07-25-2014_Pola Segi Empat
foto 25 juli

Ketika Rang Jebor Siap Kutonton

25 Juli, 2014. Sedari subuh pekerjaan saya hanya menunggu kabar. Ada dua kemungkinan mengapa kabar tak kunjung datang. Pertama, memang karena komunikasi dari Parungkuda terkendala akibat tak ada sumber daya listrik yang pas, ditambah kesibukannya membuat kue. Kedua, memang murni berasal dari hatinya sendiri untuk enggan memberi kabar.

Menunggu kabar ini membuat saya frustasi di tengah-tengah badan yang sangat kurang untuk dikatakan sehat. Hingga siang, saya masih menunggu lalu merebahkan diri di kursi. Saya tak tahu apakah besok bisa berangkat ke tempat yang telah kami sepakati. Tapi yang jelas, kondisi badan yang seperti ini benar-benar membuat saya gelisah.

Tadi pagi, saya melihat cahaya di antara dua ventilasi, di atas moi indie (kurang satu huruf ‘o’) yang terbalik yang berdiri anggun di atas rak buku. Saya juga melihat pola garis yang dibentuk oleh kumpulan pipa di dinding putih, diiringi oleh suara seperti di pabrik. Saya juga melihat sepasang saklar yang diterpa cahaya matahari, membentuk bayangan trapesium yang tak menarik sama sekali. Sementara saklar yang hanya sendiri itu dia di dinding yang kusam di samping celah pintu. Lantas, tiga persegi panjang—mungkin itu ventilasi—di pintu cokelat tak cukup menari perhatian saya dari empat ruang kubus yang dua di antaranya terisi buku-buku sementara dua yang lain tertutup rapat. Saya berputar, pandangan saya berputar beberapa kali.

Ada yang aneh. Semakin saya membuat banyak video di blog ini, kunjungan blog justru semakin menurun hingga 70%. Mungkin ‘identitas’ sebagai blog kriminologi mulai terkikis karena, memang, saya semakin jarang menggunakan kata itu sebagai tag di blog ini.

Dan sebelum saya menyelesaikan tulisan ini, otak saya teringat tentang progres tulisan kuratorial tentang The Uprising, yang kemudian dibuyarkan oleh ajakan Enji dan Diki untuk menyaksikan Rang Jebor.

TandaTangan_latar_transparant

07-24-2014_Ketiduran
badan tak sehat

Badan Tak Sehat

24 Juli, 2014. Hari ini tidak berjalan lancar karena badan saya kembali drop. Sakit langganan datang lagi. Gara-gara makan tidak teratur—dini hari tak ikut sahur, dan maghrib selalu telat makan—sakit perut saya kumat lagi. Sempat muntah pula.

Saya pun menjalani hari ini dengan duduk di depan laptop, lalu merebahkan diri, lalu ke depan laptop lagi, dan merebahkan diri lagi. Sekitar pukul delapan malam, lebih kurang tiga jam yang lalu, saya sempat tertidur. Barulah sekarang saya terbangun, hampir melewatkan hari ini untuk merekam video.

Walau badan lemas, saya tetap menyempatkan waktu membaca beberapa artikel terkait bahasan-bahasan mengenai Arab spring. Saya sedikit menjadi lebih aware dengan signifikansi YouTube sebagai medium gerakan sosial—sebelumnya juga sudah sadar, tetapi tidak sekuat ini perhatian saya. Mungkin, besok saya akan mulai melirik esai dari Eisenstein yang membahas revolusi di Potemkin, untuk membandingkan gagasan revolusinya dengan ide Snowdon (yang ia klaim sebagai sebuah gagasan baru).

TandaTangan_latar_transparant

07-23-2014_Ngomong John
pasca bukber

Pasca Bukber

23 Juli, 2014. Dalam perjalanan pulang dari acara buka bersama keluarga, saya, Otty dan Hafiz berbincang tentang satu situasi yang terjadi pada peristiwa 98. Menurut cerita Hafiz, pada waktu pendudukan gedung MPR dan DPR oleh mahasiswa, mahasiswa terancam akan ‘diancurin’ oleh tentara (darat). Untung saja ada marinir… kalau tidak… hm…

TandaTangan_latar_transparant

07-22-2014_Komeng
foto 22 juli

Di Hari Mendapat Presiden Baru

22 Juli, 2014. Dihari ketika Jokowi-JK ditetapkan menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Terpilih untuk periode 2014-2019, di antara banyak kekonyolan yang muncul di media sosial dan televisi, ada satu hal yang membuat saya tertawa geli—meskipun ini pun tetap ditegur oleh Otty pada akhirnya—yakni keluhan orang-orang kepada saya karena umpatan-umpatan di status akun Facebook pribadi saya.

Hal yang sama juga dialami oleh seorang teman penulis/kritikus filem, Makbul Mubarak. Dia diprotes karena menyematkan umpatan “bencong” di status akun Facebook miliknya ketika menanggapi pemberitaan Prabowo yang protes terhadap perolehan suara. Merasa senasib dan sesikap dengannya, saya justru ikut beromentar di status itu dan memilih untuk membela Makbul.

Lagipula, saya juga bingung. Umpatan di Facebook seringkali ditanggapi serius oleh beberapa kawan, apalagi yang berasal dari Pekanbaru. Istilah ‘orang intelek’ pun dibawa-bawa untuk dijadikan palu yang dapat memukul si orang yang mengumpat di Facebook itu. Jujur saja, saya agak tidak setuju dengan itu. Sebab, media sosial hanyalah ruang publik maya. Kasarnya, itu hanyalah ‘tempat sampah’. Lantas, apa bedanya ketika saya duduk di warung kopi lalu mengumpat setelah membaca surat kabar, dan umpatan itu pun hanyalah ungkapan ekspresi yang ingin saya tunjukkan ke teman yang berada di sebelah saya (tapi bukan berarti saya mengumpati teman saya itu).

Tak ada selain ‘konteks’ yang menjadi tameng saya untuk menangkis palu istilah ‘orang intelektual’ itu. Saya bukan sedang mencari pembenaran, tetapi sedang mencoba bersikap rasional. Selama kita memahami konteks dengan pikiran yang terbuka, orang membuang hajat di depan kita pun tak akan jadi masalah. Saya ingat betul bagaimana Nabi Muhammad SAW tak marah sedikit pun ketika kaum Quraisy melemparkan tahi ke kepalanya. Mengapa Rasulullah tidak marah? Karena dia memahami konteks. #asyek #guenyampah

TandaTangan_latar_transparant

07-21-2014_Mencoba Drama
foto 21 juli

Bicara Vernakular

21 Juli, 2014. Hari ini, saya sudah selesai membaca tulisan Peter Snowdon, “The Revolution Will be Uploaded: Vernacular Video and the Arab Spring” (Culture Unbound, 2014, Vol. 6, hlm. 401-429). Dalam tulisan itu, saya mulai memahami pemikiran si sutradara The Uprising ini, terutama cara pandangya terhadap ‘perspektif kamera’ dalam konteks pembicaraan mengenai ‘revolusi’ dan perkembangan media kontemporer. Yang perlu dicatat, pemaparannya yang mengembangkan ide  Judith Butler mengenai ‘the people’ (yang dilihat sebagai ‘performative’) dan ide Ivan Illich mengenai ‘vernacular video’.

Menurut Snowdon, karena ‘the people’ dilihat sebagai ‘performative’ atau ‘performance’—yang oleh Butler secara progresif didefinisikan sebagai peristiwa yang plural, konfliktual, ‘self-constituting’, dan berhubungan dengan ‘pernyataan dengan tindakan’, yang dengan demikian secara politis, “people” berwujud sebagai “hasl yang terproyeksikan dari proses yang diinisiasi oleh ‘pernyataan’ itu—dengan demikian ‘revolusi Arab’ juga dilihat sebagai ‘performans’ dan video-video yang dihasilkan para demonstran dan diunggahnya ke kanal online semacam YouTube merupakan bagian dari proses dari ‘pernyataan diri sebagai subyek kolektif’. Meluaskan konsep ‘vernacular’ yang digagas oleh Illich—Sang filsuf sekaligus pastor ini berpendapat bahwa ‘vernakuar’ (saya sendiri lebih suka menerjemahkannya sebagai ‘bahasa awam’, sedangkan UTM mengartikannya ‘jelata’) pada haikatnya berakar pada tindakan dan gerakan yang bersifat fisik. Snowdon memaparkan bahwa Illich sendiri pada tahun 1980-an pernah mengembangkan teori “nilai vernakular”, yakni praktek atau aktivitas yang membuat suatu komunitas (massa) otonom dari Negara dan ranah komersial (bisnis). Saya memahaminya sebagai kearifan warga yang hanya dimengerti oleh lingkup komunitas warga itu sendiri dan berada di luar jangkauan kekuasaan.

Berdasarkan keterangan itu, kita dapat melihat bahwa Snowdon berusaha mengkombinasikan dua pemikiran Illich dan Butler. Video-video revolusi Arab yang diunggah ke YouTube, oleh Snowdon, dimaknai sebagai ‘vernakular’ itu sendiri karena—menggunakan istilah Illich, bahwa ‘the people’ memiliki kecenderungan pada ‘ketidaktepatgunaan secara kreatif’ atas teknologi-teknologi yang oleh Negara dan industri digunakan untuk mengontrol warga negara, tetapi Illich mengutarakan ide ini dalam konteksnya mempersoalkan ‘bahasa’—keberadaan teknologi video itu yang murah dan dapat diakses dengan mudah dapat “memperkuat dan menyebarkan citra-citra dan bunyi-bunyi massa yang diproduksi sendiri [mandiri] tanpa intervensi lembaga dan profesional tertentu (dan bahkan kekuasaan) sehingga memainkan peran yang penting dalam mendefinisikan rasa identitas massa dengan caranya sendiri pula”. Kalau dalam bahasa saya, video online yang dibuat oleh massa memiliki potensi ‘muslihat’ yang bekerja di luar sistem (bahkan sistem yang sangat terkapitalisasi semacam internet sekalipun).

Yang menarik, Snowdon menyatakan bahwa dalam mengkaji ranah ‘venakular’, selain dengan cara disiplin tingkat tinggi dan kritis dalam proses dokuemntasi (serta bersifat publik), kita harus berhati-hati agar tidak terjebak pada ‘reduksionisme ilmiah’ dan ‘hasrat pencapaian kejelasan konseptual’, dan justru sebaiknya ‘merangkul’ metafora dan puisi sebagai pendekatannya. Nah, pendapat dari Snowdon ini menjadi catatan penting yang akan saya ulik lebih jauh untuk membangun gagasan kuratorial saya dalam memaparkan kemungkinan-kemungkinan wacana dari filem tersebut.

Sore hari tadi, di tengah-tengah proses saya menamatkan artikel sepanjang dua puluh empat halaman itu, Forum Lenteng melakukan rapat mingguan. Namun, rapat ditunda sekitar setengah jam karena pengurus harian yang lain belum datang. Sembari menunggu ini, kami berbincang-bincang tentang perkembangan komunitas seni di Indonesia, khususnya Jakarta. Tersebutlah nama Serrum, yang menurut penilaian dalam perbincangan kami, belum memiliki posisi tawar yang politis dalam konstelasi kebudayaan di Indonesia. Padahal, sebagian besar anggota mereka adalah sarjana pendidikan (guru).

Sebagaimana pendapat Hafiz dan Diki, sebenarnya Serrum memiliki potensi yang sangat kuat. Seharusnya, dalam setiap agenda kebudayaan mereka, Serrum selalu menempatkan isu pendidikan sebagai perspektif utama—sebagaimana Forum Lenteng menempatkan filem, video, sinema dan media sebagai perspektif dalam mengulas berbagai isu.

Dari bahasan itu, topik pembicaraan berpindah ke pertanyaan, “Apakah ada komunitas lain di Indonesia yang memiliki ketegasan dan konsistensi perspektif pada ranah sektoral tertentu seperti yang dilakukan Forum Lenteng terhadap media?”

Saya tak mendapat jawaban yang pasti dan tegas. Saya sempat menyinggung soal ranah arsitektur. Hafiz sempat menyebut bahwa ada komunitas yang berpegang pada perspektif ilmu arsitektur dalam kegiatan mereka, tetapi tidak bertahan lama. Lagipula, menurutnya, lingkungan dan gaya hidup arsitek terkesan ekslusif, dan jarang di antara mereka yang terjun ke wilayah aktivisme. Mengapa—kita bisa sadari bahwa ketika ada pembangunan tertentu di kota yang kemungkinan besar memiliki dampak sosial, jarang sekali ada komunitas arsitek yang bersuara—demikian? Sebab, jika mereka ‘bersuara’, mereka akan kehilangan lahan. Dan celetukan yang membuat kami semua tertawa, yang berkali-kali diulang sebagai bahan lelucon, tetapi bukan akhir dari obrolan—tetapi akan menjadi penutup dalam tulisan saya kali ini—adalah jika ingin menyalahkan ruang publik Jakarta penuh masalah, “Ya salahkan arsitek!” seru Hafiz.

TandaTangan_latar_transparant