BENTUK-BENTUK SATUAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Manusia adalah makhluk yang hidup secara kolektif, berbagai kekurangan membuat manusia merasa butuh dengan orang lain. Dengan kolektifitas ini, manusia dapat hidup secara bahu membahu, saling membantu sehingga membuat manusia semakin kuat sehingga dapat bertahan dalam mempertahankan kelangsungan hidup.

Sistem pembagian kerja, aktifitas kerja sama serta berkomunikasi pada kehidupan kolektif manusia bukan bersifat naluri. Karena manusia adalah makhluk yang memiliki akal yang dengan akalnya tersebut manusia dapat membayangkan dirinya serta peristiwa-peristiwa yang mungkin dapat terjadi pada dirinya, sehingga manusia dapat mengadakan pilihan serta seleksi terhadap berbagai alternatif dalam tingkah lakunya untuk mencapai efektifitas yang optimal dalam mempertahankan hidupnya. Jika ditemukan suatu tingkah laku yang kolektif dalam menanggulangi hidup, maka manusia cenderung untuk mengulanginya. Kemudian dengan komunikasi terhadap individu lain terutama terhadap keturunannya, maka ini akan menjadi suatu pola yang mantap. Hal inilah yang biasanya membentuk adat istiadat atau suatu kebiasaan dalam lingkungan kolektif.

Masyarakat menurut Koentjaranigrat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Konsep masyarakat berbeda dengan konsep komunitas. Masyarakat adalah istilah umum bagi suatu kesautan hidup manusia dan karena itu bersifat lebih luas daripada istilah komunitas. Komunitas lebih bersifat khusus karena ciri tambahan ikatanlokasi dan kesadaran wilayah. Namun demikian, ”komunitas” masuk dalam kedalam masyarakat sebagai salah satu wujud kesatuan manusia yang menekankan aspek lokasi hidup dan wilayah, sementara wujud yang lain adalah ”kelompok” yang menekankan aspek organisasi dan pimpinan dari suatu kesatuan manusia. Konsep yang hampir sama dengan ”kelompok” adalah ”perkumpulan” namun tidak masuk dalam kategori masyarakat. Ada tiga wujud kesatuan manusia yang lain, yang tidak disebut sebagai masyarakat, yaitu ”kerumunan”, ”kategori sosial”, dan ”golongan sosial”.

A. Kerumunan (crowd)

Le Bon dalam bukunya The Crowd: A study of the Popular Mind (judul asli: La Foule, 1985) berpendapat bahwa dalam pengertian sehari-hari istilah kerumunan berarti sejumlah individu yang berkumpul bersama, namun dari segi psikologis istilah kerumunan mempunyai makna sekumpulan orang yang mempunyai ciri baru yang berbeda yaitu berhaluan sama dan kesadaran perseorangan lenyap dan terbentuknya satu makhluk tunggal kerumunan terorganisasi (organized crowd) atau kerumunan psikologis (psychological crowd).[1]. Kerumunan merupakan sekumpulan orang berjumlah relatif besar yang bersifat sementara diamana perkumpulan itu disebabkan oleh sebuah kejadian, dan orang-orang tersebut memberikan reaksi yang sama terhadap rangsanga kejadian tersebut. Dalam kerumunan juga bisa terjadi interaksi, tetapi belum bisa dikatakan sebagai masyarakat. Hal ini disebabkan dalam kerumunan tidak terdapat suatu ikatan khusus (yang merupakan sayarat dari sebuah masyarakat), yiatu berupa pola tingkah laku yang khas mengenai semua faktor kehidupannya, yang mana pola itu bersifat mantap dan kontinyu; telah menjadi adat-istiadat yang khas.

Suatu kerumunan manusia mengandung sifat-sifat psikologis tertentu yang dapat dipergunakan orang lain untuk maksud-maksud positif dan negatif. Suatu kerumunan manusia dapat dibuat emosional, misalnya dengan suatu pidato yang berkobar-kobar, kemudian diajak untuk mengadakan demonstrasi.

B. Kategori Sosial (social category)

Kategori sosial adalah kesatuan manusia yang terwujdukan karena adanya suatu ciri atau suatu kompleks ciri-ciri obyektif yang dapat dikenakan kepada masing-masing manusia itu.

Sebagai contoh adalah dalam masyarakat ada suatu kategori orang yang memilik mobil dan yang tidak memilik mobil, dengan maksud untuk menentukan siapa-siapa saja yang harus membayar sumbangan wajib dan siapa-siapa sja yang bebas dari sumbangan itu. Contoh lain adalah dalam suatu negara ditentukan melalui hukum bahwa ada kategori orang-orang yang berumur diatas 18 tahun dan ada orang-orang yang berumur dibawah 18 tahun, untuk membedakan warganegara yang telah memiliki hak pilih dan warganegara yang belum mendapat hak pilih dalam Pemilu.

Dalam kategori sosial tidak ada adat, sistem nilai, atau norma tertentu yang mengikat. Kategori sosial juga tidak memiiki lokasi, organisasi dan pimpinan.

C. Golongan Sosial

Golongan sosial adalah kesatuan manusia yang terwujud karena suatu ciri yang dikenakan kepada masyarakat yang bersifat spesifik dari pihak luar.

Sebagai contoh adalah golongan Negro atau Blacks dalam masyarakat Negara Amerika Serikat terjadi karena cirri-ciri ras yang tampak pada mereka membedakan mereka dari warganegara Amerika Serikat lain yang mempuyai ciri-ciri ras Kaukasoid. Mereka (orang-orang Negro itu) mempunyai rasa identitas sosial sebagai suatu golongan khusus karena dalam masyarakat mereka didiskriminasi dengan pandangan stereotipe yang biasanya merendakhan mereka.

D. Komunitas (community)

Komunitas adalah satu kesatuan hidup manusia (kumpulan dari berbgagai populasi) yang menempati suatu wilayah yang nyata dan berintegrasi menurut sistem adat istiadat dan terikat oleh rasa identititas komunitas. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.

Komunitas, menurut John Dewey, terbangun dari ikatan-ikatan (commonalities) yang secara rumit saling terkait melalui komunikasi. Masyarakat tidak terus ada karena penyebaran, karena komunikasi, tetapi cukup layak jika dikatakan bahwa masyarakat terwujud dalam komunikasi. Ikatan-ikatan, dalam bentuk seperi ‘tujuan, kepercayaan, dan pengetahuan’, adalah keharusan bagi terbentuknya komunitas, dan terbangun melalui komunikasi. Dalam konsepsi Dewey, komunikasi dan cara-cara di mana komunikasi dilakukan adalah krusial bagi pembentukan komunitas, dan kita bisa menyimpulkan juga bahwa ‘kualitas’ komunikasi menyatu dengan kualitas komunitas tersebut (John Dewey, 1916: 4).[2]

Komunitas dapat terbentuk oleh empat faktor : komunikasi dan keinginan berbagi (sharing): Para anggota saling menolong satu sama lain, tempat yang disepakati bersama untuk bertemu, ritual dan kebiasaan: Orang-orang datang secara teratur dan periodik, influencer: influencer merintis sesuatu hal dan para anggota selanjutnya ikut terlibat. Dalam komunitas juga terdapat beberapa aturan sendiri, yaitu saling berbagi (share), komunikasi, transparasi dan kejujuran, serta partisipasi (dari anggota komunitas tersebut)[3]

E. Kelompok (group)

Kelompok dikatakan sebagai masyarakat karena memenuhi syarat-syaratnya, yiatu sistem interaksi antara para anggota, dengan ada-istiadat serta sistem norma yang mengatur interaksi itu, dengan adanya kontinuitas, serta dengan adanya rasa identitas yang mempersatukan semua anggota manusia tadi. Dalam suatu kelompok dikenal yang namanya organisasi dan sistem pimpinan. Selain itu lokasi bukan merupakan unsure yang menentukan hidup matinya suatu kelompok.

Dalam suatu kelompok, sistem pimpinan yang dimiliki bukanlah bersifat buatan, melainkan atas dasar orgasisasi adat, dan bersasarkan kewibawaan dan karismatik, sedangkan hubungan dengan warga kelompok yang dipimpin lebih berdasar azas perseorangan. Hubungan yang terjadi dalam suatu kelopmok adalah bersifat kekeluargaan. Contoh dari kelompok (group) ini adalah masyarakat marga Tarigan, atau masyarakat subak Tihigan.

F. Perkumpulan (association)

Perkumpulan dijelaskan berdasarkan prinsip guna serta keperluannya atau fungsinya, misalnya suatu perkumpulan dagang, koperasi, suatuperseroan, atau suatu perusahaan dan sebagainya. Dalam kelopmpok, sistem pimpinan yang dimiliki berdasarkan organisasi buatan, dan berdasarkan wewenang dan hukum yang berlaku. Selain itu hubungan dengan anggota kelompok lebih berlandaskan anonim dan azasguna. Hubungan yang mendasari pergaulan manuisa dalam perkumpulan adalah hubungan contractual, yiatu berdasarkan kontrak dan bukan berdasarkan kekeluargaan. Cotnoh dari perkumpulan antaralain sperti Ikatan Dokter Indonesia, ben musik pop Koes Plus, atau Himpunan Indoneia Untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial.


[1] Diakses dari http://azmuharam.blogspot.com/2008/12/sosiologi-23.html, tanggal 2 November, 2009, pukul 7:45 pm

 

[2] Diakses dari http://www.honda-tiger.or.id/forum/definisi-komunitasnya-john-t13506.html?t=13506, tanggal 2 November, 2009, pukul 8:43 pm

[3] Diakses dari http://ricky.muchtar.com/marketingtheory/2009/05/pengertian-komunitas/, tanggal 2 November, 2009, pukul 9:00 pm

About these ads

One thought on “BENTUK-BENTUK SATUAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s