jurusan kuliah 2

Kritik untuk “Jurusan Kuliah”

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman mengabarkan adanya suatu proyek webblog yang mencoba mengemas informasi ringan, berkaitan dengan bidang studi atau jurusan di tingkat sekolah tinggi (perkuliahan). Proyek ini menarik: menerapkan pendekatan jurnalisme warga dan metode pesebaran informasi melalui jejaring di dunia maya, menghimpun cukup banyak cerita dari kalangan mahasiswa/alumni yang mempunyai pengalaman kuliah di kampusnya masing-masing. Hingga kini, ada sekitar 75 kategori jurusan kuliah yang telah dicantumkan dalam blog itu —http://jurusankuliah.tumblr.com/— dan beberapa kategori telah memiliki lebih dari dua artikel informasi.

Jurusan Kuliah

Proyek “Jurusan Kuliah” patut mendapat perhatian kita. Saya menduga-duga, jika proyek ini dilakukan secara konsisten, tak pelak lagi kesuksesannya akan menyerupai Proyek Card to Post yang heboh setahun-dua tahun silam. Proyek semacam ini berpotensi menjadi ensiklopedia warga —meskipun dalam konteks ini, sumber informasinya berasal dari kalangan tertentu: mahasiswa— yang lebih elegan: menghemat begitu banyak waktu dan tenaga, tetapi mendidik masyarakat untuk lebih peka terhadap informasi dan, tentunya, media. Paling tidak, saya membayangkan suatu masa dikala kita, atau lebih tepatnya pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), tak akan lagi bertemu dengan kakak-kakak atau abang-abang berjaket almamater universitas kelas wahid, yang datang ke sekolah-sekolah di daerah asal mereka untuk mempromosikan kampus tempat mereka berkuliah.[1] Proyek “Jurusan Kuliah” berpeluang membuka akses yang lebih luas dengan sudut pandang yang beragam, di samping mendidik para mahasiswa yang menjadi narasumber itu untuk menulis narasi dan gagasan mereka secara lebih terstruktur. Harapan muluknya, ketika kegiatan “promosi kampus ke SMA-SMK” itu tak lagi populer karena kalah saing dengan Proyek “Jurusan Kuliah”, para mahasiswa yang tergabung dalam paguyuban-paguyuban daerah itu akan memutar otak untuk menggagas program baru yang lebih menarik dan edukatif, bukan sekadar ‘memamerkan jaket almamater’ atau ‘rapat besar tahunan’ yang berbuntut kegiatan foya-foya dan menghasilkan ratusan foto narsis tanpa informasi.

Itu faktor-faktor penegas akan pentingnya Proyek “Jurusan Kuliah”, yang secara tidak langsung, akan berimplikasi pada gaya kegiatan-kegiatan mahasiswa yang berhubungan dengan ‘promosi kampus’. Namun, adakah faktor lain yang perlu kita antisipasi agar cita-cita ideal itu tak hilang begitu saja ditelan waktu?

Terkait hal ini, saya justru sedang menyoroti konten informasi dan bentuk pengelolaan redaksi yang dimiliki oleh pengelola Blog “Jurusan Kuliah”. Bagaimana pun, ketika kita telah memutuskan terjun dalam ranah kegiatan media, bahkan untuk sekelas ‘blog gratis’ pun, sudah sepatutnya kita mempertimbangkan standar-standar redaksional dari terbitan yang akan dimuat. Ini perlu dipertimbangkan agar informasi yang dikonsumsi oleh pembaca dapat menyasar inti permasalahan —sekaligus menjawab pertanyaan: mengapa informasi ini perlu dibuat?.[2]

Sejauh ini, tidak ada yang salah dengan artikel-artikel yang telah dimuat di Blog “Jurusan Kuliah”. Akan tetapi, saya berpendapat bahwa pihak pengelola harus mulai mempertimbangkan semacam agenda seting atau kerangka wacana tertentu. Pertanyaan mendasar: apakah Proyek “Jurusan Kuliah” hanya akan berhenti di titik “penghimpun informasi” baku/kasar/permukaan yang serta merta selesai? Jika memang itu tujuan awal penginisiasian proyek itu, kita tak perlu berpikir lebih jauh. Tapi jika kita mengharapkan proyek ini menjadi katalisator atau amplifier bagi terwujudnya era yang saya utarakan di paragraf kedua dalam tulisan ini, Proyek “Jurusan Kuliah” harus mampu membentuk opini publik sebagaimana media massa bekerja —lebih tepatnya, membentuk secara baru ‘cara pikir’ yang selama ini, menurut saya, cacat di kalangan para pelajar-calon-mahasiswa. Ini penting, dan mendesak. Sebab, generasi muda kita masih terkurung dalam paradigma ‘kampus sebagai tempat singgah sebelum kerja’, termasuk juga masih dipengaruhi pihak-pihak terdekat (keluarga, teman, media massa, dsb.) yang mewarisi trauma ‘kurikulum pendidikan’ rezim lama yang menganaktirikan kodrat ilmu pengetahuan.

Menurut amatan saya, bentuk narasi yang dimuat Blog “Jurusan Kuliah”, umumnya, menginformasikan keunggulan dan keunikan bidang studi yang diulas dalam artikel-artikelnya. Penggunaan bahasa komunikasi sehari-hari yang terepresentasi dalam tulisan seakan menjadi jurus jitu untuk menarik pembaca, juga menjadi semacam gaya khas ala blogger. Cara ini meningkatkan unsur kedekatan dan keintiman informasi itu sendiri terhadap pembacanya, tetapi berpotensi pula menghilangkan ‘kegurihan’ ulasan dan menyimpangkan inti masalah jika tak berhati-hati menakar bumbu —dan tentu saja, takaran ini adalah tanggung jawab redaksi.

Aspek lain yang saya rasa perlu untuk diperhatikan ialah visi dari artikel yang dimuat. Banyak dari artikel yang telah dimuat oleh Blog “Jurusan Kuliah” ini menginformasikan “peluang kerja” yang dimiliki bidang studi tertentu. “Peluang kerja” ini, tentu saja, penting untuk diketahui oleh calon mahasiswa, tetapi akan menjadi bumerang yang memunculkan sesat pikir —yang lagi-lagi akan mengembalikan kita ke paradigma ‘kuliah sebagai tempat singgah sebelum kerja’— mengenai unsur dasariah dari ilmu pengetahuan yang digali dalam bidang studi yang dimaksud. Padahal, kita berkewajiban menanamkan pola pikir kepada generasi muda bahwa ilmu pengetahuan bukan didapatkan untuk kebutuhan ‘pekerjaan (profesi)’, melainkan ‘karya’. Adalah suatu kewajiban bagi setiap penulis artikel untuk mengungkai sejelas-jelasnya kepada pembaca beragam kemungkinan dan kontribusi baru dari manfaat ilmu pengetahuan yang dimaksud bagi peradaban. Bukankah peradaban ini diletakkan di pundak generasi muda? Pemuda harus ingat ini setiap saat, daripada mengkhawatirkan karir dan perut di masa setelah empat, lima, atau enam tahun kemudian. Dengan kata lain, informasi mengenai jurusan kuliah, harus disisipi visi ideologis bidang studi itu sendiri dalam wacana ilmu pengetahuannya, bukan semata-mata deskripsi administratif.[3] Penginformasi harus mampu membuka cakrawala berpikir para calon mahasiswa yang mencari informasi, bukan semata-mata ‘menenangkan’ kekhawatiran mereka.[4]

Selain itu, sebagai salah satu cara untuk sampai pada titik media yang mampu membangun “wacana perkuliahan”, juga sebagai penegas adanya daya kekuatan ‘jurnalisme warga’ pada proyek ini, redaksi Blog “Jurusan Kuliah” harus mampu menyajikan artikel-artikel yang merekam realitas kampus yang sebenar-benarnya. Sebab, kampus atau bangku kuliah tidaklah sebatas unik-dan-kerennya mata kuliah, tetapi lebih luas hingga ke wilayah bagaimana kehidupan perkuliahan itu akan dijalani dan menempa kedewasaan si calon mahasiswa. Informasi yang disajikan harus menggambarkan secara komperhensif pola dan dinamika kehidupan (mulai dari aktivitas perkuliahan, aktivitas organisasi intra/ekstra, lingkungan alumni, perdebatan-perdebatan intelektual, hingga ke posisi tawar sosial-politik-budaya-ekonomi bidang studi itu dalam konstelasi pembangunan bangsa dan negara) di jurusan yang ditawarkan/dipromosikan. Bahkan, perlu juga dibingkai aspek-aspek ‘kelam’ kehidupan kampus, yang masih sarat dengan diskriminasi, sentimen kelompok, perploncoan (bully), sistem pengajaran, dan juga KKN.

Hal-hal semacam ini perlu disajikan oleh “Jurusan Kuliah” guna menunjukkan standpoint-nya sebagai media yang menaruh perhatian pada soal sistem sekolah tinggi di Indonesia; media ini pun, pada akhirnya, akan menjadi corong alternatif bagi para mahasiswa/alumni (para penulis/penginformasi) untuk melancarkan kritik secara intelektual kepada pemangku kebijakan, sekaligus juga mendidik dan meningkatkan kesadaran para konsumen informasinya tentang masalah utama yang ingin diselesaikan oleh Proyek “Jurusan Kuliah” itu sendiri: Pendidikan.

Untuk memenuhi target-target yang telah dipaparkan itu, redaksi Blog “Jurusan Kuliah”, mau tidak mau, harus mencanangkan beberapa ketentuan redaksionalnya, menerapkan proses pilah-memilah, dan menganggarkan semacam opini redaksi (editorial) yang membungkus sajian informasi-informasi yang akan diterbitkannya. Dengan demikian, etalase narasi tentang jurusan kuliah ini pun dapat terpajang dengan apik setelah melalui proses kuratorial yang cermat.

Tak ada bedanya dengan kerja media arus utama? Ya, tepat! Sebab, memang seperti itulah seharusnya media bekerja. “Jurusan Kuliah” menyadari dirinya sebagai media, atau tidak?

Jakarta, 1 September, 2014
Manshur Zikri

_________________________________________________

[1] Di satu sisi, kegiatan promosi kampus semacam itu, sebutlah UI Goes to Riau sebagai salah satu contoh, mengandung nilai positif karena melatih para mahasiswa-baru-kuliah (biasanya, panitia penyelenggara kegiatan ini adalah maba) untuk tampil ke hadapan publik pelajar SMA, menyajikan semacam presentasi ringkas-bernas mengenai ide-ide mereka (dalam hal ini: kualitas kampus mereka). Akan tetapi, di sisi lain, pada masa sekarang, saya rasa kegiatan-kegiatan seperti ini justru mubazir. Sebab, selain membuang banyak biaya —pada kenyataannya, berdasarkan amatan dan pengalaman pribadi saya sendiri, minimnya bantuan pemerintah daerah untuk kegiatan itu menyebabkan mahasiswa menggantungkan harapan pada kegiatan ‘danus’ (dana usaha) yang tak seberapa, alih-alih menghabiskan uang saku pribadi untuk pulang kampung demi membela kesempatannya tampil di sekolah asalnya itu— belum ada penelitian sahih yang menunjukkan hubungan signifikan antara “presentasi promosi kampus oleh mahasiswa dari paguyuban daerah (atau panitia sejenisnya)” dan “peningkatan pemahaman calon mahasiswa (pelajar) atas bidang studi yang akan dipilih di bangku kuliah” (atau, sejauh ini saya belum menemukan itu). Selain itu, kadangkala kesempatan untuk promosi ini memunculkan praktik diskriminatif: SMA yang menjadi target biasanya hanya menerima universitas-universitas ternama, sedangkan universitas yang kalah pamor jarang mendapat kesempatan dan akses yang sama. Artinya, kegiatan ini memang hanya sebatas selebrasi dan seremonial belaka, alias buang-buang waktu. Lagi-lagi, kita berhadapan dengan fenomena timpangnya arus informasi.

[2] Kita bisa belajar pada Wikipedia. Media informasi/pengetahuan super bebas ini, yang ditolak mentah-mentah oleh kalangan akademisi karena keakuratan kontennya, lambat laun mulai berbenah diri. Pengelolanya, saat ini, telah menetapkan beberapa aturan redaksional agar para penulis dunia maya lebih berhati-hati menuliskan informasinya. Konten yang dimuat pun, bahkan, secara terus-menerus dikontrol dan diperbaharui mengikuti perkembangan terkini. Saya memang tidak memiliki bukti dokumen yang menyatakan ini, tetapi saya secara pribadi berani mengklaim hal itu dengan menilai konten dari Wikipedia. Dalam beberapa kesempatan, saya justru mendapati bahwa sumber dari Wikipedia lebih relevan dan valid ketimbang jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh universitas-universitas dalam negeri.

[3] Saya istilahkan sebagai ‘deskripsi administratif’ karena informasi “peluang kerja” itu serupa dengan lembaran-lembaran iklan promosi kampus-kampus yang mengunggulkan program-program studinya.

[4] Dan tentu saja, artikel-artikel ini tidak boleh, atau bahkan mutlak tidak boleh, menjadi ajang pamer atau arena tanding untuk mengunggul-unggulkan jurusan si penulis, apalagi dilatarbelakangi oleh niat untuk menghimpun sebanyak-banyaknya mahasiswa baru yang berbuntut pada motif keuntungan (pihak kampus).

07-31-2014_Komputer Langit
IMG_20140731_12294072

Mem-bakwan Sumatera Usai Ziarah ke Makam Oma

Di tulisan kemarin, nenek yang saya maksud adalah ibu dari ibu. Sedangkan di tulisan ini, nenek yang saya maksud adalah ibu dari ayah. Tadi siang kami sekeluarga (tanpa Bang Hauza, karena dia harus merawat anaknya yang baru berumur sekitar dua minggu) mengunjungi makam Oma.

Terakhir kali saya bertemu Oma adalah setahun yang lalu, juga pada Bulan Ramadhan dan suasana lebaran. Beberapa bulan kemudian, di Jakarta saya mendapat kabar dari Pekanbaru bahwa Oma meninggal, meninggalkan Opa yang sekarang terbaring sakit di rumahnya sendiri. Terkait kesendirian Opa ini, juga menjadi masalah yang mengesalkan. Sebab, anak-anak Opa seakan tak ada yang peduli dengannya. Ayah saya pernah menawarkan supaya Opa tinggal di rumah Dahlan Magek (ayah dari ibu) yang berada di Jalan Pepaya, sedangkan rumah yang di Jalan Sepakat (rumah Opa) diserahkan saja ke orang lain untuk mengurus kebersihan. Akan tetapi, usul ini ditolak Opa. “Bagaimana pun, lebih senang tinggal di rumah sendiri,” ucapnya. Ibu pernah mengusulkan supaya ia dan suaminya tinggal di rumah sang mertua supaya bisa mengurus pola makan Opa, tetapi usul itu ditolak ayah demi menghindari pergunjingan yang tak diinginkan dari pihak keluarga ayah, kakak-beradik. Sebab, di masa ketika Opa sakit ini, apalagi setelah meninggalnya Oma, percekcokan keluarga soal harta warisan menjadi demikian sensitif. Ayah tak mau ibu dituduh “menjilat” agar kebagian harta warisan. Saya pun yakin, tak mungkin ibu dan ayah ‘gila’ harta warisan. Saudara yang tinggal di rumah Opa (kakak ayah) sepertinya setengah-setengah merawat Opa. Kasihan, Opa. Setiap kali saya ke sana untuk menjenguknya, rasa sedih yang didapat.

Hal itu berkecamuk di dalam kepala saya selama berada di makam. Terlebih lagi, ketika melihat bunga hiasan yang terbuat dari bahan plastik ditancapkan di pusara Oma. Sebegitu merepotkannya kah mengurus “manusia tua” hingga menancapkan tetumbuhan alam pun dihindari supaya tak repot menyirami. Berjalan menuju mobil, saya hanya melantunkan ayat doa untuk jenazah, sembari mengumpati diri yang tidak bisa apa-apa mnghadapi masalah ini. Percekcokan keluarga besar, memang, selalu berada di luar kemampuan saya untuk menyelesaikannya, entah mengapa.

Di perjalanan menuju rumah, perbincangan kami pun tak jauh dari percekcokan keluarga yang sedang terjadi. Kali ini, dari pihak ibu. Sama saja bentuknya.

Bahkan, masalah itu pun menjadi bumbu ketika kami menuntaskan rasa lapar di warung Bakwan Sumatera yang selalu menjadi pilihan jika berjalan sekeluarga. Bakwan itu biasa saja. Hanya karena letaknya di jalan yang bernama Jalan Suamtera, si pemilik usaha menamakan produknya “bakwan sumatera”: bakwan yang disajikan dengan kuah, dimakan seperti kita makan empek-empek Palembang.

Tapi toh masalah keluarga besar itu hanya menjadi bahan obrolan—yang sejatinya disesalkan, tapi dimaklumi—oleh keluarga batih saya sendiri. Kakak dan adik saya, mungkin, bisa mengesampingkan itu dulu sejenak ketka menyantap bakwan. Saya sendiri, tak bisa. Jadinya, saya hanya makan bakwan dengan ‘kehambaran’ yang tak bisa dijelaskan.

TandaTangan_latar_transparant

07-30-2014 Joget Aghy
IMG_20140730_20290872

Sekarang ke Langit

Teman saya dulu, di tengah-tengah kesibukan kami mengejar deadline skripsi, pernah mengolok-olok kebiasaan seorang dosen yang senang memotret langit di senja hari. “Tipikal dosen yang selalu galau,” ujarnya, sembari melirik ke teman saya satunya yang hingga detik itu juga galau karena belum menemukan cowok idaman.

Di era media sosial ini, ketika kita digairahkan oleh kehadiran instagram dan path, manusia mulai mengikuti gerak perilaku teknologi untuk meng-klik objek. Tak ada lagi perilaku menggambar. Semuanya mendambakan kesempurnaan semirip yang faktual. Teknologi fotografi, salah satunya, memenuhi hasrat itu. Tapi, beberapa orang di lingkungan pertemanan saya, lebih senang menjadikan langit sebagai objek.

Sebelum-sebelumnya, saya tak begitu sering melirik langit untuk dipotret. Tapi, tadi sore, langit begitu menggoda untuk saya bidik.

Beberapa jam yang lalu: Wah, ada kehebohan di ruang makan. Oh, sate sudah datang. Memang, rencananya malam ini keluarga saya di rumah akan pesta sate padang. Ada Uda Rajul, kakak sepupu—cucu tertua di keluarga besar saya—yang sedang kayak dan menjadi penyandang dana bagi terselenggaranya pesta malam ini. Yuk, lah! Kita makan sate saja.

Sekarang malam telah larut. Dua menit lagi akan berganti hari. Artikel Snowdon masih menanti untuk diselesaikan. Segera!

TandaTangan_latar_transparant

07-29-2014_Aghy Atuk dan Kebun

Masih pada Bunga

Di teras rumah saya, sekarang ada bunga-bunga yang berbeda ketika saya masih di Pekanbaru sebelum merantau ke Jakarta. Nenek saya dulu suka sekali dengan bunga. Ibu saya juga suka dengan bunga. Apalagi kakak saya, Afifah, bukan hanya bunga, tapi dia suka dengan tetumbuhan. Abang saya, Fauzan, sering meledeknya dengan sebutan ‘petani’. Dan memang, Afifah adalah petani pentolan IPB.

Kebun bunga di atas pipa paralon yang dibuat oleh ayah dan dirawat oleh ibu atas mediasi abang saya yang satu lagi, Hauza, serta dihebohkan dengan foto-foto oleh adik saya, Ade, adalah hasil usul dari kakak saya itu. Dia menjadi konsultan perkebunan yang handal di grup whatsapp. Saya juga pernah dikirimkan foto ibu ketika ‘memanen’ sayuran hasil kebun pipa paralon itu. Image daunnya menakjubkan.

Dan pada hari inilah saya ingin mengabadikan sendiri tetumbuhan itu dengan kamera android saya.

TandaTangan_latar_transparant

07-28-2014_Keramaian dan Bunga
IMG_20140728_07153272

Ke Bunga Dulu Sejenak

Di rumah, sekarang ini, saya tertarik dengan bunga-bunga. Aneh. Dulu, saya tak begitu tertarik dengan bunga-bunga meskipun sering membantu nenek membersihkan pekarangan rumah, dan merapikian rumput-rumput yang memenuhi akar-akar bunga.

Mungkin, karena saya sudah menyaksikan beberapa video karya Jonas Mekas. Sang Kakek, yang entah mengapa raut wajahnya begitu menyenangkan di mata saya (dan saya menduga-duga, beliau adalah orang yang sangat ramah), sepertinya sangat suka sekali dengan bunga. Pada tanda pengenal di beberapa video-nya pun, dia menyelipkan image bunga yang (sepertinya) digambar dengan tangan sendiri. Dia juga sering membidik dengan begitu dekat bunga-bunga yang warnanya cerah-cerah. Dia senang berpuisi dengan merekam bunga. Bahkan, dia juga pernah mengatakan bahwa untuk belajar mengkonstruksi image visual, membidik bunga dan objek lain akan memunculkan kesan tersendiri yang bisa membuat kita melompat dari kediaman.

Sejak itu, saya menjadi jatuh hati ada bunga. Betapa indah, sekarang, bunga-bunya itu di mata saya. Tubuh alam, tetumbuhan, rasanya menarik untuk dibidik menjadi karya.

Tapi, ada juga warna yang tak kalah cerah di mata saya, tadi pagi. Sala lauak. Makanan khas Suamtera Barat. Warnanya kuning. Itu pun tak luput dari bidikan saya.

TandaTangan_latar_transparant

07-27-2014_Miring di Rumah