cepatnya pada satu kolektif manusia dan kolektif manusia di tempat lain di muka bumi ini, ada yang lebih lambat dan ada yang lebih cepat. Proses perubahan yang berbeda-beda itu menyebabkan timbulnya suatu aneka warna yang besar sekali antara beribu-ribu kesatuan hidup manusia yang berada di muka bumi ini.

Sebenarnya, aneka warna dalam pola tingkah laku manusia bukanlah disebabkan oleh aneka warna ciri ras, melainkan karena kolektif-kolektif di mana manusia itu bergaul dan berinteraksi. Dalam masyarakat akan tampak kesatuan-kesatuan manusia yang lebih khusus, yang berbeda satu dengan yang lain disebabkan karena adat-istiadat dan bahasa yang berbeda, kadang-kadang juga karena perbedaan agama, atau karena kombinasi keduanya. Pada dasarnya, yang menyebabkan keberagaman dalam masyarakat (terutama masyarakat kota) adalah adanya perbedaan suku bangsa dari masing-masing orang.

Suku bangsa adalah bagian dari suatu bangsa. Suku bangsa mempunyai ciri-ciri mendasar tertentu. Ciri-ciri itu biasanya berkaitan dengan asal-usul dan kebudayaan. Ada beberapa ciri yang dapat digunakan untuk mengenal suatu suku bangsa: ciri fisik, bahasa, adat istiadat, dan kesenian yang sama. Contoh ciri fisik, antara lain warna kulit, rambut, wajah, dan bentuk badan. Ciri-ciri inilah yang membedakan satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya. Suku bangsa merupakan kumpulan kerabat (keluarga) luas. Mereka percaya bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Mereka juga merasa sebagai satu golongan. Dalam kehidupan sehari-hari mereka mempunyai bahasa dan adat istiadat sendiri yang berasal dari nenek moyang mereka. Keragaman suku bangsa di Indonesia antara lain disebabkan oleh:

  1. perbedaan ras asal,
  2. perbedaan lingkungan geografis,
  3. perbedaan latar belakang sejarah,
  4. perkembangan daerah,
  5. perbedaan agama atau kepercayaan, dan
  6. kemampuan adaptasi atau menyesuaikan diri

Setiap manusia mempunyai suatu akal atau pikiran yang cenderung menuntut dirinya untuk bertahan hidup (survive) di tempat yang baru. Dalam bergaul atau berinteraksi dengan individu lain dalam masyarakat, seorang individu akan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya meskipun masih membawa atribut suku bangsa yang dimilikinya, dan hal inilah yang menyebabkan keberagaman dalam masyarakat itu. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa dalam masyarakat terdapat kesatuan-kesatuan manusia yang sifatnya lebih khusus karena memiliki persamaan identitas, yaitu persamaan suku bangsa seperti bahasa daerah atau adat-istiadat yang dimiliki oleh nenek moyang mereka. Tapi apabila dalam konteks masyarakat yang lebih luas, setiap individu akan berinteraksi dengan individu yang lain meskipun berbeda asal-usulnya hanya untuk dapat hidup bersama-sama saling berdampingan demi terwujudnya tujuan hidup yang dicita-citakan, karena pada dasarnya untuk bertahan hidup individu yang satu akan bergantung kepada individu yang lain. Kemudian pemikiran untuk bertahan hidup itu akan diinterpretasikan kedalam suatu pola tingkah laku yang efektif untuk menangani masalah bersama dalam masyarakat sehingga timbul suatu pola tingkah laku yang baru dalam masyarakat tersebut yang kemudian menjadi adat-istiadat baru yang dijalankan oleh anggota masyarakat itu.

Mengenai permasalah kesatuan hidup manusia yang lebih khusus tadi, hal itu merujuk kepada kolektif-kolektif manusia yang ada dalam masyarakat itu. Sebagai contoh dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat terdapat keberagaman karena adanya perbedaan mendasar dari kehidupan kolektif manusia masyarakat Pariaman, kehidupan kolektif masyarakat Padang, kehidupan kolektif masyarakat Bukit Tinggi, dan sebagainya. Dalam masyarakat Pariaman juga terdapat keberagaman karena dipengaruhi oleh disiplin yang dianut oleh suatu keluarga yang satu berbeda dengan keluarga lain, atau misalnya juga karena agama. Seperti contoh lain adalah di Jawa terdapat dua suku bangsa Jawa, meskipun sama adat-istiadat dan bahasanya, tetapi berbeda dalam konteks agamanya, yaitu yang satu beragama Islam Santri, dan lainnya menganut Islam Kejawen. Dan apabila kita melihat ke dalam konteks masyarakat yang lebih luas lagi, misalnya Indonesia, masyarakat Pariaman bukan dikenal sebagai masyarakat Pariaman lagi, melainkan sebagai kolektif masyarakat Sumatera Barat. Keberagaman terjadi karena adanya perbedaan suku bangsa. Di Jakarta, yang mana masyarakatnya lebih modern, keberagaman dalam masyarakat terjadi karena adanya kesatuan-kesatuan manusia yang lebih khusus tersebut (karena adanya perbedaan suku bangsa yang dimiliki oleh kesatuan manusia yang satu dengan suku bangsa kesatuan manusia lain), namun tidak akan dikenal secara spesifik (apakah dia orang Bukit Tinggi atau orang Pariaman), tetapi dia dikenal karena identitas suku bangsa yang melekat pada dirinya saja. Orang yang kampungnya di Bukit Tinggi akan dianggap sebagai orang Padang (sebutan umum untuk orang Sumatera Barat oleh orang-orang Jakarta). Dan apabila orang Bukit Tinggi tersebut pergi ke luar negeri, anggaplah Amerika Serikat, dia tidak dikenal sebagai orang Padang (Sumatera Barat) lagi, tetapi sebagai orang Indonesia. Hal ini disebabkan oleh pola pikir manusia yang berusaha untuk bertahan hidup dalam suatu masyarakat dan cara mereka untuk bergaul atau berinteraksi dengan individu lain dalam masyarakat tersebut, mereka akan berusaha menyesuaikan diri agar diterima dalam masyarakat di mana mereka hidup. Dengan demikian, dalam suatu masyarakat terdapat berbagai keragaman suku bangsa.

Aneka warna kesatuan hidup manusia dalam masyarakat juga dapat disebabkan oleh adanya lapisan-lapisan sosial yang berbeda-beda secara horizontal. Warga dari suatu masyarakat atau bahkan negara dapat kita golong-golongkan misalnya ke dalam golongan petani, buruh, pedagang, pegawai pemerintahan, bangsawan, dan lain-lain, yang masing-masing mempunyai pola tingkah laku, adat-istiadat, dan gaya hidup yang berbeda-beda.

About these ads

3 thoughts on “KEBERAGAMAN DALAM MASYARAKAT

  1. Ada baiknya tulisan-tulisan tersebut juga diperkaya dengan referensi, supaya lebih mantap keilimiahannya. Terlebih mengenenai sejumlah konsep. KOnsep suku-bangsa misalnya. Konsep itu sebenarnya tak terikat oleh dimensi waktu dan ruang, juga ciri-ciri fisik.Hampir tak terkait dengan faktor keturunan, tetapi lebih terkait pada apa dan bagaimana model dan bentuk sosialisasi kebudayaan dalam keluarga batihnya. Demikian juga dengan sejumlah konsep yang lain. Saya mendukung blog Anda. Teruskan ya.

    Like this

    • terimakasih atas kritik dan sarannya, Pak!
      semoga untuk kedepannya saya dapat menulis yg lebih baik lagi :)
      untuk referensi, saya memang lupa mencantumkannya,
      tulisan ini saya buat dgn mengutip buku Koentjaraningrat dan hasil diskusi di kelas antropologi dgn teman2..

      Like this

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s