dokumen tooftolenk

mendata, mengolah, membingkai, mengkurasi, mengarsip

I’m criticizing ourself

Almost two years, we have been shouting and twittering that we prevent crime, and being the wepreventcrime. Almost two years we have been trapped in the narcotizing dysfunction syndrome and being proud of pseudo prevention. We claim to be people who prevent crime, but what crime did we prevented? We say that we prevent crime by means of researches, but I don’t see the real research! We say that we prevent crime by means of studies, but I don’t see there are problems we solve! We say that we prevent crime by means of works, but I don’t see the Work! We say that we prevent crime by means of journals publication, but there’s no journal we have issued. We should realize that our crime prevention action can not be real if we have not managed to quell our own ‘crime’ yet. Ironically, we are proud of being red while the ‘red’ means danger and absolutely be dangerous.

selamat ulang tahun ageung

dokumen-tooftolenk_selamat-ulang-tahun-ageung_01

Bojongkokosan, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, 1 May 2013

“Lo itu keren lagi, Geung! Lo punya sesuatu yang gue gak bisa…”

“Apa?”

“Kalau di tengah-tengah massa, lo lebih cair.”

“Iya, dong! Gue warga!”

“Ah, gak jadi, deh! Gue tarik pujian gue.”

“Hahaha!”

(Percakapan di Kota Tua, Jakarta, 10 April 2010)

batu permata ke batu kecapi

Tahu tidak?! Tadi malam, Ageung bercerita lagi kepada saya bahwa ada gosip baru yang berhubungan dengan surup-kesurupan… #asyek Hahaha! Saya cukup antusias mendengarnya meskipun sedikit kecewa karena bukan soal buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Cerita kesurupan dari Parungkuda ini mulai beranjak ke persoalan mitos dan kisah misteri yang hidup di masyarakat Parungkuda melalui mulut ke mulut. Sebuh narasi kecil yang (bisa dibilang) tidak pernah diangkat oleh media arus utama.

Jadi, katanya, buruh perempuan di PT. Nina 1 yang lama, yang mati karena kesurupan setan pangeran dari kerajaan antah berantah itu, mirip dengan Teh Puput, teman Ageung sesama buruh di PT. Nina 1 yang sekarang. Kemiripan mereka berdua juga di-iya-kan oleh teman sesama buruh yang lain, yakni Munir, Teh Yulis dan Mak Een. Munir mengatakan bahwa si buruh perempuan itu menjadi wadal manusia (atau tumbal, lebih tepatnya). Sementara itu, Mak Een mengatakan bahwa si buruh perempuan tersebut mati kesurupan karena dikerjai atau diguna-guna oleh mantan kekasihnya.

Menurut cerita Ageung, yang ia dengar dari para buruh, dahulu di lokasi PT. Nina 1 yang lama (sekarang menjadi PT. Nina 2) ada sebuah pohon besar tempat bersarangnya para setan. Sekarang, pohon itu sudah tidak ada. “Udah ditebas, katanya,” jelas Ageung.[1]

Menurut saya, tentunya cerita ini sudah terdramatisasi sedemikian rupa karena selalu dibumbui dengan segala tambahan peristiwa khayal ketika diceritakan secara terus-menerus dari mulut ke mulut. Sangat mungkin bahwa si buruh perempuan yang mati kesurupan itu, sebenarnya, mengalami kematian yang wajar-wajar saja. Pengalaman-pengalaman tentang kesurupan itu membuat persepsi orang-orang di sekitarnya mencoba mengait-ngaitkan penyebab kematian dengan hal-hal gaib.

“Tapi, kalau menurut Munir, sih, perempuan itu matinya gak wajar,” kata Ageung. “Sebelum mati, kelihatan tanda-tanda serangan si setan, seperti air liur yang selalu menetes seperti anak kecil, dan sebelah matanya juling. Tapi itu katanya, ya…! Hahaha!”

Masih ada yang percaya bahwa para setan di PT. Nina 2 sekarang ini belum pergi dari pabrik itu. Ada kemungkinan akan terjadi peristiwa kesurupan lanjutan, bisa nanti, besok, minggu depan, bulan depan, atau kapan pun… kita tidak tahu.

“Kok bisa begitu?” tanya saya.

“Soalnya, kata Munir masih ada satu benda yang belum ditemukan,” jawab Ageung.

“Satu benda? Maksudnya?”

“Iya, satu benda misteri, semacam permata, yang jadi sarang si setan.”

“Oh, gitu…”

Mendengar cerita itu, saya jadi teringat novel Harry Potter. Musuh besar Harry, si Lord Voldemort, membagi jiwanya menjadi tujuh dan menyimpannya di tujuh benda keramat. Untuk memusnahkan Voldemort, Harry harus menghancurkan ke tujuh benda itu, yang oleh para penyihir disebut sebagai Horcrux.

Saya jadi tertawa ketika mendengar cerita Ageung. “Wah, berarti pohon besar itu horcrux si setan pangeran, dong?”

“Iya, bisa dibilang begitu! Hahaha!” ucap Ageung tertawa juga. “Ya, kalau bahasa kitanya, pohon besar atau permata itu seperti jimat gitu, deh…”

“Nah, omong-omong soal jimat, dulu ada orang di dekat rumah yang sering kesurupan juga,” lanjut Ageung. “Kira-kira waktu aku masih SMP, deh…”

“Gimana kesurupannya?” saya bertanya penasaran. (Dan saya masih berharap-harap cemas kalau jawabannya adalah kesurupan karena mati keselek cireng. Ini soal prinsip: cerita misteri tentang buruh laki-laki yang mati keselek cireng itu lebih menarik ketimbang acara reality show “dunia lain” di TV. #asyek)

 “Jadi, orang itu sering kesurupan gara-gara dirasuki oleh siluman ular,” jawab Ageung. (“Yaaaaaaaaaah…!!!” saya berseru kecewa di dalam hati).

“Bapak orang yang kesurupan itu memiliki sebuah batu yang bentuknya seperti telur ular,” Ageung melanjutkan penjelasannya tanpa mau mengerti kekecewaan saya. #hiks

“Batu apa?”

“Batu jimat gitu, deh… bentuknya seperti telur ular,” kata Ageung. “Nah, anaknya mengalami kesurupan karena, katanya, batu jimat itu dikasih ke orang lain. Silumannya marah sehingga merasuki tubuh si anak.”

“Hmm… gitu…!” saya berujar masa bodoh. “Gak ada cerita tentang orang yang kesurupan arwah gentayangan yang mati keselek cireng, yak?”

“Gak ada!” seru Ageung sedikit kesal, kemudian dia tertawa (mungkin membayangkan tampang kecewa saya yang bodoh. Hahaha!)

“Eh, ada lagi cerita yang lain,” kata Ageung.

“Keselek cireng, gak?”

“Bukaaaan!”

“Ya udah, ya udah… gimana ceritanya?”

“Cerita ini udah lama, waktu aku masih SD. Tentang setan Batu Kecapi.”

“Batu apa?”

“Kecapi…”

“Alat musik?”

“Iya, alat musik.”

“Oh, jadi setannya keluar dari alat musik?”

“Bukan, Batu Kecapi. Itu nama lokasi, daerahnya di wilayah bagian atas.[2] Di daerah itu ada batu yang bentuknya mirip kecapi.”

“Oh, terus…?”

“Nah, dulu aku punya saudara, waktu itu dia masih remaja, sering kesurupan juga.”

“Siapa namanya?”

“Aduh, aku lupa… Sebentar, aku tanya ibu dulu, ya!” di ponsel terdengar suara langkah Ageung berlari menuruni tangga kamar tidurnya. Saya menunggu sekitar sepuluh menit. Kemudian: “Ah, ibu juga lupa ceritanya. Hahaha!”

“Yeee, gimana dah?!”

“Seinget aku aja, ya?”

“Sok, lanjut…!”

“Jadi, saudara jauhku itu sering mengalami kesurupan. Dia sering dirasuki oleh setan yang merupakan nenek buyutnya sendiri. Nenek buyutnya itu dijadikan istri oleh Jin Pangeran yang berasal dari Batu Kecapi.”[3]

“Pangeran lagi…?!”

“Iya… Katanya, setelah sadar dari kesurupan, dia mengaku merasa sedang naik kuda emas, lengkap dengan iring-iringan kerajaan. Dulu, nenek buyutnya itu hilang secara tiba-tiba ketika masih remaja. Nah, kata orang, dia itu hilang karena dipersunting oleh si Jin Pangeran.”

“Batu Kecapi itu adanya di kecamatan apa?”

“Itu udah jadi nama daerah. Masih wilayah Parungkuda, kok, kalau aku gak salah. Sama halnya kalau kamu di Jakarta, orang kenal nama Lenteng, Proposal, atau di Depok ada Kutek dan sebagainya.”

“Oh…”

Ageung juga mengatakan bahwa Batu Kecapi itu[4] sudah sering dipindah-pindahkan, tetapi tanpa diketahui bagaimana kejadiannya, batu itu selalu berada lagi di lokasi tersebut.

“Katanya, pernah ada yang membawa batu itu ke Pelabuhan Ratu, eh nongol lagi nongol lagi…!” kata Ageung. “Bagi warga di sini, cerita tentang Batu Kecapi itu udah menjadi semacam mitos atau cerita rakyat gitu, deh…!”

“Lokasi tepatnya di mana, sih?” saya semakin penasaran.

“Kamu ingat jalan yang kita lalui waktu pergi berenang bersama Randi? Nah, angkot yang kita naiki melintas di depannya.”

“Hm…” saya menanggapi dengan santai (padahal di dalam kepala saya, jiwa petualang saya mulai muncul. Saya bahkan berniat untuk datang ke sana dan ingin melihat langsung. Semoga saja Batu Kecapi-nya masih ada di sana).

Hadeuh… mulai dari cerita kesurupan di pabrik, malah melebar ke cerita rakyat di lingkungan warga Parungkuda. Hahaha!


[1] Tenang, Ageung bercerita dengan santai, kok! Tidak seperti orang yang hobi cerita serem-serem, yang menunjukkan ekspresi menegangkan demi menakut-nakuti orang yang mendengarkan cerita. Lagipula, Ageung, kan cakep! #preeet

[2] Maksudnya, daerah yang kalau kita melalui jalanan aspal, kita akan melalui jalanan yang mendaki.

[3] Okeh, ceritanya mulai aneh. Padahal, hantu keselek cireng tidak akan se-absurd ini. Saya percaya itu.

[4] Saya mulai membayangkan sebuah batu besar yang bentuknya mirip kecapi. Ceritanya jadi mirip legenda Batu Malinkundang. Hahaha! Tapi saya rada-rada lupa. Kalau tidak salah, tadi malam itu Ageung mengatakan bahwa batu-batu di sana mirip kecapi (berarti batunya banyak). Nah kalau begitu, saya membayangkan sebuah lokasi yang isinya banyak batu, dan batunya mirip kecapi. Atau… au ah! Hahaha!

akan orasi di Bojongkokosan

Siang, Hari Kamis, 25 April 2013, melalui ponsel Ageung bercerita kepada saya tentang kabar terbaru dari pabrik PT. Nina 1 di Jl. Angkrong, Parungkuda. Katanya, tanggal 1 Mei tidak masuk kerja karena para buruh akan memperingati Hari Buruh Sedunia.

“Kami akan berkumpul di Monumen,” kata Ageung. “Kamu ingat taman yang pernah kita kunjungi bersama Fajar dulu itu, kan?”

“Oh, iya… aku ingat!” jawabku. “Buruh-buruhnya akan berorasi di sana?”

“Iya, kalau kamu bisa datang ke Parungkuda, kita ke sana, yuk?! Kita bisa tulis peristiwa itu.”

“Boleh juga, tuh! Lumayan cari isu tentang May Day yang baru, gak melulu di Jakarta.”

Lokasi yang dimaksud Ageung adalah Monumen di Bojongkokosan, sebuah desa di Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Di taman tersebut, kalau saya tidak salah ingat, terdapat dua monumen. Monumen pertama adalah 5 patung pejuang yang disebut Monumen Palagan. Pada sebuah artikel di blog bernama pecintawisata, dijelaskan tentang monumen tersebut:

“Di Monumen Palagan, terdapat 5 patung pejuang. Tepat di tengah-tengah, patung pejuang yang dengan bangganya memegang sang saka merah putih. Di sebelah kiri, patung pejuang yang menyerbu dengan menggunakan senapan. Di belakangnya, pejuang yang sedang menyabetkan parang. Di sebelah kiri paling depan, pejuang dalam posisi siap melempar bom Molotov. Dan di belakangnya, patung pejuang wanita dilihat dari kotak P3 K nya merupakan anggota palang merah yang, sayang, patung tersebut patah.”[1]

Pada monumen itu, ada ukiran bertuliskan: “BAGI PEJUANG TAK ADA SUATU KEPUASAN KECUALI HASIL PERJUANGANNYA DITERUSKAN OLEH GENERASI SELANJUTNYA”. Berdasarkan foto di artikel yang saya kutip, diketahui bahwa Monumen Palagan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, H.R.Moh.Yogie S.M, pada Bulan November 1992.

Sedangkan monumen yang kedua adalah sebuah tank, dan di monumen tersebut tertulis “Palagan Perjuangan, 1945, Bojong Kokosan”.[2]

Saya seringkali menoleh ke taman Monumen Bojongkokosan ini ketika bus yang saya tumpangi melintasi Jalan Raya Parungkuda. Lokasi rumah Ageung, di dekat Stasiun Parkungkuda, berjarak sekitar lima belas menit dari sana. Apalagi kalau Hari Sabtu (malam minggu), saya sering melihat banyak muda-mudi nongkrong di sana. Ada yang beramai-ramai atau berdua-duaan. Atau kalau bus yang saya tumpangi melintasinya di sore hari, saya juga sering melihat buruh-buruh pabrik (umumnya perempuan) melintas di depan taman itu. Rombongan buruh yang keluar dari pabrik itu merupakan sebuah pemandangan yang langka di tempat saya tinggal, di Depok.

Tanpa sengaja, saya menemukan sebuah sajak pada sebuah blog. Sajak tersebut, sedikit banyak, menggambarkan sifat dari lokasi itu. Berikut adalah sajak yang di-post oleh Pyan Sopyan Solehudin tertanggal Cicurug, 20 Desember 2009 tersebut:

“gadis-gadis mekar

tumpah padah

mengitari pabrik-pabrik

mengantri masa depan

-

bojongkokosan

saksi para pejuang

monumen diruntuhkan

dalam upacara kematian

-

muda-mudi bergiliran

mojok bercinta-duaan

membekas darah perjuangan”[3]

Membayangkan suasana demonstrasi atau orasi yang akan dihelatkan oleh para buruh se-PT. Nina, se-Parungkuda atau se-Kabupaten Sukabumi di sana, saya menjadi semangat. Momen itu pasti menjadi sebuah pemandangan tentang peristiwa massa yang sangat menarik. Bagi saya, mungkin, yang bukan orang Parungkuda, hal itu menjadi eksotis. Bagi orang-orang Parungkuda, seperti Ageung, atau para buruh-buruh pabrik, itu sudah menjadi kegiatan tahunan yang biasa, tetapi penting.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya taman itu memang satu-satunya tempat yang pas untuk melakukan orasi karena di depan taman itu, seingat saya, ada sebuah tanah lapang yang cukup pas untuk menampung massa. Selain benda sejarah yang ada di taman itu juga berkaitan dengan peristiwa di masa lalu yang esensinya memiliki kesamaan, yakni perjuangan, lokasi itu juga merupakan lokasi yang akrab bagi warga yang tinggal di sekitaran Jalan Raya Parungkuda. Katanya, lokasi itu menjadi salah satu kebanggaan warga lokal di sana.

Pada tulisan ini, saya tidak memiliki dokumentasi fotonya. Semoga saja pada tanggal 1 Mei nanti, saya bisa hadir di sana dan berkesempatan mengabadikan peristiwa demonstrasi para buruh. Saya berjanji, jika kesempatan itu jadi kenyataan, saya akan memuatnya di blog ini. #asyek

Jika teman-teman ingin membaca informasi tentang lokasi tersebut, bisa disimak di blog pecintawisata, atau di sebuah artikel di akumassa yang berjudul “Kenangan Kepahlawanan dalam Seremoni 10 Nopember”.


[1] Diakses dari “Melihat Sejarah di Monumen Bojongkokosan”, http://pecintawisata.wordpress.com/2011/09/26/melihat-sejarah-di-monumen-bojongkokosan/, 25 April 2013, 03:50 PM. Ejaan disesuaikan oleh penulis.

[2] Ibid.

[3] Diakses dari “Monumen Bojongkoksan”, http://asi7.wordpress.com/2009/08/13/monumen-bojongkokosan/#comment-382, 25 April 2013, 04:02 PM.

Peraga

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_01

Senin sore hari, 22 April 2013, sepulang dari tempat service laptop, saya mampir ke kampus. Kebetulan, waktu itu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) mengadakan acara pembukaan Peraga 2013. Peraga adalah singkatan dari Pekan Olahraga.

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_02

Saya sudah mulai jarang datang ke kampus sehingga tidak begitu mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga mahasiswa. Biasanya, kegiatan-kegiatan di kampus FISIP UI selalu “terdengar”. Di tahun ini, nuansa heboh itu sedikit berkurang. Selain acara Pekan Komunikasi yang telah ditutup beberapa hari lalu, pembukaan acara Peraga 2013 adalah kegiatan mahasiswa FISIP UI kedua yang saya lihat secara langsung.

“Lo hadirnya kalau di Takor doang sih, Bang!” ujar salah seorang mahasiswa. “Jadi gak tau apa-apa aja yang udah diadain di FISIP.”

Ya, jelas saja! Mana mungkin saya menghadiri satu per satu kegiatan mahasiswa yang jumlahnya begitu banyak? Badan saya cuma satu. Namun, saya tetap mengeluh bahwa aktivitas mahasiswa di FISIP UI, di tahun ini, memang terasa sangat kurang (tapi bukan berarti tahun-tahun sebelumnya lebih baik dari tahun ini). Masalah utama yang selalu saya temui di lingkungan mahasiswa FISIP UI ialah penyelenggaraan-penyelenggaraan acara tersebut tidak diiringi dengan publikasi yang menohok. Dengan kata lain, tidak canggih.

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_03

Saya berusaha memaparkannya lebih jauh dengan meninjau Peraga 2013. Dari tahun 2009, keluhan yang bergaung berulang-ulang di kalangan mahasiswa, baik para pengurus lembaga maupun mahasiswa di luar pengurus lembaga, terkait dengan kegiatan olahraga kampus adalah tidak hidupnya euforia “pesta olahraga”. Dan memang pada kenyataannya, suasana “pesta” itu hanya akan terasa jika ada lembaga mahasiswa tertentu menyelenggarakan sebuah kompetisi olahraga. Di luar itu, nuansa olahraga hanya dirasakan oleh mereka yang memang memiliki hobi berolahraga dan setiap minggu mengikuti latihan rutin di komunitas-komunitas olahraga yang beroperasi di kampus. Ada pun usaha oleh Himpunan Mahasiswa di setiap jurusan atau departemen di FISIP UI demi menjaga antusiasme mahasiswa terhadap aktivitas olahraga, kegiatan itu hanya dilihat sebagai formalitas program regular dari setiap divisi olahraga yang ada di dalam himpunan tersebut. Akhirnya, wacana olahraga hanya berhenti di titik seru-seruan membicarakan klub sepak bola idola yang pertandingannya akan ditayangkan di televisi (Sekarang, sepertinya seru-seruan ini lebih hidup di twitter ketimbang di meja makan kantin kampus).

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_04

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_05

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_06

Pernah suatu hari, seorang teman mahasiswa satu jurusan kriminologi bertanya bagaimana pendapat saya tentang realitas FISIP UI yang krisis budaya olahraga.

“Mengapa budaya olahraga di FISIP tidak hidup?”

Saya menjawab singkat: “Tidak semua mahasiswa menyenangi olahraga.”

Kalau didengar sepintas, memang pendapat itu terkesan masa bodoh. Namun, pendapat saya itu sebenarnya sedang mencoba menantang kita, mahasiswa FISIP UI, untuk mampu menghadirkan sebuah wacana per-olahraga-an yang polemis bagi mahasiswa FISIP UI sendiri. Polemis di sini maksudnya ialah “sesuatu yang memancing ketergangguan” atau “sesuatu yang memancing nalar dan perdebatan yang sehat”. Dalam hal membicarakan budaya olahraga di lingkungan kampus, tentunya sesuatu yang polemis itu harus merujuk pada konteks lingkungan kampus yang dimaksud. Dengan kata lain, saya sedang memikirkan bagaimana jikalau kita bisa membangun sebuah perdebatan intelektual yang sifatnya lokal bagi lingkungan FISIP UI. Saya rasa, langkah ini yang sepertinya belum dilakukan oleh BEM FISIP UI secara maksimal.

Oke, kita memang tidak bisa mengabaikan begitu saja usaha-usaha yang sudah dilakukan oleh BEM FISIP UI untuk menghidupkan budaya olahraga di kampus kita. Kalau istilah para pengurus BEM: “membumikan budaya olahraga”. Saya masih ingat, pertengahan tahun lalu, para pegawai kantin Takor FISIP UI mulai marak bermain tenis meja di siang hari di salah satu lahan kosong kantin, yakni lahan yang terletak antara toilet (sekarang toiletnya sudah pindah ke belakang kantin) dan meja-meja kantin.[1] Sebuah terobosan dari BEM FISIP UI: mereka memfasilitasi warga kampus dengan meletakkan tenis meja di tengah-tengah kantin, dan boleh digunakan oleh siapa saja yang ingin bermain. Banyak mahasiswa yang berkomentar bahwa langkah itu cukup “menendang” dan konkret karena antusiasme olahraga tidak lagi hanya muncul dari mahasiswa, tetapi juga dari semua warga yang ada di kampus. Selain itu, acara-acara besar tingkat fakultas atau jurusan yang diadakan oleh lembaga-lembaga mahasiswa ini juga, paling tidak, mampu menyaring bakat-bakat baru sehingga dapat mengisi kekosongan regenerasi atlet FISIP UI. Akan tetapi, lagi-lagi, kita melihat bahwa cara seperti itu tidak bertahan lama: dia sekedar menjadi langkah musiman.

Panggung acara Pembukaan Peraga FISIP UI 2013 dilihat dari Takor Pojok

Panggung acara Pembukaan Peraga FISIP UI 2013 dilihat dari Takor Pojok

Takor Pojok dilihat dari panggung acara Pembukaan Peraga FISIP UI 2013

Takor Pojok dilihat dari panggung acara Pembukaan Peraga FISIP UI 2013

Meja-meja di kantin Takor dilihat dari atas panggung

Meja-meja di kantin Takor dilihat dari atas panggung

Dibelakang panggung

Di belakang panggung

Dalam sebuah diskusi, saya dan teman-teman di kriminologi sempat bertanya-tanya, mengapa euforia masyarakat dunia terhadap sepak bola bisa begitu hidup bahkan memunculkan kelompok-kelompok penggemar fanatik bagi klub-klub sepak bola tertentu. Kalau ruang lingkup internasional dan nasional bisa memiliki atensi masyarakat yang begitu besar terhadap olahraga, mengapa ruang lingkup kampus FISIP UI yang kecil tidak? Diskusi kami menemukan jawabannya: FISIP UI tidak memiliki media massa. Tidak ada media massa (yang dikelola baik oleh mahasiswa maupun kampus) yang secara khusus mengangkat wacana olahraga ke dalam bentuk “teks”. Saya mengatakannya sebagai jawaban karena, memang, langkah ini belum dilakukan oleh BEM FISIP UI sebagai lembaga eksekutif di kampus: membangun basis informasi dan pengetahuan tentang olahraga. Lembaga mahasiswa di luar BEM FISIP UI juga tidak. Bahkan, FISIPERS, yang mengaku sebagai media massa FISIP yang dikelola oleh mahasiswa secara otonom, juga terbilang sangat jarang menghidupkan wacana ini (atau setidaknya mengarahkan opini publik ke masalah “olahraga di FISIP UI”).

Masyarakat dunia tidak akan tahu, dan juga tidak akan berkembang cara berpikirnya, tentang olahraga jika tidak ada media massa yang secara terus menerus dan intens mengangkat wacana per-olahraga-an dunia. Melalui media massa pula, olahraga tidak hanya menjadi sebuah aktivitas yang melibatkan raga, tetapi juga nalar dan pengetahuan dalam membangun peradaban yang sarat dengan sportivitas. Dan ini lah yang saya maksud dengan “menghadirkan sebuah polemik”; yang saya bayangkan bahwa budaya olahraga tidak hanya hidup di wilayah praktik, tetapi juga di wilayah pengetahuan dan perdebatan intelektual.

Sambutan PO Peraga 2013

Sambutan PO Peraga 2013

Kita bisa paham bahwa penyelenggaraan acara oleh lembaga mahasiswa adalah salah satu kewajibannya untuk memfasilitasi mahasiswa, sekaligus juga menjadi strategi untuk memupuk dan mengembangkan kemampuan dan prestasi di bidang olahraga, baik untuk kepentingan prestasi tingkat fakultas, universitas, maupun tingkat nasional dan internasional.[2] Namun, pertanyaannya, apakah hanya berhenti di tataran praktik dan hanya untuk mereka yang senang dan bisa berolahraga? Bagaimana mereka-mereka yang tidak piawai dalam berolahraga? Tentunya harus ada cara untuk memenuhi kebutuhan itu demi menjaga wacana dan perhatian publik FISIP UI terhadap budaya olahraga.[3]

Sambutan Ketua BEM FISIP UI 2013

Sambutan Ketua BEM FISIP UI 2013

Saya sendiri percaya bahwa dengan hadirnya media massa yang dikelola oleh mahasiswa, analisa dan perumusan tentang bagaimana meningkatkan kualitas atlet akan menjadi lebih terbantukan. Kerja media massa dalam mendokumentasikan perkembangan acara (kompetisi), pertandingan, kemampuan atlet, dan sebagainya yang berkaitan dengan olahraga, akan menghasilkan banyak arsip yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber data untuk mengevaluasi segala hal yang berhubungan dengan kegiatan dan wacana olahraga itu. Ide-ide dan inovasi-inovasi untuk mengembangkan kualitas budaya olahraga akan menjadi semakin banyak dan kuat karena didukung oleh kajian-kajian empirik. Langkah seperti ini pun akhirnya akan mereduksi pendapat-pendapat commonsense yang, pada kenyataannya, tidak memberikan perubahan yang berarti bagi peningkatan kualitas budaya olahraga di kampus kita.

Lantas, bagaimana dengan Peraga 2013 yang sekarang dihelatkan oleh BEM FISIP UI? Oke, ada baiknya kita simak sendiri penuturan dari para penyelenggara acara tersebut pada video berikut:

Komentar mereka adalah harapan (karena pada dasarnya belum menjadi kenyataan). Dan setelah meninjau dan menelusuri lebih jauh, saya tidak melihat bahwa Peraga 2013 memiliki tendensi yang kuat untuk merealisasikan pengembangan wacana dan budaya olahraga di FISIP UI secara ideal. Hingga artikel ini ditulis, saya tidak mendapatkan atau menemukan “teks” yang bisa dianggap sebagai materi yang bersifat pengetahuan, baik tentang Peraga 2013 itu sendiri maupun tentang fenomena olahraga yang sesuai dengan konteks lokal FISIP UI. Di profile akun resmi twitter Peraga 2013, @PeragaFISIPUI, hanya tertulis kalimat: “Depor BEM FISIP UI dengan bangga mempersembahkan : Pekan Olahraga 2013. 22-26 April & 13-26 Mei 2013! Semarak Pesta Olahraga Rakyat FISIP.” Yang ditekankan oleh kalimat itu ialah “acara” yang diadakan dalam rentang waktu tertentu. Informasi di akun twitter tersebut tidak mencantumkan alamat website atau blog, atau wadah informasi yang lebih komprehensif sifatnya, yang berhubungan dengan Peraga 2013.[4] Tentunya, wacana tidak akan bisa dibangun secara kokoh melalui kultwit ringkas, apalagi informasi di twitter dapat dengan mudah tenggelam oleh limpahan twit dari akun-akun orang lain. (Apakah mungkin karena saya yang kurang update? Jika iya, akan lebih baik jika pembaca bersedia menginformasikan hal tersebut di kolom komentar agar kita bisa bersama-sama membantu penyelanggaraan Peraga 2013 FISIP UI ini dengan menyebarkan atau saling berbagi segala informasi yang berkaitan dengannya).

Dokumen-Tooftolenk_Peraga_013

Jika wacana itu ingin hidup, media massanya juga harus hidup. Saya yakin bahwa tanpa ke kampus pun, saya dapat mengikuti perkembangan budaya olahraga di FISIP UI karena ada media yang bisa saya gunakan untuk menjaga stabilitas pengetahuan saya tentang per-olahraga-an di FISIP UI. Akan tetapi, jika ternyata keadaannya memang seperti apa yang terepresentasikan dari twitter @PeragaFISIPUI, yakni panitia penyelenggara Peraga FISIP UI 2013 atau BEM FISIP UI 2013 belum membangun basis informasi dan pengetahuan yang kuat serta ideal tentang olahraga yang sesuai dengan konteks lokal kampus FISIP UI, saya pesimis bahwa acara Peraga 2013 ini mampu membumikan budaya olahraga di kampus kita.[5]


[1] Aktivitas ini bahkan terasa begitu cair. Dia hadir tidak dalam bentuk acara, melainkan menjadi keseharian baru yang berjalan secara wajar. Sama halnya dengan orang-orang yang sengaja keluar rumah pada sore hari mencari tanah lapang untuk bermain bulu tangkis menjelang maghrib tiba. Namun akhir-akhir ini, saya jarang sekali melihat pegawai kantin Takor FISIP UI bermain tenis meja. Ada apa gerangan? Sayang sekali saya tidak memiliki dokumentasi foto tentang kegiatan itu. Saya akan mencoba menanyakannya kepada BEM FISIP UI. Semoga saja mereka punya arsipnya, dan lain waktu akan saya muat di blog ini.

[2] Padahal, kalau dipikir-pikir, persoalan ini menjadi isu yang sangat menarik dan kaya untuk dijadikan bahan studi atau diskusi, sekaligus juga mengembangkan kreativitas dalam kegiatan-kegiatan berbasis media. Bisa dibayangkan, betapa kerennya jika FISIP UI memiliki koran kampus semaca Koran Bola, yang secara khusus menyajikan informasi tentang perkembangan atlet-atlet kampus kita, tentang sistem penyelenggaraan acara, tentang analisa perkembangan budaya olahraga, tentang kebijakan-kebijakan yang menaungi kegiatan-kegiatan olahraga, dan sebagainya. Dan kesemuanya itu dihadirkan dengan konteks yang tak lepas dari kondisi sosiokultural masyarakat di lingkungan kampus FISIP UI. Saya yakin, itu pasti keren! Coba saja kalau tidak percaya!

[3] Sebenarnya, ada sebuah website tentang olahraga (sepak bola) yang  kalau tidak salah dikelola oleh mahasiswa FISIP UI, yakni Define Football, http://definefootball.com/, yang mewacanakan tema sepak bola dengan perspektif yang lebih intelek, berupa ulasan-ulasan yang sifatnya matang dan berbeda dari gaya penulisan media massa arus utama. Sayangnya, pembahasan-pembahasan pada artikelnya lebih bersifat global, tidak lokal untuk konteks FISIP UI.

[4] Saya bahkan mengalami kesulitan untuk mengetahui nama PO penyelenggara acara Peraga 2013. Sebenarnya adalah kewajiban saya untuk bertanya kepada panitia siapa nama si PO, tetapi awalnya saya berpikir mungkin ada di blog atau di portal online atau media lainnya yang menginformasikan tentang Peraga FISIP UI. Namun, yang saya dapatkan hanya akun twitter. Tidak mungkin saya mampu menelusuri twit akun tersebut untuk mencari apakah nama si PO pernah disebutkan atau tidak (cara itu tidak efektif). Mungkin, di website BEM FISIP UI, http://bem.fisip.ui.ac.id/, informasi-informasi yang berhubungan dengan Peraga 2013, ada. Namun, hingga artikel ini ditulis, alamat website tersebut tidak bisa saya akses. Ada yang bisa memberitahu saya di mana portal informasi (baik online maupun tidak online) penuh tentang Peraga FISIP UI bisa kita akses, selain twitter?

[5] Oke lah, kalau misalnya pihak lembaga eksekutif terlalu sibuk untuk memenuhi kewajiban itu, mungkin FISIPERS bisa memainkan perannya. Jika FISIPERS juga tidak mampu, masih ada kelompok-kelompok mahasiswa yang (saya percaya) suatu saat akan memulainya. Intinya, harus ada inisiatif dari kalangan mahasiswanya sendiri untuk membumikan budaya olahraga itu.

Dulu, ada kesurupan juga…

Seminggu yang lalu, Ageung menceritakan lanjutan gosip tentang kesurupan massal yang terjadi di PT Nina. Katanya, belakangan gosip tentang kesurupan massal itu mulai mendramatisasi ke sebuah kisah yang terjadi di masa lampau. Saya menyambut cerita ini dengan semangat. Sebab, seperti yang saya tulis di “Dari Parungkuda; Kesurupan Massal”, kisah tentang kesurupan massal akan terasa lengkap jika dibumbui oleh kisah-kisah misteri yang ‘katanya’ pernah terjadi di lokasi yang bersangkutan.

Perusahaan wig milik orang Korea tempat Ageung bekerja itu terdiri dari tiga cabang perusahaan di Parungkuda: PT Nina 1, 2, dan 3. PT Nina 1 terletak di sebuah daerah yang oleh masyarakat Parungkuda disebut Angkrong. Kalau saya tidak salah ingat, PT Nina 2 terletak di daerah yang lebih dekat dengan Bojongkokosan, sedangkan PT Nina 3 di daerah Cibadak.[1]

Menurut cerita Ageung, PT Nina 2 itu dulunya adalah PT Nina 1. Katanya, dulu di PT Nina tersebut juga pernah terjadi peristiwa kesurupan meskipun bukan kesurupan massal. Korban kesurupan waktu itu adalah seorang buruh perempuan. Si buruh perempuan mengalami kesurupan selama berhari-hari. Karena tidak sembuh-sembuh, keluarga si korban memutuskan untuk membawanya berobat ke Banten. Seorang dukun di Banten yang mengobatinya mengatakan bahwa makhluk halus yang merasuki tubuh si buruh perempuan adalah seorang pangeran (tidak jelas pangeran dari kerajaan apa) yang jatuh cinta kepadanya. Kesurupan yang dialami oleh si buruh perempuan tersebut adalah bukti cinta sang pangeran. Dia menolak untuk keluar dari tubuh si perempuan. Akhirnya, kesurupan yang dialami si buruh perempuan malah menyebabkan dirinya mati. Matinya gantung diri.

Dari gosip yang beredar di kalangan buruh, peristiwa kesurupan massal yang terjadi di PT Nina 1 yang sekarang itu dikait-kaitkan dengan cerita kesurupan seorang buruh perempuan tersebut. “Dan kalau dipikir-pikir, semua buruh yang kesurupan waktu itu juga semuanya perempuan,” kata Ageung.

Cerita tentang kesurupan ini juga melompat atau dikait-kaitkan ke kisah misteri yang terjadi di perusahaan lain, yaitu PT Cosmo.[2] Salah seorang teman Ageung, yang dipanggil Teh Puput, pernah menjadi buruh di perusahaan tersebut, dan mengalami kesurupan. “Kesurupannya juga berhari-hari,” kata Ageung menjelaskan. Teh Puput juga berobat ke Banten, dan dari usaha pengobatan tersebut, diketahui bahwa ada tujuh makhluk halus yang merasuki tubuh Teh Puput. “Mendengar cerita itu, aku jadi inget film Mirrors,” kata Ageung sambil tertawa.

Film Mirrors karya Alexandre Aja (2008) yang disebut Ageung itu adalah sebuah film horor supernatural yang berkisah tentang seorang laki-laki yang berusaha menyelamatkan keluarganya dari serangan hantu-hantu yang muncul di cermin-cermin. Dalam rangkaian ceritanya, akan diketahui nanti bahwa hantu-hantu itu terkurung di dalam cermin karena, secara tidak langsung, dipaksa keluar dari tubuh seorang perempuan yang sebelumnya menjadi semacam tempat bersemayam para hantu. Awalnya, kesurupan yang dialami oleh si perempuan dianggap oleh para ahli kesehatan sebagai gangguan mental. Untuk menyembuhkannya, sebuah terapi cermin diterapkan pada si perempuan. Namun, terapi itu justru memancing para hantu untuk keluar dari tubuhnya dan terjebak di dalam cermin. Sementara itu, para dokter yang menangani kasus tersebut tidak tahu-menahu tentang keberadaan hantu yang mendiami tubuh si perempuan. Setelah lama berselang, para hantu itu menuntut untuk dipertemukan kembali dengan si perempuan. Caranya, mereka meneror orang dengan serangan-serangan yang menelan korban jiwa, dan orang yang diteror tersebut dituntun untuk mencari seorang perempuan bernama Esseker yang ternyata adalah mantan pasien rumah sakit jiwa sekaligus juga perempuan yang dulunya menjadi wadah tempat bersemayamnya para hantu. Di akhir cerita film tersebut, tokoh bernama Anna Esseker yang telah menjadi biarawati itu mengorbankan dirinya untuk dirasuki kembali oleh para hantu demi menyelamatkan keluarga Ben Carson, si tokoh laki-laki yang menjadi korban teror para hantu.

“Mirip, sih… tapi, kan kalau di Mirrors hantunya banyak banget,” saya menanggapi Ageung.

“Hahaha, ya sama aja, yang penting hantunya lebih dari satu!” ujar Ageung.

Setelah mendengar gosip dari PT Cosmo itu, saya belum mendengar lagi kabar terbaru dari Ageung tentang kesurupan di PT Nina. Mungkin isunya sudah tidak semenarik ketika perisitwa kesurupan massal itu terjadi, atau mungkin karena buruh-buruh di PT Nina 1 sedang sibuk dengan tenggat waktu ekspor perusahaan sehingga kekurangan waktu untuk bergosip.

Yang membuat saya sedih adalah hingga sekarang saya tidak mendengar ada kisah misteri tentang buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Padahal, cerita itu pasti lebih menarik untuk dikait-kaitkan dengan peristiwa kesurupan massal. Hahaha!


[1] Saya akan mencoba memastikannya nanti kepada Ageung.

[2] Ageung tidak menyebutkan letak PT Cosmo tersebut. Akan tetapi setelah menelusurinya di google, kemungkinan PT Cosmo yang dimaksud adalah perusahaan elektrik yang terletak di daerah Cibadak, Sukabumi.

jurang kota dan alat berat

Post Navigation