07-21-2014_Mencoba Drama
foto 21 juli

Bicara Vernakular

21 Juli, 2014. Hari ini, saya sudah selesai membaca tulisan Peter Snowdon, “The Revolution Will be Uploaded: Vernacular Video and the Arab Spring” (Culture Unbound, 2014, Vol. 6, hlm. 401-429). Dalam tulisan itu, saya mulai memahami pemikiran si sutradara The Uprising ini, terutama cara pandangya terhadap ‘perspektif kamera’ dalam konteks pembicaraan mengenai ‘revolusi’ dan perkembangan media kontemporer. Yang perlu dicatat, pemaparannya yang mengembangkan ide  Judith Butler mengenai ‘the people’ (yang dilihat sebagai ‘performative’) dan ide Ivan Illich mengenai ‘vernacular video’.

Menurut Snowdon, karena ‘the people’ dilihat sebagai ‘performative’ atau ‘performance’—yang oleh Butler secara progresif didefinisikan sebagai peristiwa yang plural, konfliktual, ‘self-constituting’, dan berhubungan dengan ‘pernyataan dengan tindakan’, yang dengan demikian secara politis, “people” berwujud sebagai “hasl yang terproyeksikan dari proses yang diinisiasi oleh ‘pernyataan’ itu—dengan demikian ‘revolusi Arab’ juga dilihat sebagai ‘performans’ dan video-video yang dihasilkan para demonstran dan diunggahnya ke kanal online semacam YouTube merupakan bagian dari proses dari ‘pernyataan diri sebagai subyek kolektif’. Meluaskan konsep ‘vernacular’ yang digagas oleh Illich—Sang filsuf sekaligus pastor ini berpendapat bahwa ‘vernakuar’ (saya sendiri lebih suka menerjemahkannya sebagai ‘bahasa awam’, sedangkan UTM mengartikannya ‘jelata’) pada haikatnya berakar pada tindakan dan gerakan yang bersifat fisik. Snowdon memaparkan bahwa Illich sendiri pada tahun 1980-an pernah mengembangkan teori “nilai vernakular”, yakni praktek atau aktivitas yang membuat suatu komunitas (massa) otonom dari Negara dan ranah komersial (bisnis). Saya memahaminya sebagai kearifan warga yang hanya dimengerti oleh lingkup komunitas warga itu sendiri dan berada di luar jangkauan kekuasaan.

Berdasarkan keterangan itu, kita dapat melihat bahwa Snowdon berusaha mengkombinasikan dua pemikiran Illich dan Butler. Video-video revolusi Arab yang diunggah ke YouTube, oleh Snowdon, dimaknai sebagai ‘vernakular’ itu sendiri karena—menggunakan istilah Illich, bahwa ‘the people’ memiliki kecenderungan pada ‘ketidaktepatgunaan secara kreatif’ atas teknologi-teknologi yang oleh Negara dan industri digunakan untuk mengontrol warga negara, tetapi Illich mengutarakan ide ini dalam konteksnya mempersoalkan ‘bahasa’—keberadaan teknologi video itu yang murah dan dapat diakses dengan mudah dapat “memperkuat dan menyebarkan citra-citra dan bunyi-bunyi massa yang diproduksi sendiri [mandiri] tanpa intervensi lembaga dan profesional tertentu (dan bahkan kekuasaan) sehingga memainkan peran yang penting dalam mendefinisikan rasa identitas massa dengan caranya sendiri pula”. Kalau dalam bahasa saya, video online yang dibuat oleh massa memiliki potensi ‘muslihat’ yang bekerja di luar sistem (bahkan sistem yang sangat terkapitalisasi semacam internet sekalipun).

Yang menarik, Snowdon menyatakan bahwa dalam mengkaji ranah ‘venakular’, selain dengan cara disiplin tingkat tinggi dan kritis dalam proses dokuemntasi (serta bersifat publik), kita harus berhati-hati agar tidak terjebak pada ‘reduksionisme ilmiah’ dan ‘hasrat pencapaian kejelasan konseptual’, dan justru sebaiknya ‘merangkul’ metafora dan puisi sebagai pendekatannya. Nah, pendapat dari Snowdon ini menjadi catatan penting yang akan saya ulik lebih jauh untuk membangun gagasan kuratorial saya dalam memaparkan kemungkinan-kemungkinan wacana dari filem tersebut.

Sore hari tadi, di tengah-tengah proses saya menamatkan artikel sepanjang dua puluh empat halaman itu, Forum Lenteng melakukan rapat mingguan. Namun, rapat ditunda sekitar setengah jam karena pengurus harian yang lain belum datang. Sembari menunggu ini, kami berbincang-bincang tentang perkembangan komunitas seni di Indonesia, khususnya Jakarta. Tersebutlah nama Serrum, yang menurut penilaian dalam perbincangan kami, belum memiliki posisi tawar yang politis dalam konstelasi kebudayaan di Indonesia. Padahal, sebagian besar anggota mereka adalah sarjana pendidikan (guru).

Sebagaimana pendapat Hafiz dan Diki, sebenarnya Serrum memiliki potensi yang sangat kuat. Seharusnya, dalam setiap agenda kebudayaan mereka, Serrum selalu menempatkan isu pendidikan sebagai perspektif utama—sebagaimana Forum Lenteng menempatkan filem, video, sinema dan media sebagai perspektif dalam mengulas berbagai isu.

Dari bahasan itu, topik pembicaraan berpindah ke pertanyaan, “Apakah ada komunitas lain di Indonesia yang memiliki ketegasan dan konsistensi perspektif pada ranah sektoral tertentu seperti yang dilakukan Forum Lenteng terhadap media?”

Saya tak mendapat jawaban yang pasti dan tegas. Saya sempat menyinggung soal ranah arsitektur. Hafiz sempat menyebut bahwa ada komunitas yang berpegang pada perspektif ilmu arsitektur dalam kegiatan mereka, tetapi tidak bertahan lama. Lagipula, menurutnya, lingkungan dan gaya hidup arsitek terkesan ekslusif, dan jarang di antara mereka yang terjun ke wilayah aktivisme. Mengapa—kita bisa sadari bahwa ketika ada pembangunan tertentu di kota yang kemungkinan besar memiliki dampak sosial, jarang sekali ada komunitas arsitek yang bersuara—demikian? Sebab, jika mereka ‘bersuara’, mereka akan kehilangan lahan. Dan celetukan yang membuat kami semua tertawa, yang berkali-kali diulang sebagai bahan lelucon, tetapi bukan akhir dari obrolan—tetapi akan menjadi penutup dalam tulisan saya kali ini—adalah jika ingin menyalahkan ruang publik Jakarta penuh masalah, “Ya salahkan arsitek!” seru Hafiz.

TandaTangan_latar_transparant

07-20-2014_Memburu Ikan
foto setengah hari dikali tujuh

Setengah Hari Dikali Tujuh

20 Juli, 2014. Hari ini benar-benar boros. Saya menghabiskan waktu dari kemarin hingga pukul setengah dua belas siang tadi untuk mencari bahan tulisan The Uprising. Sejauh ini, bahan-bahan yng saya kumpulkan cukup meyakinkan. Apalagi, saya juga menemukan artikel berjudul “The Revolution Will be Uploaded: Vernacular Video and the Arab Spring” oleh Peter Snowdon, dalam Jurnal Culture Unbound (Vol. 6, 2014). Saya rasa, tulisan si sutradara filem ini bisa menjadi acuan untuk membaca pemikirannya sehingga membantu saya membedah filem itu ke dalam artikel kuratorial.

Saya, secara pribadi, mulai mempertimbangkan untuk membandingkan pengertian antara “revolusi” dalam gagasan montase Rusia (Eisenstein dan Vertov) dan “revolusi” dalam gagasan Snowdon (dan mungkin juga Farocki). Eisenstein mungkin lebih banyak mengulas ‘efek visual’ sementara Vertov mengedepankan “kesadaran mata” atas “mesin”, dan karya-karya mereka, agaknya, di mata saya lebih bersifat fiktif meskipun unsur dokumentari tetap menjadi salah satu pendekatan mereka—sementara beberapa orang tetap men-dewa-kan Vertov sebagai salah satu pelopor dokumenter eksperimental dunia—dan Diki mengingatkan saya bahwa menarik hubungan antara filem The Uprising dan montase Rusia perlu berhati-hari. Satu lagi, yang perlu saya cermati, UTM menyatakan bahwa Eisenstein bukanlah avant-garde.

Hari ini benar-benar boros karena setelah mencari bahan itu, saya benar-benar tepar dan terbangun ketika berbuka puasa. Ah!

Saya mencoba sedikit mengalihkan perhatian terhadap PR yang berat ini dengan membuat karya video baru untuk blog. Saya ingin bercerita tentang kucing yang memburu ikan di dalam kolam. Lagi-lagi sotoy, saya mencoba bermain-main dengan susunan gambar, saya berusaha menghadirkan “dimensi ketiga” di kepala penonton melalui sajian “cahaya mata” mata si kucing di antara kepanikan seekor ikan yang menghindari cahaya lampu kamera android saya. Setelah saya tonton ulang, saya belum menyentuh benar-benar “dimensi ketiga” Eisenstein itu. Ah!

Hari ini benar-benar boros. Sekarang sudah pukul setengah sebelas malam. Saya harus segera membuka artikel “revolusi akan diunggah” itu untuk mulai menyelami pemikiran Snowdon. Hanya tinggal seminggu lagi, esai kuratorial ini harus selesai. Semuanya harus selesai dalam waktu setengah hari dikali tujuh.

Dan hanya ada tujuh orang di Forum Lenteng sekarang ini—setahu saya—yakni Gesya, Dina, Ryan, Bunga, Diki, UTM dan saya. Ryan, Bunga, Diki dan UTM [mungkin] juga sedang serius mengerjakan esai mereka masing-masing.

Baru saja saya akan menyelesaikan tulisan ini, UTM muncul dari tangga dan berseru, “Yah, Zikri, rokok lu najooong!”

TandaTangan_latar_transparant

07-19-2014_Rak Buku
Diakses dari Foto akun Facebook Peter Gould yang dibagi oleh JJ Rizal

‘Menjaga’ Jurnal Harian

19 Juli, 2014. Hari ini, saya saya menonton filem Harun Farocki & Andrei Ujică, berjudul Videogramme Einer Revolution (dalam Bahasa Inggris: Videograms of Revolution, tahun 1992). Hafiz merekomendasikan filem ini untuk saya tonton sebagai pembanding dalam mengkritisi filem Peter Snowdon, The Uprising (2013). Kesan saya setelah menonton filem Farocki itu pertama kali: jungkir balik 360 derajat. Saya semakin pusing. Hahaha!

Setidaknya, saya harus bisa memaparkan montase dari masing-masing filem itu dan menariknya ke persoalan “media oleh masyarakat dalam gejolak gerakan sosial”. Hafiz sempat menyebut kata kunci: ‘pola dramatik’—yang oleh UTM disebut dengan istilah “pola dramaturgi”. Yang menarik, celetukan UTM kemarin pagi, “Filem pada umumnya menurut gue justru memiliki dramaturgi yang datar. Yang memuncak itu justru filem-filem avant-garde, seperti Maya Deren.” Celetukan ini justru berbeda dengan pemaparan Hafiz bahwa umumnya filem memiliki pola dramatik yang memuncak, dan dia melihat hal yang berbeda pada filem The Uprising.

“Setiap footage dalam filem itu memiliki peran yang sama,” ujar Hafiz. Peryantaan itu menjadi teka-teki yang harus saya pecahkan. UTM sendiri belum mau memberi komentar mengenai karya Snowdon itu. “Ga apa kalau lu mau sotoy, yang penting tulis dulu!” kata UTM memberi semangat.

Sekarang ini, saya masih mencari-cari berbagai sumber literatur untuk mendukung argumentasi saya mengenai The Uprising—tetapi sembari mengingat kata UTM, “Jangan mencari sumber literatur untuk pembenaran argumen kita! Itu keliru. Kecuali jika kita ingin mengkritisinya.”

Menonton filem Farocki ternyata lebih memberatkan ketimbang Snowdon. Tapi, bagaimanapun caranya, kedua filem ini harus bisa saya taklutkan! #asyek

***

Pukul enam sore tadi, saya mulai berselancar di facebook—setelah sebelumnya sempat menghubungi Ageung. Katanya, ia sekarang berada di Cicurug menyaksikan pementasan teater temannya.

Ketika baru pertama kali membuka home page, saya melihat akun JJ Rizal mempublikasi sebuah foto yang mengilustrasikan perbedaan antara ‘orang sukses’ dan ‘orang gagal’. Dalam ilustrasi itu, kriteria umum orang sukses, yang paling menarik perhatian saya, adalah: mempunyai jurnal harian dan daftar-daftar “proyek” (atau agenda kegiatan yang akan dilakukan).

“Wah, benar sekali ini!” ujar saya dalam hati ketika memperhatikan ilustrasi tersebut.

Saya sendiri, meskipun belum layak dibilang sukses, sedang mencoba melakukan itu menjadi suatu kebiasaan: mengelola jurnal harian sendiri (di blog ini) dan menargetkan beberapa hal yang harus saya capai. Salah satunya, proyek 365 ini, yang walaupun bukan untuk apa-apa selain kebutuhan untuk produktif setiap hari.

***

Rencananya, hari ini saya dan Lulus akan siaran di Radio akumassa, tetapi Yoyo (atau pasukan Visual Jalanan lainnya) yang menjadi operator radio, belum terlihat batang hidungnya. Sementara itu, Lulus sudah siaga di ruang tengah (saya menulis ini di perpustakaan Forum Lenteng).

Oh iya, harus ada dua video yang harus segera saya sunting malam ini: 365 hari kemarin dan 365 hari ini.

#asyek

TandaTangan_latar_transparant

07-18-2014_Taksi
Foto ini diambil dari album Halaman Papua Gelar Soemantri

Setelah Acara

18 Juli, 2014. Hari yang sibuk karena penayangan video dokumenter hasil kerja di Papua selama Bulan Februari hingga Juni, 2014, diselenggarakan di GoetheHaus. Pada persiapannya, terdapat beberapa kelalaian fatal yang juga disebabkan oleh kondisi jalan yang begitu macet. Namun, secara keseluruhan, acara tersebut berjalan lancar. Saya juga mendengar kabar dari Hafiz bahwa kemungkinan besar proyek Papua ini akan terus dilanjutkan hingga Bulan Desember.

Umumnya, para hadirin yang menyaksikan tujuh video dokumenter yang kami pilih untuk ditayangkan, mengapresiasi dengan pujian dan pertanyaan kritis. Salah satunya, yang paling saya ingat, adalah pertanyaan tentang kendala-kendala yang kami—para fasilitator: saya, Gelar, Paul, Siba, Komeng dan Diki—hadapi selama berada di Papua. Gelar menjawab bahwa kendala yang paling utama adalah “bagaimana supaya tidak terjebak dalam eksotisme dalam melihat Papua”, sedangkan Paul menjawab “siasat dalam bernegosiasi dengan situasi dan kondisi di Papua”, sementara saya sendiri menjawab “bagaimana membangun kepercayaan dengan kawan-kawan Papua dalam melakukan kerja berjejaring secara bersama-sama”.

Pertanyaan kritis juga muncul dari seorang teman saya yang sengada datang untuk menyaksikan. Sarah, namanya, memberikan pertanyaan: “What’s next?”

Yuki, Manajer Program Media Untuk Papua Sehat, dan Pak Firmansyah, perwakilan dari KINERJA-USAID, memaparkan langkah-langkah teknis tentang keberlanjutan kerja Media Untuk Papua Sehat, seperti misalnya pendampingan bagi komunitas-komunitas lokal di Papua serta distribusi hasil kerja mereka dalam pelatihan tersebut. Sementara saya sendiri, mencoba memberikan jawaban yang lebih bersifat gagasan. Yakni, program-program yang digagas oleh Forum Lenteng bukanlah bertujuan “memberikan” solusi, tetapi lebih kepada aksi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap sistem sosial-budaya yang ada di negeri ini. Dengan kata lain, goal-nya adalah memberikan dan menempatkan masyarakat pada posisi yang mampu mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang ada. Artinya, “What’s next?” harus dijawab dengan “Meningkatkan posisi tawar komunitas melalui beragam produksi dan distribusi informasi/pengetahuan yang mereka lakukan sendiri agar bisa mempengaruhi kebiajakan-kebijakan yang ada sehingga terciptalah suatu rumusan atas solusi alternatif bagi penanggulangan berbagai masalah sosial dan budaya”.

Yang sungguh sangat disayangkan oleh saya secara pribadi pada hari ini adalah tidak turut sertanya Ageung menghadiri acara tersebut. Siang hari sebelum kami berangkat menuju Godangdia, Ageung mendapat kabar duka dari keluarganya bahwa sang nenek telah berpulang. Ageung memutuskan untuk segera kembali ke Parungkuda, sore tadi, untuk menghadiri acara pemakaman sang nenek di Parakansalak. Semoga amal dan ibadah Mak Aji diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Dukungan dan simpatiku selalu untuk Ageung.

Selesai acara di GoetheHaus, rombongan Forum Lenteng kembali menuju markas dengan taksi (beberapa ada yang mengendarai motor). Saya dan Yuki menaiki taksi yang sama. Setelah berbincang sedikit soal acara yang baru saja lewat—saya juga sambil merekam suasana jalan menggunakan android milik saya—saya merebahkan diri di kursi belakang, tidur. Saya terbangun ketika taksi sudah berada di depan kantor Forum Lenteng.

Setelah ini, bukan berarti selesai. Masih ada banyak PR yang harus dikerjakan, terutama untuk menyiapkan Arkipel 2014. The Uprising, harus saya tonton berulang-ulang sebelum menulis tentang filem itu.

TandaTangan_latar_transparant

07-17-2014_Jemuran Malam Hari
foto dengan elektronik

Dengan Elektronik

17 Juli, 2014. Tadi saya bangun kesiangan. Pukul satu lewat saya baru terjaga. Di studio Forum Lenteng, ada Paul yang masih mendengkur. Di ruangan perpustakaan lantai dua, depan ruangan kerja akumassa, sudah ada Enji di depan laptop. Di lantai bawah, di ruang tengah Forum Lenteng, sudah ada Hafiz di depan laptop. Di teras belakang, sudah ada Ageung yang sedang membaca Agatha Christie.

Beberapa menit kemudian, Hafiz mengingatkan saya soal ketersediaan buku tamu untuk acara penayangan karya video-video dokumenter tentang Papua di GoetheHaus besok. Ini kebutuhan printilan, tetapi penting. Karena, dari kesiapan inilah keuletan si penyelenggara diuji cara mereka mengemas acara. Untung saja, tak lama setelah Hafiz mengingatkan itu, Andang datang. Saya memintanya mendesainkan bukut tamu yang bagus. “Cukup cover dan satu halaman kolom tandatangan, kelar!” ujar Andang.

Sekitar pukul tiga sore, saya berangkat menuju Depok. Saya berencana mengambil persediaan baju di kosan sekaligus menjilid buku tamu dan membeli amplop. Nah, sore tadi itu, Ageung kembali ke ruangan akumassa untuk tidur sembari menunggu Otty, sedangkan Vina sudah duduk di meja kerja akumassa menghadapi laptop. Rencananya, mereka berdua akan mulai mengerjakan filem dokumenter tentang Parungkuda—filem ini disutradarai oleh Otty dengan melibatkan Robert (dari Sarueh Padangpanjang), Enji dan Ageung. Di ruangan perpustakaan sudah ada Komeng juga. Saya sempat mendengar suara Bunga, tetapi batang hidungnya tak kelihatan.

Hari-hari di Forum Lenteng memang selalu penuh dengan interaksi antara manusia dan laptop. Bukan hal yang aneh. Ruang lingkup kerja di media, menyebabkan para pelaku seni di sini harus selalu membutuhkan akses internet untuk mendukung kinerja masing-masing—dan saya rasa semua orang, kelas menengah ke atas, terutama, pasti memiliki durasi interaksi yang luar biasa dengan elektronik, seperti laptop itu.

Baterai ponsel saya habis sehingga terpaksa saya tinggal di Forum Lenteng untuk diisi daya. Jadinya, saya berjalan menuju Depok tanpa membawa satu pun perangkat elektronik.

Jalanan macet. Butuh waktu setengah jam dari Tanjung Barat menuju Depok. Setibanya di Jalan Sawo yang dari Jalan Margonda mengarah ke pintu masuk Stasiun Universitas Indonesia, saya langsung mencari toko fotokopi yang masih buka. Materi buku tamu yang harus dijilid saya titipkan di salah toko yang letaknya paling ujung dan berjanji akan mengambilnya pukul enam sore.

Dari Stasiun Universitas Indonesia, saya sengaja berjalan kaki menelusuri jalanan aspal di kompleks Kampus UI. Dari depan kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, saya masuk ke kampus Fakultas Ilmu Budaya, terus menelusuri Jembatan Teksas, mampi sebentar ke ATM yang ada di kampus Fakultas Teknik. Saya mengambil uang untuk bayar yang bulanan kosan. Hal ini cukup ampuh untuk berbasa-basi dengan Pak Kos yang jarang saya temui karena hampir setiap hari saya bermalam di Forum Lenteng.

Saya sempat tertidur di kosan. Azan maghrib dan hiruk-pikuk penghuni kosan yang berbuka puasa yang membangunkan saya. Saya segera mandi, mabil baju seperlunya—dan sebuah kemeja untuk digunakan besok—lalu berangkat lagi menuju Jalan Sawo untuk mengambil buku tamu yang sudah dijilid. Kali ini, saya menaiki ojek karena takut toko fotokopinya keburu tutup.

Setiap ruas jalan ramai oleh padagang takjil. Wajah-wajah orang datar. Mungkin semuanya lelah karena kerja seharian. Benar-benar datar, atau memang seperti itulah yang tertangkap di mata saya.

Seusai mengambil buku tamu yang sudah dijilid itu, saya berjalan pelan di Jalan Sawo, memperhatikan setiap tokok yang satu per satu mulai menutup lapak. Di Jalan Sawo, ada banyak penjual buku, baik yang bekas maupun yang baru (tapi duplikat-an alias bajakan). Saya jadi teringat buku novel Dataran Tortila milik akumassa yang hilang entah kemana. Kabar terakhir yang saya dengar, buku itu berpindah tangan dari Pepe ke adik saya. Saya sempat berniat ingin membeli buku yang baru saja, tapi tidak jadi karena persediaan uang di saku tak cukup. Saya harus membeli kertas A4 80 gram dan setumpuk amlop. Di Jalan Sawo, toko-toko fotokopi sudah tutup dan biasanya juga tak menjual kertas dan amplop. Artinya, saya harus menuju toko besar Gramedia, yang kemungkinan besar harganya begitu mahal.

Saya sering kesal mengapa harga barang-barang di Gramedia begitu mahal? Buku-buku untuk kebutuhan sekolah dan kuliah juga mahal luar biasa. Wajar saja ada banyak ‘pembajak’ buku di Jalan Sawo yang merupakan salah satu kampung mahasiswa paling ramai. Kami membutuhkan akses pengetahuan dari buku itu dengan harga yang murah. Masalahnya, pengusaha yang memonopoli distribusi buku-buku original, seperti Gramedia itu, tidak pernah memberikan harga yang murah.

Saya tak berlama-lama di Gramedia meskipun ada dua tiga orang pengunjung yang menarik perhatian saya. Dari Gramedia, saya langsung meluncur dengan menaiki angkot nomor 19 (warna merah) jurusan Depok – Kampung Rambutan, menuju Tanjung Barat, ke Forum Lenteng.

Setibanya di Forum Lenteng, saya melihat Andang sedang berbicara via ponsel di teras depan. Dari pintu pagar, saya melihat Gelar sedang serius di depan komputer, di ruang redaksi Visual Jalanan. Di ruang tengah, Hafiz tidak berpindah tempat, masih serius di depan laptop. Di teras belakang, Ageung masih membaca buku yang menceritakan tokoh Hercule Poirot itu sembari makan bakso. Di lantai atas, di ruang perpustakaan, Enji, Bunga dan Bobi juga serius di depan laptop. Di ruang studio, Ugeng sedang bermain-main dengan ‘digital web’, di depan komputer. Di sebelahnya, ada Paul dan Komeng yang sedang me-review video-video dokumenter Papua, juga di depan komputer.

Ya, apa yang bisa saya simpulkan dari empat setengah jam tanpa elektronik? Tak ada. Karena sekarang, saya juga terbawa arus kebiasaan, kembali berinteraksi dengan layar komputer ini.

TandaTangan_latar_transparant