Definisi-definisi Budaya dan Kebudayaan

Menurut para pakar antropologi dan kebudayaan

  • EB Taylor, 1832 –1917

Kebudayaan adalah keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adapt, serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

  • Ki Hajar Dewantara, 1889-1959

Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

  • Robert H Lowie, 1883-1957

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal.

  • Koentjaraningrat, 1923-1999

Kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya.

  • Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.
  • Soerjanto Poespowardojo, 1993

Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara lading

  • Arkeolog R. Soekmono

kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan alam penghidupan

  • Parsudi Suparlan

Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya.

Menurut pendapat khalayak umum (hasil wawancara)

1. Hafiz Rancajale, seorang aktifis seni di Lembaga Swadaya Masyarakat Forum Lenteng, Jalan Lenteng Agung Raya.

Dia berpendapat bahwa budaya adalah sebuah daya upaya yang merujuk kepada manusia atau masyarakat. Dalam masyarakat sendiri budaya itu pada dasarnya merupakan suatu system atau mekanisme hubungan antara individu atau kelompok dengan individu atau kelompok yang lain. Hal tersebut dapat berupa interaksi untuk kepentingan-kepentingan seperti kepentingan ekonomi, kreatifitas, politik, sosial, dan sebagainya. Sesuatu baru bias dikatakan sebagai budaya apabila sudah terdapat suatu kesepakatan dari masyarakat itu sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung.

Adanya perbedaan budaya menyebabkan suatu konflik. Hal ini terjadi karena sifat dasar dari budaya yang terus berkembang (secara alamiah dari sifat manusia) sehingga suatu kelompok memaksakan budaya mereka kepada kelompok yang lain. Dan hal ini merujuk pada pengertian budaya sebagai suatu kekuasaan. Contohnya adalah bangsa-bangsa Eropa yang menjajah bangsa-bangsa di Asia.

Apabila suatu budaya tidak berkembang, maka budaya itu akan mati. Hal ini bias dilihat sebagai contoh adalah budaya keroncong dan budaya betawi yang gaungnya sudah jarang terdengar di kalangan masyarakat kita.

2. Nanda Sirajul Munir, seorang aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat Kumpul Bocah di Yogyakarta.

Dia berpendapat bahwa budaya itu adalah suatu proses atau dinamisme yang terus berkembang dalam suatu masyarakat. Budaya merupakan cermin pribadi suatu masyarakat yang terus mengalami perubahan hingga mencapai titik puncak dan pada suatu saat budaya itu akan mati.

Sementara kebudayaan sendiri adalah produk dari budaya. Kebudayaan bisa dilihat dan dinilai dengan akal pikiran serta bisa dikaji lebih dalam melalui ilmu budaya atau antropologi. Sebagai contoh adalah kebudayaan Cina, Peradaban Mesir Kuno, dan sebagainya.

3. Khairuman, seorang sarjana Filsafat IAIN Jakarta.

Menurut beliau, pada dasarnya ada tiga tingkatan, yaitu agama, adat, dan budaya. Agama atau bisa disebut sebagai nilai religi adalah merupakan ilhan dari Sang Pencipta. Dan nilai-nilai religi ini akan diadopsi oleh adat sehinga timbullah suatu aturan-aturan. Meskipun dalam konteks pengertiannya, bahwa agama dan adapt merupakan bagian dari suatu budaya, namun pada dasarnya budaya itu merujuk kepada ilham dari Sang Pencipta. Maka dari itu lah dalam tiga tingkatan itu, nilai religi terletak di strata pertama.

Sesuatu baru bisa dikatakan sebagai budaya apabila telah mendominasi semua pola pikir semua orang.

4. Harris, seorang mahasiswa program pascasarjana di Universitas Indonesia, dan juga merupakan aktifis seni teater kampus di UI.

Budaya adalah daya pikir manusia untuk mencipta suatu karya yang mempunyai nilai-nilai yang terkandung di dalam karya tersebut. Sedangakan Kebudayaan adalah produk dari budaya itu sendiri.

5. Muhamad Arif, teman satu kost, mahasiswa FISIP Hubungan Internasional.

Menurutnya, budaya atau kebudayaan adalah suatu karya cipta yang dihasilkan oleh manusia.

About these ads

2 thoughts on “Definisi-definisi Budaya dan Kebudayaan

  1. I reviewed this subject from “Pengantar Ilmu Antropologi”, Koentjaraningrat, 2002. But I also combined them from the interview with some people in discussion in my campus, forum, and hangout. :)

    Like this

  2. mr.lee says:

    did u get this from a book? if yes can i have the book’s name, year and title? i need it for my research but sources can only be from book. so i need those details.. please….. thanks..

    Like this

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s